LAKU ANGA PART 3 (Sumba, Surganya Air Terjun)

Heyho readers….. Apa kabar nih? Semoga dalam keadaan sehat walafiat dan luar biasa baik ya buds.
Indonesia kayaknya udah masuk musim panas deh. Memasuki bulan Oktober, rasanya jumlah matahari bertambah satu. Apalagi di Indonesia bagian timur, duh ga kebayang deh panasnya kayak apa.
Hari yang cerah, hawa panas kayak sekarang ini, enaknya kalo kita laku anga ke tempat yang sejuk, adem dan banyak airnya…. Yup, trip gue kali ini bakal menjelajah air terjun yang ada di Sumba Timur.
Seperti yang udah gue ceritain di Laku anga part 2 sebelumnya (baca disini), Pulau Sumba, selain dianugerahi pantai-pantai eksotis yang indah dari ujung barat sampai ujung timur, Pulau ini juga diberkahi puluhan air terjun yang kece abis. Bagaikan oase di tengah padang gurun, air terjun di pulau ini menjadi sumber mata air dan kehidupan bagi masyarakat Sumba di tengah musim kering yang berkepanjangan.
Sebelum gue ajak readers, jalan-jalan ke dua air terjun di Maidang dan Lewa, ada baiknya readers baca dulu beberapa air terjun yang udah gue kumpulin info dan gambarnya dari beberapa situs di internet. Yuk mariii
1. Air Terjun Laputi (Tabundung, Sumba Timur)
2. Air Terjun Laindamuki (Tabundung, Sumba Timur)

LA3_1

3. Air Terjun Hirumanu (Kananggar, Sumba Timur)
LA3_24. Air Terjun Kanabu Wai (Tabundung, Sumba Timur)

LA3_3
5. Air Terjun Palindi Tana Bara / Gunung Meja (Kanatang, Sumba Timur)

LA3_4udah baca kisah petualangan gue ke air terjun ini? baca disini
6. Air Terjun Mbakuhau (Kamanggih, Sumba Timur)

LA3_5
7. Air Terjun Laileru (Tandula Jangga, Sumba Timur)

LA3_6
8. Air Terjun Kalamba (Purukambera, Sumba Timur)

LA3_7
9. Air Terjun Laiwi (Lewa, Sumba Timur)

LA3_8baca juga kisah gue yg disini ya ayo klik!
10. Air Terjun Djawarai (Lewa, Sumba Timur)

LA3_9

Air Terjun Djawarai, Lewa (photo by @fariedfanany)

Air terjun ini searah ke Air Terjun Kolam Jodoh yang bakal gue kunjungin. Tapi letaknya lebih dekat dibandingkan    Kolam Jodo. Penasaran? hahahahah
11. Air Terjun Pabeti Lakera (Waitabula)

LA3_10
12. Air Terjun Waikelo Sawah (Sumba Barat)

LA3_11
13. Air Terjun Matayangu (Sumba Tengah)

LA3_12

Air Terjun Matayangu (photo by@sumbahospitalityfoundation)

14. Air Terjun Lapopu (Tanadaru, Sumba Barat)

LA3_13Lapopu ini adalah salah satu air terjun terindah yang ada di Pulau Sumba loh.
15.  Air Terjun Harangi (Sumba Tengah)

LA3_14

Air Terjun Haranggi (photo by @rambusori)

16. Air Terjun Mbola (Sumba Tengah)

LA3_15

Air Terjun Mbola (photo by @warronsah)

17. Air Terjun Harunda (Soru, Sumba Tengah)

LA3_16

Air Terjun Harunda (photo by @afreli_tanuek)

18. Air Terjun Dikira (Wewewa, Sumba Barat)

LA3_17
19. Air Terjun Koalat (Maidang, Sumba Timur)
20. Air Terjun Kolamjodo (Lewa, Sumba Timur)
Ini dia 2 air terjun yg gue sama teman laku anga gue datengin Agustus lalu. Readers penasaran gimana indahnya kedua air terjun ini? Baca terus ya
21. Air Terjun Karengi Rowa (Sumba Tengah)

