STORY ABOUT KAKÀ

Hello readers, tulisan aku kali ini bakal ngebahas tuntas tentang sosok seorang KAKA’. Siapa dia dan kenapa harus dia? Cekidot broh!

Bernama lengkap Ricardo Izecson dos Santos Leite, dikenal sebagai pesepakbola religius yang pernah membela tim besar AC Milan maupun raksasa Spanyol, Real Madrid, dan juga timnas Brasil di Piala Dunia.


 MASA KECIL KAKÀ

Kakà lahir di Gama, DF, Brasilia, 33 tahun yang lalu pada 22 April 1982. Ia merupakan sulung dari 2 bersaudara dan anak dari pasangan Simone Cristina dos Santos Leite (panggil aja tante Simone) dan Bosco Izecson Pereira Leite (biasa dipanggil om Bosco). Adik laki-lakinya bernama Rodrigo Izecson dos Santos Leite, sering dipanggil Digao.

1

Sebenarnya ada satu lagi sih adeknya tapi beda orangtua, beda negara, dan beda benua, namanya Anytha Izecson dos Santos Leite atau lebih dikenal Any Leite (duh ngimpi kowe naaakkk!)

2

Nama Kakà ini terucap pertama kali oleh adiknya, Digao, yang kesusahan mengucap nama Ricardo sewaktu kecil. Jadinya ketika itu ia memanggil kakaknya dengan ucapan ‘Caca’ yang kemudian berevolusi menjadi Kakà. Dan nama Kaka ini kemudian menjadi nama panggilan dan juga nama punggung di jersey yang digunakannya sampai sekarang.

3

Tante Simone berprofesi sebagai seorang guru, sedangkan om Bosco adalah seorang insinyur yang bekerja sebagai PNS (wah di Brasil juga ada PNS ya, baru tau). Karena profesi om Bosco yang PNS ini jadi sering pindah-pindah tempat tugas dari satu kota ke kota lainnya (Mungkin ini bedanya PNS di Brasil sama di Indonesia, kalo di Indonesia PNS mengabdi belasan tahun bahkan aturan terbaru mewajibkan mengabdi sampai 25 tahun di satu daerah baru bisa ke tempat lain. Duh malas banget!).

Lahir dan besar di keluarga berlatar belakang pendidikan, tak membuat Kakà kecil melupakan kecintaannya pada sepakbola. Sejak kecil ia lebih suka menekuni sepakbola dibandingkan pendidikannya. Bola merupakan teman sehari-harinya. Ia sering bermain bola dimana saja, di halaman rumah, di pantai, di sekolah, bahkan di dalam rumah (duh dek, hati-hati barang-barang di dalam rumah bisa hancur nanti). Setelah berpindah-pindah, pada umur 7 tahun, mereka pindah ke Sao Paolo. Dari kota kecil inilah, garis hidup Kakà sebagai seorang bintang sepakbola dunia dirintis. Pada usia ini, Kakà sudah mulai masuk sekolah dasar. Dari semua pelajaran yang dipelajarinya, pelajaran olahraga adalah favoritnya, tentu saja karena ada sepakbola didalamnya. Dibandingkan teman-teman seusianya, Kakà sangat menonjol dalam permainan sepakbola. Karena itu guru olahraganya merekomendasikan orang tua Kakà untuk memasukkannya ke sekolah sepakbola. Kakà pun dimasukkan ke Rivelino’s Soccer School.

Brasil terkenal sebagai salah satu negara di dunia yang menghasilkan banyak legenda-legenda dan calon bintang sepakbola masa depan, sebut saja Pele, Rivaldo, Ronaldo, Ronaldinho, Pato, dan bintang Barcelona saat ini, Neymar. Brasil juga adalah negara yang memenangi ajang Piala Dunia sebanyak 5 kali (1958, 1962, 1970, 1994, 2002) terbanyak saat ini. Dan karena sepakbola jugalah, negara ini berhasil memperbaiki kondisi ekonominya dan berkembang pesat. Salut!