LA3_20
22. Air Terjun Praikala (Mamboro, Sumba Tengah)
Air terjun ini berlokasi di desa Watu Asa, Kecamatan Mamboro, sekitar 20 km dari pusat kota Waibakul.
23. Air Terjun Wakaipori (Maradesa, Sumba Tengah)
Air terjun ini berlokasi di desa Mara Desa, kecamatan Umbu Ratu Nggay, sekitar 30 km dari pusat kota Waibakul.
24. Air Terjun Prai Ailala (Sumba Tengah)
Air terjun ini berlokasi di desa Bulu Bokat, kecamatan Umbu Ratu Nggay, sekitar 35 km dari pusat kota Waibakul.
25. Air Terjun Waibara (Moubokul, Sumba Tengah)
Air terjun ini berlokasi di desa Moubokul, kecamatan Matawai La Pawu, sekitar 40 km dari pusat kota Waingapu.
26. Air Terjun Kahalatu (Lailunggi, Sumba Timur)
LA3_21
Air terjun no 21-26 ini, memang agak susah banget dapetin infonya apalagi gambarnya. Bahkan Air terjun Kahalatu yang terdapat di Lailunggi adalah yang terparah pencahariannya. Sekalinya ketemu kata kunci, situsnya malah ga bisa dibuka dan virus pula. Cari via instagram pun dengan berbagai hashtag, hasilnya nihil. Sedangkan beberapa air terjun lainnya Cuma ada gambarnya hasil searching di google dan nemunya di websta.me sama instagram. Itupun gambarnya cuma satu-satu aja. Sedih banget…)
Masih ada yang tau ada air terjun apalagi di Sumba? Monggo di share ya….

Oke, sekarang gue bakal ngajak kalian ngeliat kecenya air terjun Kolamjodo di Lewa dan Koalat di Maidang …
Are you ready for this one? Cekidot

Air Terjun Kolam Jodo
Untuk mencapai air terjun Kolam Jodo ini, readers dapat menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam kearah Lewa dari Waingapu. Nah sepanjang perjalanan, seperti biasa kalian bakal dimanjain sama bukit-bukit eksotisnya Sumba. Dan buat readers yang belum sempat berkunjung ke Bukit Wairinding bisa singgah juga sebelum atau sesudah dari air terjun ini.
Gue sama teman laku anga gue (Jesica, Rani, dan Echo) berangkat dari Waingapu sekitar jam 12 siang dengan penuh semangat walau tak satupun dari kami berempat yang tau pasti tempat air terjun yang katanya kece itu hahahha. Setelah sampai di pertigaan Pasar Lewa (ga tau sih apa namanya pasarnya) yang dekat Mesjid, kami berhenti sejenak untuk membeli bekal (air mineral, biskuit, mi instant). Ketika kami bertanya, kepada orang-orang di sekitar tentang air terjun itu, tak ada satupun yang mengetahuinya, mereka bahkan baru pertama kali mendengar nama air terjun tersebut. Akhirnya berbekal “GPS alami” kami berempat (baca : ilmu navigasi sotoy, cari jalan pakai feeling), kami terus melaju dengan motor kami di atas jalanan berbatu putih. Saat kami diperhadapkan dengan jalan masuk kecil (belokan), kami bingung apakah harus jalan terus atau belok ke dalam jalanan itu. Tiba-tiba si Echo meluncur dengan cepat di depan. Gue kira dia tau jalannya, ternyata dia berhenti di sebuah rumah, yang ternyata adalah rumah Opanya. Kamipun bertamu untuk menanyakan jalan. Untungnya Opa sama Omanya tau air terjun yang dimaksud, katanya udah dekat, tinggal turun sedikit aja langsung nyampe. Semua langsung menghela nafas lega. Tapi gue masih ragu sama air terjun yang di maksud, soalnya ada banyak air terjun yang ada di Lewa. Dan ga tau kenapa feeling gue bilangnya itu bukan air terjun kolam jodo. Dan benar saja, saat kami hendak diantar ke tempat air terjun itu, gue nanya lagi nama air terjunnya. Ternyata benar, air terjun yang dimaksud Opa Echo adalah air terjun Djawarai bukan Kolam Jodo. Katanya air Terjun Kolam Jodo itu masih jauh lagi dari sini, kearah pantai selatan, Mondu Lambi.
Akhirnya kami melanjutkan perjalanan dengan modal bertanya pada orang yang kami temui di jalan. Saat kami berhenti di sebuah kios kecil untuk bertanya, tiba-tiba muncul belasan motor dari belakang kami yang ternyata juga pengen ke Air Terjun Kolam Jodo tapi tidak tau arahnya. Dan merekapun mengikuti kami yang juga sama-sama buta arah. Kami berjalan lurus terus sampai ke Lewa Laihau, melewati SD dan SMP Laihau, Kantor Desa, dan beberapa rumah panggung khas Sumba. Panasnya udara saat itu ditambah bolong dan rusaknya jalan, dan waktu yang terus berputar, membuat emosi kami agak-agak labil dan sedikit hopeless. Tapi kami terus bersemangat untuk menemukan air terjun itu. Belum ada tanda-tanda suara air terjun, bensin motor si Jesi menunjukkan gejala-gejala sekarat. Untung sebelum berangkat, kami sudah ke gereja. Dan Tuhan menolong kami, dipinggir jalan ada juga yang menjual bensin eceran. Tebak harganya berapa? Rp15.000/liter. Oh men, kayaknya gue bisa kaya kalo jualan bensin eceran di pelosok kayak gini nih. Dan bukan hanya si Jesi saja yang kehabisan bensin, beberapa motor anak-anak yang mengikuti kamipun bernasib sama. Mungkin itu berkat hari Minggu buat penjualnya hahahha.
Akhirnya setelah menempuh perjalanan hampir 3 jam dari Waingapu, kamipun tiba di tempat tujuan. Sebenarnya kalo tau jalan, Cuma 2 jam aja sih lama perjalanannya. Anak-anak yang mengikuti kami masih di belakang, dan belum sampai ke tempat kami. Kami parkir motor di tempat penampungan air warga sekitar. Dan berjalan kurang lebih 15 menit untuk sampai di kolam air terjunnya, melewati beberapa petak sawah yang sedang hijau. Saat menemukan kolamnya, masalah tidak berhenti disitu. Kami bingung bagaimana cara untuk turun ke kolamnya karena semua tempat sangat curam untuk dituruni. Kami keliling tempat itu hampir setengah jam hanya untuk mencari cara menuruninya. Dan di tengah hutan seperti itu kami sempat terpisah. Gue sama Rani mencari di sisi kanan, sedangkan Jesi dan Echo di sisi kiri. Dan mereka seperti menghilang tanpa jejak. Tak ada suara. Gue teriak sekencang-kencangnya memanggil Jesi dan Echo dan ga ada balasannya, malah suara gue yang kepantul balik. Can you imagine how was I feel? Udah lama di jalan, panas, eh sampai tempat tujuan kepisah sama teman loe dan ga tau cara buat turun ke kolam air terjunnya. Setelah lelah berjalan akhirnya Jesi dan Echo menampakkan batang hidungnya. Lega rasanya. Karena lelah kamipun makan mi instant dengan cara yang instant (mi nya di remes, campur bumbu, trus makan). Saat sedang menikmati mi instant, kami mendengar anak-anak yang mengikuti kami itu tengah asik bermain air di kolam air terjun. Akhirnya kami menghampiri mereka dan ditunjukkan jalan untuk turun ke bawah.
And this is Kolam Jodo Waterfall with its green pool.
LA3_22                                                                                                 Air Terjun Kolam Jodo