4

Namun, tahukah readers, di Brasil sepakbola adalah olahraga yang populer untuk kalangan menengah ke bawah. Sedangkan tenis adalah olahraga kaum menengah ke atas. Nah berhubung si Kakà ini terlahir dari keluarga berada, maka walaupun ia suka mengocek bola, orangtuanya sering memperkenalkan permainan tenis kepada dirinya. Bahkan pada usia 6 tahun orangtuanya memasukkan Kakà dalam kursus tenis dan ia rajin berlatih setiap minggunya. Saat itu Kakà berambisi untuk menjadi petenis profesional. Namun tiba-tiba, ia meninggalkan rutinitasnya dan lebih tertarik untuk mendribel dan memainkan si kulit bundar. Ya emang dasarnya udah suka sepakbola, ya mau diapain juga, ujung-ujungnya ya balik lagi sama sepakbola.

Dengan bakat dan kemampuan yang dimiliki Kakà, ia tidak merasa canggung lagi ketika harus menjalani latihan yang diajarkan pelatihnya. Semakin lama, tingkat kemampuannya semakin meningkat. Dan pada usia 12 tahun, ia sudah mempunyai skill sepakbola yang bagus. Hingga pada tahun 1997 ketika berumur 15 tahun, ia sudah terpilih untuk masuk tim junior klub Sao Paolo yang terkenal kala itu.

5

Sejak saat itu, Kakà mulai benar-benar serius menekuni sepakbola di bawah naungan  klub Sao Paolo Junior. Tapi yang namanya anak remaja pasti ngalamin yang namanya galau. Begitupun yang terjadi sama Kakà. Dia galau harus lanjutin hobinya di dunia sepakbola atau lebih memilih dunia pendidikan karena bagaimanapun orangtuanya adalah orang yang terpandang di kalangannya. Beruntung, Kakà punya kedua orangtua yang pengertian. Om Bosco sama tante Simone ngasih pilihan untuk memilih masa depan Kakà dengan ngejelasin untung-ruginya kalau udah memilih salah satunya. Dan apapun pilihannya, pasti akan didukung sama orangtuanya. Dan Kakà pun memutuskan untuk menjalani  karier di dunia sepakbola. Yeah good choice, bro!

6


KICK OFF!

Selamat Datang di San Siro

Popularitas Kakà di Brasil membuat semua orang berharap padanya. Klub Sao Paolo pun seolah meletakkan semua bebannya di pundak Kakà. Walaupun telah memberikan performa terbaiknya, Sao Paolo tetap saja belum berhasil memenangi piala antar klub. Saat menginjak usia 17 tahun, Kakà sempat ingin dijual ke tim dari liga Divisi I Turki, Gaziantepspor. Namun transaksi itu gagal karena tim manajemen klub meminta harga yang terlalu tinggi yaitu sebesar 1,5 juta dollar. Pada Januari 2001 saat usianya 18 tahun, Kakà melakukan debut pertamanya bersama timnas Brasil. Di musim pertama Kakà berhasil mencetak 12 gol dalam 27 pertandingan dan 10 gol dalam 22 pertandingan di musim berikutnya. Kakà juga akhirnya berhasil membawa Sao Paolo menjuarai Torneio Rio Sao Paolo dan berhasil mengangkat nama besar Sao Paolo kembali. Dan pada Piala Dunia 2002 di Korea – Jepang, Kakà berhasil masuk dalam Timnas Senior Brasil. Kakà menjadi salah satu pemain termuda Brasil di usianya yang baru menginjak 20 tahun. Selama turnamen berlangsung, Kakà hanya bermain selama 18 menit saat ia menggantikan Rivaldo melawan Kostarika di laga terakhir putaran grup yang dimenangi Brasil 5-2. Walaupun hanya 18 menit di lapangan, tapi menurutku itu adalah 18 menit terbaik dalam hidup Kakà, dimana mimpinya untuk membela timnas di turnamen bergengsi 4 tahunan ini menjadi kenyataan.  Hanya dalam beberapa musim saja, kehebatan Kakà sudah tercium oleh pencari bakat di Eropa. Bermodalkan prestasi juara Liga Champion 2003, AC Milan akhirnya berhasil membujuk Kakà untuk bergabung ke San Siro dengan nilai transfer termurah yang di beli Milan yaitu sebesar 8,5 juta dollar. Yeah welcome to San Siro, brotha.

7

Media Italia lebih sibuk membahas gelar juara Champion Milan waktu itu dibandingkan kedatangan seorang Kakà. Menurut beberapa pihak, pembelian Kakà saat itu merupakan langkah yang kurang tepat, karena Milan sudah mempunyai gelandang serang sekelas Rui Costa dan Rivaldo. Bahkan salah satu petinggi Inter Milan, salah satu rival dan tetangga AC Milan di kota Milan ini (saking benci banget sama orang ini, aku jadi ga sudi buat nginget namanya!), saat ditanyai mengenai bursa transfer yang dilakukan Milan, mengatakan bahwa mereka (Inter) tidak peduli dengan langkah yang diambil oleh Milan dan ia tidak mengenal nama seorang pemain bola dengan sebutan Kakà.


“Ricardo Izecson dos Santos Leite, siapa itu? Kami tidak mengenal ada pemain dengan nama seperti itu!”, katanya sinis.


(duh maaakk sakitnya tuh disini nyesek banget pas dengernya. Ini salah satu alasan pemicu kenapa aku ga suka banget sama tim biru hitam ini. Padahal waktu jaman SD aku Interisti loh gara-gara ada Ronaldo di tim ini. Buat para Interisti maap-maap aja ye, tapi sebagai Milanisti dan fans numero uno nya Kakà, aku berhak ga suka dan marah kalo dengar ada yang merendahkan Kakà seperti itu. Siapapun kita, tidak berhak merendahkan orang lain sebelum kita melihat bakat dan kemampuan orang tersebut! Keep sportif bro.

Meski di awal kedatangannya tidak menarik banyak perhatian pencinta sepakbola dunia, Kakà terus berjuang membuktikan dirinya mampu bersaing dengan pemain-pemain kelas dunia. Dan benar saja hanya dalam waktu 1 bulan, semangat dan bakat besar dalam dirinya berhasil menarik perhatian pelatih Carlo Ancelotti. Hanya melewati beberapa pertandingan sebagai pemain cadangan, akhirnya Kakà mampu merebut salah satu tempat di tim inti. Kakà pun dapat bermain selama 90 menit sebagai gelandang serang bersama dua rekannya Rui Costa dan Rivaldo. Pada musim pertama, Kakà dipercaya Opa Ancelotti tampil sebanyak 30 pertandingan dan ia menyumbang 10 gol di Serie A dan tampil 4 laga di Copa Italia. Di musim yang sama (2003/2004), Kakà berhasil mempersembahkan gelar Scudetto dan Piala Super Eropa bagi tim merah hitam. Karena prestasinya bersama tim, akhirnya Kakàpun menyabet penghargaan sebagai Pemain Terbaik dan Pemain Asing Terbaik Serie A di akhir musim. Waooww.

Sayangnya di musim berikutnya, Milan tidak mampu meraih gelar Scudetto yang berhasil di rebut tim Nyonya Tua, Juventus, dan kekalahan menyakitkan dari Liverpool di final Liga Champions 2005. Namun hasil tersebut tidak menyurutkan semangat bermain Kakà. Permainannya semakin matang dan berkembang dalam mengontrol bola. Akhirnya di musim 2005/2006 Kakà berhasil mencetak hattrick pertamanya bagi Milan. Meski sampai akhir musim pun tidak berhasil memberikan gelar juara apapun bagi Milan, prestasi individunya tidak bisa dipandang sebelah mata. Berkat konsistensi permainannya, Kakà terpilih sebagai salah satu gelandang dalam Tim Terbaik UEFA dan Asosiasi Pesepakbola Profesional. Duh bang, adek makin cinta nih ♥

Kesempatan emas Kakà datang setelah Milan menjual Rui Costa ke Benfica, setelah sebelumnya melepas Rivaldo ke Cruizero. Dan memasuki musim 2006/2007, Milan kembali menjual salah satu pemain terbaik mereka dan juga sahabat Kakà, Andriy Shevcehnko (Sheva) ke The Blues Chelsea. Jadilah Kakà anak emas di kandang sendiri. Kepercayaan Opa Ancelotti dan Opa Berlusconi (Presiden Milan) kepada Kakà, tidak disia-siakan. Hanya dalam dalam waktu semusim, ia berhasil merebut gelar Liga Champions dengan membalas dendam dan mengalahkan The Reds Liverpool di laga final dengan skor tipis 2-1. Bukan Kakà sih yang bikin gol, tapi berkat kerjasama tim yang yahud dan assist dari Kakà ke rekan setimnya yang kini jadi pelatih AC Milan, Filipo Inzaghi (Pipo), umpan tersebut berhasil diubah menjadi 2 gol cantik. Yeahh.