Agak mirip-mirip air terjun gunung meja sih bentukannya, tapi air terjunnya ini lebih kecil dan kolam airnya berwarna hijau toska. Yang bikin eksotik itu selain warnyanya yang menyegarkan mata, batuan air terjun yang ada disekitarnya itu tampak seperti stalagtit di gua. Kece banget, sumpah. Airnya yang dingin banget bikin pikiran yang udah lelah sepanjang perjalanan langsung seger kembali.
Karena udah sampai di tempat ini, maka ritual selfie pun tak terelakkan lagi… ceileh
LA3_23                                                                              Kru Kolam Jodo (Jesi, Me, Echo, Rani)

LA3_24kite lagiii

Sebenarnya agak kurang puas sih, soalnya gue Cuma bisa sejam doang menikmati kolam jodoh ini bareng teman-teman seperjalanan gue. Ga puas berselfie-ria juga soalnya harus ngantri agak lama biar dapat background yang pas. Tapi karena waktu sudah menunjukkan jam 4 sore, sudah banyak yang pulang, tapi banyak juga yang baru datang. Jadinya rame banget. Mengingat udara Lewa yang super dingin kalo menjelang malam, akhirnya kamipun bergegas pulang. Jujur sih agak kurang puas, tapi ya mau gimana lagi. Nanti gue bakal kembali ke tempat ini lagi bareng teman-teman gembelz lainnya, dan semoga aja bisanya ga pas akhir pekan… biar bisa menikmati surga ini sendirian sepuasnya.
Belajar dari pengalaman, ini gue kasih tips buat para readers yang mupeng mau main ke tempat ini :
1. pastikan bensinnya full
2. kalo bisa pake motor yang shock nya agak tinggi, biar ga cium aspal yang bolong-bolong
3. pake masker
3. bawa jaket
4. bawa cemilan
5. banyak tanya kalo ga mau nyasar.
6. berdoa sebelum dan sesudah berangkat biar aman selamat sentosa terkendali.

By the way, Air terjun yang terletak di Desa Umamanu, Lewa ini dinamain Kolam Jodo juga ga tau kenapa. Entah siapa yang menamakannya demikian. Soalnya dari beberapa pertanyaan yang ditanyain sama warga sekitar, tak ada satupun dari mereka yang tau nama air terjun tersebut. Bahkan beberapa diantaranya menertawakan kami ketika menanyakan air terjun tersebut. Mereka taunya cuma kolam aja, dan karena mereka udah sering lihat tempatnya jadi ya nothing special. Mungkin nama Kolam Jodo tercipta karena para pengunjung yang datang ke kolam itu akhirnya menemukan jodohnya setelah datang berlaku anga disitu hahahah. Entahlah, sampai sekarang itu masih menjadi sebuah misteri……