8

Sukses membawa gelar Liga Champions bagi Milan berdampak juga bagi prestasi individu Kakà. Harapan semua pesepakbola termasuk Kakà untuk mencatatkan tinta emas dalam perjalanan karir sepakbolanya menjadi kenyataan. Tahun 2007 merupakan tahun keemasan dalam karir persepakbolaannya. Kakà dinobatkan sebagai Peraih Ballon d’Or (gelar untuk pemain sepakbola terbaik sejagad) dengan total poin 444 dan berhasil mengungguli Cristiano Ronaldo (Manchester United) yang hanya mendapatkan 277 poin dan Lionel Messi (Barcelona) 255 poin.

9

Penghargaan ini merupakan impiannya sejak masih kanak-kanak. Akhirnya dream comes true juga, Bang. Untuk Brasil sendiri, Kakà merupakan pemain keempat yang mendapatkan penghargaan tersebut, setelah sebelumnya berhasil diraih Ronaldo (1997, 2002), Rivaldo (1999), dan Ronaldinho (2005). Duh kenapa semua yang dapat gelar namanya diawali huruf R ya (Ricardo Kakà, Rivaldo, Ronaldo, Ronaldinho)? Mungkin karena alasan itu yang bikin aku suka sama semua orang yang namanya huruf R kali yaakk …. Apa sih -_-

10

Tidak hanya itu saja, penghargaan lainnya yang melengkapi kesuksesannya di tahun 2007 ini juga ditutup dengan raihan prestasi sebagai 100 orang paling berpengaruh di dunia versi  Majalah Times. Yang bikin hebat itu, Kakà adalah satu-satunya pemain sepakbola yang masuk dalam daftar tersebut. Bersama 9 orang lainnya, Kakà berada di kategori Pahlawan dan Pionir. 4 thumbs. Bangga adek mengidolakan kau, Bang ♥♥

Keberhasilan Kakà bersama Milan ini membuat ia diburu tim-tim raksasa Eropa lainnya dengan harga selangit. Siapa sangka, bocah yang dibeli murah dari klub Sao Paolo tahun 2003 dulu, kini dihargai triliunan rupiah oleh tim besar lainnya yang sangat bernafsu mendatangkannya. Sebut saja raksasa Spanyol, Real Madrid yang membanting harga 1,2 triliun demi mendapatkan tanda tangannya. Belum lagi, Manchester City yang rela merogoh koceknya sebesar 1, 5 triliun untuk mendatangkan pesepakbola berwajah tampan ini (emang bener sih, si Kakà ini ganteeeenngg bangeettt). Dan bahkan, klub Chelsea mengajukan tawaran sensasional sebesar 1,9 triliun rupiah. (Duuhh maakk, duit semua itu?) Pada saat itu, dengan lantang Kakà menolak semua tawaran itu. dengan alasan masih ingin merebut gelar juara bersama AC Milan lagi. Kakà juga ingin membalas budi baik Opa Berlusconi yang telah mendatangkannya dari klub kecil Sao Paolo ke tengah gemerlapan bintang Milan dan yang telah mendidiknya menjadi pesepakbola yang hebat seperti saat ini. Selain itu, banyaknya pemain asal Brasil yang juga merumput di San Siro seperti Pato, Dida, Ronaldo dan Thiago Silva membuatnya makin betah tinggal di Milan.

Hello Madrid

Teguhnya pendirian Kakà pada klub yang dicintainya membuat beberapa klub raksasa yang mengincar dirinya mundur secara perlahan. Hanya satu klub, yang pantang menyerah untuk mendapatkannya. Real Madrid. Setiap musim bursa transfer, tim transfer Si Putih ini bolak – balik kota Milan untuk melakukan negosiasi dengan Kakà dan juga pihak klub. Akhirnya usaha keras rival Barcelona ini membuahkan hasil. Di awal musim 2009/2010, tepat 2 hari sebelum aku ultah, Kakà resmi berstatus pemain Real Madrid dengan nomor punggung 8 dengan nilai transfer 65 juta euro atau sekitar 762 milliar rupiah.

11

Kepindahan Kakà ke Spanyol ini menimbulkan pro-kontra di kalangan Milanisti seluruh dunia dan kebahagiaan para Madridista tentunya. Banyak Milanisti dan para pencinta sepakbola lainnya yang menyebut Kakà seorang yang mata duitan, seorang pengkhianat yang meninggalkan klubnya di saat sedang kritis. Berbagai pujian yang dulu diperoleh Kakà ketika memenangi kejuaraan bersama Milan berubah menjadi cacian yang menyakitkan telinga dan hati. Banyak pihak juga yang menyalahkan Opa Berlusconi selaku orang yang paling bertanggungjawab atas kepindahan Kakà ke Madrid.

12

Sebagai Milanisti, aku juga sedih banget pastinya. Berharap si Kakà bisa bertahan selama mungkin di klub ini dan ga pernah pindah ke klub manapun di muka bumi ini, apalagi Real Madrid. Aku ga suka sih sebenarnya sama klub yang satu ini. Soalnya dengan duitnya yang segudang itu dia seenak jidatnya beli pemain manapun yang disukainya yang lagi bersinar terang. Nah mending kalo habis beli dimainin semua pemainnya, nah kalo cuma dijadiin cadangan doang mah percuma. Saking kebanyakan pemain bintang kali ya, jadi pelatihnya bingung mau turunin pemain yang mana kalo ada pertandingan. Lagian kebanyakan pemain bintang di sebuah klub juga, bikin persaingan dengan klub-klub lainnya jadi kurang sehat. Ya gimana gak, kalo 1 klub kesebelas pemainnya pemain bintang semua, sedangkan tim lawan cuma punya satu pemain bintang. Ya ga seru dong permainannya. Sebagai penikmat sepakbola, menurut aku alangkah lebih baiknya kalo pemain bintang itu tersebar merata di berbagai klub-klub sepakbola yang ada. Jadi kompetisi antar klub itu terlihat lebih hidup. Tapi apadaya, dalam dunia persepakbolaan, terkadang uang menjadi salah satu pengendali permainan kulit bundar ini. Ya sudahlah. Aku bisa apa?? wkwkwkkw ˜

Kepindahan Kakà ke Madrid ini bukan karena tergiur besarnya uang yang ditawarkan Real Madrid, seperti yang dipikirkan kebanyakan orang. Kondisi Milan setelah menjuarai Champions 2007 tidak terlalu baik. Seperti kata pepatah hidup ini berputar seperti roda, kadang di atas, kadang juga di bawah. Dan saat itu, kondisi keuangan Milan cukup buruk. Banyak memiliki pemain veteran yang sudah tidak muda lagi memaksa klub ini untuk meregenerasi pemainnya. Dan tentu saja, perubahan dan segala fasilitas yang diperlukan untuk meningkatkan performa Milan ini membutuhkan pundi-pundi uang yang tidak sedikit. Dalam keadaan ekonomi terjepit, Opa Berlusconi memutar otak untuk menyelamatkan klub yang sudah dipimpinnya selama bertahun-tahun dari keterpurukan. Dan Kakà menjadi asset berharganya kala itu. Banyaknya tawaran dari klub raksasa Manchester biru dan Real Madrid yang berebut mendapatkan tandatangan pemain bintangnya itu. Setelah berembuk dengan Kakà, akhirnya Opa memutuskan untuk menjual anak emasnya itu ke Los Blancos. Mengapa tidak ke City, padahal tawaran yang diberikan jauh melebihi nilai transfer ke Madrid? Hal itu dikarenakan Kakà lebih memilih Real Madrid dibandingkan Manchester biru itu (keputusannya juga dipengaruhi oleh istrinya yang menginginkan dirinya pindah ke Spanyol). Di satu sisi, Opa Berlusconi susah untuk melepas pemain kesayangannya itu, selain dicintai oleh semua pemain dan tim di klub, Kakà juga dicintai oleh para Milanisti (apalagi aku). Tapi jika Kakà terus dipertahankan di klub, maka kemungkinan buruk yang terjadi adalah Milan bisa mengalami kebangkrutan. Dan satu-satunya cara untuk menyelamatkan tim adalah dengan menjual Kakà dan menerima segala konsekuensinya. Benar-benar pilihan yang berat ya Opa. But you’ve made a right choice! Kalau soal Kakà, ga tau deh gimana perasaannya saat itu, mungkin dia juga mengalami galau akut seperti Opa Berlusconi. Yang jelas, walau ia sangat berat meninggalkan klub yang telah membesarkan namanya itu, bagaimanapun juga Kakà telah ikut andil dalam menyelamatkan klub yang dicintainya itu.