Air Terjun Koalat
Dari arah barat, kita menuju ke timur, ke Kecamatan Kambatta Mapambuhangu, Desa Maidang untuk melihat surga Belitong kecil yang terdampar di Pulau Sumba. Yup gue bakal ngajak readers semua untuk melihat kecenya air terjun Koalat yang dikelilingi batuan-batuan raksasa dan kolam hijau. Are you ready for this one?
Yuhuuu, sama seperti ke Kolam Jodo, lama perjalanan ke Maidang membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam bersepeda motor atau sekitar 70 km dari Waingapu. Tapi jangan salah, 70 km nya orang Sumba itu sama dengan ratusan km nya orang Jawa hahahah. Itu karena kondisi jalannya yang ga mulus kayak wajah artis korea (apasih)
Gue sama teman-teman gue berangkat dari Waingapu sekitar jam 11an. Sebelumnya kami membeli bekal makanan dan minuman dulu, soalnya di sepanjang perjalanan tidak ada kios / toko kecil yang menjual makanan. Jangankan kios, rumah aja adanya per 5 km. Iya, sejauh mata memandang readers hanya ditemani, awan, langit biru dan sisanya jejeran ratusan bukit.
Awal perjalanan kami masih melewati jalanan mulus beraspal yang berkelak-kelok sekitar sejam. Setelah itu kita akan melintasi jalan PHP. Jalan PHP ini maksudnya 100 m jalan berbatu putih tak beraspal, 50 m jalan beraspal. Begitu seterusnya sampai di tempat tujuan. Kita akan berjalan naik turun di atas bukit. Dan sejauh mata memandang, kiri kanan depan belakang kita hanya akan melihat seribu bukit. Dan kita berasa dekat banget sama langit.
LA3_25LA3_26
Namanya juga berjalan di atas bukit, jadi kondisi motor harus dalam keadaan baik, karena akan menghadapi turunan dan tanjakan yang sangat tajam, dan kiri kanannya jurang. Jadi kalo rem motornya ngeblong atau pengendara ga kuat nahan setir motornya, ya sudah selamat jalan hahahaha. Intinya persiapan fisik dan kendaraan harus dalam keadaan 100% baik. Cuaca yang panas pun dapat mempengaruhi fisik dan emosi kita. Karena itu sebelum kesana harus cukup tidur biar ga ngantuk di jalanan. Dan jangan lupa berdoa biar selamat sampai tujuan.
Percaya deh, kalo tulang belakang readers belum remuk atau lelah selelah-lelahnya, berarti kalian belum akan sampai ke tempat tujuan. Gue aja yang udah 2x pergi ketempat ini, setelah sampai disana langsung jalan ngangkang saking lelahnya 2 jam di atas motor. Semua badan langsung remuk. Tapi emang, setelah lihat tempatnya yang kayak surga itu, semua rasa lelah langsung hilang. Kalo ga pengen capek atau panas-panasan sih ya enaknya pergi pake mobil. Tapi ya ga berasa petualangnya sih kalo pake mobil. Kalo belum hitam belum bertualang hahahaha. It’s up to you.
Akhirnya setelah menempuh 2 jam perjalanan, gue sama teman laku anga gue sampai juga. Kami memarkirkan motor di rumah warga yang dekat air terjun.
Nah dari tempat parkirnya itu, readers harus tracking sekitar 10 menit lagi melewati sungai berbatu licin dan arusnya cukup deras, tingginya selutut (kalo musim hujan bisa sampai sepinggang orang dewasa), jalan setapak, baru ketemu air terjunnya.

LA3_24Sungai Maidang

LA3_28Pengunjung lainnya

LA3_29Air sungainya jernih banged

Ini dia salah satu air terjun kece yang ada di sumba timur…..
LA3_30Air Terjun Koalat, Maidang

Jujur, pertama kali lihat air terjunnya gue biasa aja sih. Soalnya kok ga kayak yang gue bayangin ya. Di facebook gue lihat temen gue posting fotonya keren banget ada batuan-batuan gedenya yang bagus banget.
Ternyata eh ternyata, batuannya itu ada di atas air terjunnya, dan emang ga keliatan kalo dari bawah
Taraarrrr welcome to paradise, buddyyyyy
LA3_31
LA3_32                                                                                                           I’m in Paradise

Seperti yang udah pertama kali gue bilang di awal tulisan, batu-batuan raksasanya ini mengingatkan gue sama film Laskar Pelangi. Kalo readers pernah nonton film garapan tante MirLes ini, pasti tau dong tempat yang gue maksud. Yup di pantai Tanjung Tinggi yang juga dikelilingi bebatuan raksasa yang amazing banget. Bedanya kalo disana batuannya dikelilingi pantai, kalo di Sumba dikelilingi air terjun. I wish someday I’ll be there, tapi sebelum kesana, ga ada salahnya kita menikmati surga bebatuan dulu di pulau sendiri.
Readers pengen tahu apa menariknya air terjun Koalat ini dibanding air terjun lainnya??? Ok gue bakal ngejelasin susunan surga yang jatuh ke bumi sumba (alay dikit).
Bagian paling atas air terjun ini terdapat sungai yang tenang dan hanya setinggi lutut, tapi karena dasar sungainya adalah bebatuan, maka sungainya sangat licin. Kalo ga hati-hati bisa jatuh, kayak teman gue (sebut saja namanya Rani, eh)
LA3_33
Nah selanjutnya sejajar sama sungai yang diam-diam menghanyutkan ini, terdapat gugusan batu-batuan raksasa yang tersusun sangat cantik (Tuhan itu memang arsitek alam paling luar biasa). Nah air dari sungai tersebut jatuh melalui celah-celah bebatuan dan terbentuklah air terjun yang kemudian airnya tertampung pada kolam-kolam alami yang terbentuk di bawah batuan raksasa ini.

LA3_34

Derasnya air yang turun ke bawah akan menghasilkan degradasi cahaya dan menciptakan pelangi yang tjakep abis. Jadi pelangi itu ga cuma muncul pas habis hujan aja, tapi juga sering nongol di dekat air terjun.

LA3_35foto ini judulnya : melawan matahari demi bersama pelangi!

Air yang turun dari celah batu tersebut ditampung pada kolam alami yang ada dibawahnya. Kolam berwarna hijau yang terbentuk alami ini, konon katanya memiliki kedalaman sekitar 7-10 m. Banyak para pengunjung yang sering loncat indah dari batuan raksasa ke kolam yang berjarak kurang lebih 5 m dari batuan di bawahnya. Setiap kali ngelihat orang yang loncat dari ketinggian, gue selalu menyesali kemampuan gue yang ga bisa berenang (ajarin adek latian renang dong bang, biar adek bisa berenang-renang di hati abang… eh mulai ga focus).

AL3_36Kolam Koalat

LA3_37Karena ga berani loncat, kita gaya siap loncat aja baaannngggggg!

Nah selain bisa melihat kolam hijau di bawahnya, dari atas bebatuan ini juga kita bisa melihat pemandangan sekitar yang dikelilingi banyak bukit dan pepohonan dan juga awan biru yang ditemani segerombolan awan putih yang berkejar-kejaran. Kalo readers cuma ngeliat si langit biru sendirian di atas, itu artinya cuaca lagi puanas banget. Serius, gue udah 2 kali kesana dan setiap pulang kulit gue makin eksotik (baca : gosong).

LA3_38Pasukan Cakatama

LA3_39
Berani gosong itu baik!

Kalo udah disini jangan lupa selfie ya (ga usah jaim deh, kalo ingat 2 jam perjalanan penuh perjuangan di jalan ya puas-puasin foto deh sampai lelah). But remember, watch your step carefully! Apalagi kalo readers ga bisa berenang kayak gue atau takut ketinggian. Jangan banyak main gila atau bercandaan ga penting di atas bebatuan ini, karena derasnya air yang terpancar membuat beberapa batuan licin, dan kalo readers ga hati-hati bisa jatuh loh ke kolamnya, ingat-ingat aja dalamnya hampir 10 m. Selfie is good, but your safety is the most important thing. Remember your parents in home, never make them sad, wherever you go! Duh kenapa jadi kebawa suasana gini hahahahha
Gue sama teman-teman gue ini emang pada dasarnya ga bisa diam. Bosan Cuma bisa foto dari atas, kamipun nekat turun ke batuan yg dibawah lewat sebatang kayu yang berfungsi sebagai tangga. Kurang tangguh apa coba kami berempat ini.
LA3_40                                               Good teamwork (1 orang turun, 2 bantu, 1 nya lagi mendokumentasikan)

LA3_41
Puas melihat pemandangan dan berfoto-foto dari atas, sekarang saatnya gue ajak readers turun ke air terjunnya yang di bawah.