Dalam musim yang sama, Real Madrid juga membeli pemain bintang dari Manchester United, Christiano Ronaldo dengan nilai transfer tertinggi kala itu, 1,2 triliun. Banyak kalilah duit Madrid ini….Jadilah Madrid sebuah klub raksasa Eropa yang bertabur bintang di dalamnya. Kakà melakukan debut pertamanya sebagai pemain Madrid pada tanggal 7 Agustus 2009 dan mencetak gol pertamanya melalui titik putih pada tanggal 23 September ketika menang 2-0 melawan Villareal. Setelah melewati piala dunia 2010, ia mengalami cedera hamstring yang mengakibatkan dirinya harus menjalani operasi pada tanggal 5 Agustus 2010 di Madrid dan membutuhkan waktu pemulihan selama 4 bulan.

13

Setelah absen 8 bulan karena cedera lutut kirinya, Kakà harus berusaha lebih giat untuk mendapatkan tempat dalam tim. Karena cederanya yang belum sembuh total, Kakà sering duduk di bangku cadangan dan bermain hanya setengah permainan saja dengan menggantikan Karim Benzema dengan posisi yang sama. Maret 2011, Kakà kembali menderita sindrom Iliotibial Band yang membuatnya absen selama beberapa minggu. (ITB = suatu sindrom yang menyebabkan rasa sakit di bagian luar lutut tepat di atas sendi. Pokoknya sindrom ITB ini bagian urat yang menghubungkan otot dengan tulang. Jadi ketika terjadi pergerakan seperti lari, maka akan menimbulkan rasa sakit luar biasa bagi penderitanya. Intinya seperti itu). Nah setelah bangkit dari keterpurukannya, ia menunjukkan performa terbaiknya. 27 September 2011 merupakan hari dimana pertandingan terbaik dalam karirnya di Los Blancos. Saat itu Real Madrid berhasil mengalahkan Ajax Amsterdam 3-0 di Liga Champions. Kakà menyumbang satu gol dan sisanya memberikan assist. Kakà pun terpilih menjadi man of the match kala itu.

14

Salah satu pertandingan terseru selama penampilan Kakà bersama Madrid, menurut aku, adalah ketika Laga El Classico dalam merebut Piala Super Copa Spanyol tahun 2011. Namanya juga El Classico, kalo ga ada drama dan pertengkaran yang seru ga asik. Setelah unggul 3-2 berkat gol yang diciptakan Messi, Barca akhirnya unggul agregat 5-4 dari Madrid. Nah menjelang peluit panjang dibunyikan, Marcello melakukan tekel keras kepada Fabregas yang kala itu baru hijrah dari Arsenal. Dan akhirnya aksi Marcello itu menimbulkan kerusuhan di pinggir lapangan. Dan diikuti berbagai insiden lainnya seperti David Villa yang menampar Mezut Ozil dan Mourinho yang menjewer telinga asisten Pep, Tito Filanova. Wah makin seru aja nih dramanya. Tapi di antara semua keributan itu, ada satu orang yang menjauhkan dirinya dari perselisihan itu dan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya menatap situasi yang sedang terjadi. Dialah Kakà. Dalam kondisi gelut seperti itupun, dia masih bisa menahan emosi untuk tidak ikut terlibat dalam aksi tersebut. Salut bangetlah Bang. Hahahha setelah diingat-ingat lagi, pertandingan El Classico itu emang seru abis.