LA3_42

Ahhhh syurgaaa memang bisa ngeliat tempat sekece ini yang bisa bikin adem di tengah panasnya matahari Sumba. Tinggi air terjun Koalat ini hanya sekitar 2-3 m dan memanjang ke samping. Like this picture

LA3_43

Biar, ga terlalu tinggi, tapi curahan air terjunnya deras banget dan kadang sampai menciptakan pelangi. Waow.

LA3_44

Kalo dari atas bebatuan tadi kita cuma bisa melihat kolamnya yang hijau, nah sekarang belum afdol kalo belum foto dari dekat kolamnya. And it was my favorite spot in this place. Airnya yang berwarna hijau army dengan latar bebatuan besar yang mengelilinginya di belakang yang menjulang tinggi. Kece badai. Top abis. Kereennnn banget (lebih bagus lihat aslinya, serius)

LA3_45

Nah sebelum pulang, kita foto-foto dulu sepuasnya, sebanyaknya, dan selelahnya.

LA3_46                                With Gembels crew part 1 Maidang (left – right : Ocha and Carlo (my new buddy), me, Jesi)

LA3_47

LA3_48With gembels crew part 2 Maidang (left – right : Mada – me – Firman – Nining – Ade – Rani)

Btw, ada yang tau ga kenapa air terjun yang lebih banyak dikenal air terjun maidang ini dikasih nama Air Terjun Koalat? Kalo Air Terjun Kolam Jodoh di Lewa itu masih misterius namanya, berbeda sama Koalat ini. Menurut warga sekitar, air terjun ini dinamakan Koalat karena debit airnya yang selalu tinggi sekalipun di musim kemarau. Tapi kebanyakan anak-anak pelancong di Sumba lebih sering menyebutkan Air Terjun Maidang. Maidang itu sendiri adalah nama desa tempat air terjun ini berada.
Gue ke tempat ini sekitar awal dan pertengahan bulan Agustus kemarin. Dan sejauh yang gue lihat, tempat disana masih bersihlah, belum banyak sampahnya. Banyak pengunjung yang tidak hanya datang, tapi juga bermalam di tempat ini. Setiap akhir pekan banyak banget yang datang ke tempat ini. Ya semoga aja, kebersihannya masih tetap terjaga. Alam udah ngasih keindahan yang menyegarkan mata dan pikiran kita. Oleh karena itu cara terbaik kita membalasnya adalah dengan tetap menjaga kebersihan dengan tidak nyampah sembarangan. Tempat wisata sebagus apapun itu, kalo udah banyak sampahnya bakal mengurangi nilai estetika dari keeksotikan alamnya itu sendiri. So, kalian masih mau nyampah sembarangan? Malu dong sama anak TK!! (anak TK aja tau kalo sampah harus dibuang pada tempatnya, masa kamu enggak)
Okay readers, gimana laku anga gue kali ini? Readers di luar Pulau Sumba pada mupeng ga buat maen ke tempat gue? Kurang kece apa coba? Tempatnya udah bagus, masuknya gratis pula. Tapi ini baru 4 air terjun aja yang gue kunjungin dari puluhan air terjun yang ada. Semoga gue masih bisa mengelilingi semua air terjun dan alam Sumba dan bisa berbagi lagi dengan kalian semuanya.

Source and read more about waterfall in Sumba, here :
http://sumbatimurkab.go.id
http://wisata.nttprov.go.id
http://awalnya.blogspot.co.id
http://www.kompasiana.com
http://triptrus.com
http://sumbapunyacerita.wordpress.com

Or check it out in instagram using hashtag #waterfall #sumba or name of the waterfall or googling wae🙂
Thank you for reading!
Keep Laku anga and please do not litter!
See you in the next post

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s