15

12 Januari 2013. Ini adalah kali pertama Kakà mendapat kartu merah setelah merumput 10 tahun di Eropa. (FYI, selama di Milan Kakà ga pernah dapat kartu merah). Kakà mendapat kartu merah ketika melakukan pelanggaran keras dalam kurun waktu 18 menit terhadap salah satu pemain Osasuna. Seumur hidupnya, ini adalah kartu merah kedua yang diterimanya. Kartu merah pertama dalam karir sepakbolanya diterimanya di ajang Piala Dunia 2010 ketika Brasil melawan Pantai Gading di babak penyisihan grup. Sumpah, aku masih ingat banget gimana freaknya wajah pemain Pantai Gading itu yang pura-pura kesakitan. Setiap ingat kejadian itu, rasanya pengen banget nonjok wajah pemainnya itu hahahhah.

16

Welcome back to Milan

4da05dd0579092b9260bb896313737f6Karena seringkali diliputi cedera, pelatih Madrid kala itu, Jose Mourinho, tak punya banyak pilihan selain menempatkan Kakà di bangku cadangan. Dengan semakin banyaknya pemain baru bertalenta yang didatangkan Madrid, posisi Kakà dalam skuad utama pun terancam. Musim 2013/2014, Kakà menyatakan keinginannya untuk balik ke San Siro. Dan keinginannyapun tercapai. Opa Galliani selaku Wakil Presiden Milan telah sepakat dengan pihak Real Madrid dan juga disetujui oleh opa Ancelotti yang kala itu menjadi pelatih Madrid menggantikan Om Mou untuk membawa pulang anak emasnya kembali ke rumah. Kakà juga rela gajinya dipangkas demi mengenakan  jersey merah hitam kebanggaannya itu lagi. Kakà pun mendapat kembali nomor punggung 22 nya kala berseragam Milan dahulu. No 22 ini dipilih karena sama dengan tanggal kelahirannya. Dan keinginan lamanyapun kembali terpenuhi. Kakà menjadi kapten tim dalam pertandingan melawan FC Chiasso.

17

Selama come back ke Milan ini, dalam 30 pertandingan Kakà berhasil mencetak 7 gol dan salah satunya adalah gol ke-100 nya selama membela tim I Rossoneri ini. Selama tampil membela Sao Paolo dan tampil 59 kali (2001-2003) ia berhasil mencetak 23 gol. Di Milan (2003-2009) selama 193 kali penampilannya berhasil mencetak 70 gol. Di Madrid (2009-2013) dalam 85 kali penampilannya Kakà berhasil mencetak 23 gol.

18

Berlabuh di Orlando City

Setahun mengenakan kembali jersey kebanggaannya di Milan, tak membuat Kakà ingin bermain selamanya sampai pensiun di kota model ini. Kakà memikirkan lebih jauh tentang masa depannya. Milan telah meregenerasi pemainnya, dan rata-rata usia pemainnya di bawah 27 tahun. Kakà pun akhirnya memutuskan untuk berlabuh ke Major League Soccer salah satu liga sepakbola di United State di klub Orlando City, awal musim 2014/2015 kemarin. Kakà ingin mengembangkan sepakbola di negeri Paman Sam tersebut. Dan benar saja, Kakà langsung menjadi bintang lapangan hijau klub tersebut. Di awal karirnya di Orlando City ini, Kakà dipinjamkan selama 6 bulan di klub pertamanya, Sao Paolo. Dan hingga kini telah kembali merumput di liga MLS dan kembali membela Orlando City.

19

Sebelum menutup bagian Kick Off ini, tak lengkap rasanya kalo ga mengetahui skill yang dimiliki pemain berdarah Brasil ini. Nah, dari beberapa pengamatan yang dilakukan oleh pengamat bola, Kakà memiliki skill yang bagus dalam permainannya. Daripada readers lelah membaca, ini aku kasih dalam bentuk tabel saja (skor yang diberikan 1-10).

20 skill

 


LOVE STORY

Kisah cinta seorang Kakà sangatlah romantis dan bikin iri siapapun yang mengetahuinya. Kakà bukanlah seorang petualang cinta sejati. Sejak masih membela klub Sao Paolo hingga bergabung dengan AC Milan dan kini bermain untuk Orlando City, Kakà hanya mengenal satu wanita. Dalam hatinya hanya ada seorang gadis cantik yang telah membuat dia jatuh hati pada pandangan pertama. Dialah Caroline Celico.

21

Awal perkenalan Kakà dengan Carol terjadi tanpa direncanakan. Saat menemani kedua orangtuanya di sebuah pesta di Sao Paolo tahun 2002, Kakà diperkenalkan oleh orangtuanya kepada Carol. Kebetulan kedua orangtua Kakà dan Carol saling mengenal. Eaaaaa, jadi sudah. Setelah berkenalan, kedua sejoli inipun saling bertukar nomor hape. Asiikk. Beberapa hari setelah pertemuan itu, Kakà diundang Carol ke pesta ulang tahunnya yang ke-15. Saat itu Kakà berusia 19 tahun dan masih menjadi pemain Sao Paolo. Selepas acara ulang tahun itu, Kakà yang telah jatuh hati pada kecantikan Carol (emang cantik banget sih mbak Carol ini) akhirnya memberanikan diri untuk menjalin hubungan yang lebih serius.

22

Carol adalah putri sulung dari pasangan Rosangela Lyra (ibu Carol) dan Celso Celico (ayah Carol). Tante Rosa adalah seorang direktur rumah mode Christian Dior di Brasil, sedangkan Om Celso adalah seorang pengusaha. Carol memiliki seorang adik laki-laki bernama Enrico Celico. Maaaaaaaaaaaakkkkkkkk cakep banget manusia yang satu ini, sueerrr!

23

Baru beberapa bulan berpacaran, Kakà telah mengutarakan niatnya untuk menikahi Carol. Namun beberapa bulan kemudian, Kakà hengkang ke Milan dan mengharuskannya menjalani hubungan jarak jauh dengan si Carol. Yang namanya LDR itu emang banyak godaannya. Apalagi dengan wajah ganteng Kakà, begitu banyak wanita di Italy yang tentu saja tergila-gila padanya (tapi aku yakin ga ada yang secantik Carol, bener to Kakà?). Dengan begitu banyak godaan disekitarnya, Kakà tetap setia kepada seorang Carol. Akhirnya setelah LDR selama 2 tahun, dan usai membawa Brasil menjuarai Piala Konfederasi 2005 di Jerman, Kakà memutuskan untuk menikahi Carol. Dua hari sebelum Natal, tepat tanggal 23 Desember 2005, Kakà menyunting Carol dalam sebuah upacara pernikahan sederhana di sebuah gereja di Sao Paolo. Kakà menikah pada usia 23 tahun dan Carol berusia 18 tahun. Mereka hanya mengundang 600 tamu undangan, yang terdiri dari kerabat dekat dan beberapa anggota timnas Brasil dan Milan seperti Carlos Alberto Pereira, Dida, Seedorf, Ronaldo, Ze Roberto, Julio Baptisa, dan Ricardinho.

24

Salah satu alasan yang bikin aku kagum banget sama pasangan ini adalah, saat menikah keduanya masih sama-sama perjaka dan perawan. Duuuuhhh maakk jaman sekarang, cari yang begituan sulitnya minta ampun. Kakà dan Carol adalah pasangan yang taat beribadah dan tunduk terhadap ajaran alkitab. Cocok bangetlah. Setelah menikah, keduanya kembali menjalani LDR. Kakà kembali ke Italy, sedangkan Carol menetap di Brasil. Carol berprofesi sebagai seorang model, penyanyi, dan juga pengusaha di dunia fashion. Keduanya telah berjanji untuk saling setia. Mereka juga membuat perjanjian bebas untuk pergi kemana saja asalkan bersama teman dan saat tengah malam sudah harus sampai di rumah. Salut bangetlah.

Carol adalah seorang penyanyi. Ia bahkan pernah berduet dengan Kakà menyanyikan lagu cinta yang relijius (tetep ya) berjudul Presente de Deus. Sebagai seorang pencinta musik, aku sedih banget dengar suara Kakà pas nyanyi (jujur). Kata siapa kalo ngefans sama seseorang itu harus menyukai semua yang dilakukannya. Aku ga gitu, aku orangya sportif dan jujur hahaha. Mending si Kakà ngurusin maen bola aja atau ga jadi model gitu daripada menyanyi. Sedih aku Bang. Tapi gapapa, just for fun aja.

25

Pengen lihat video duet pasangan suami istri ini? check it out on Youtube (https://www.youtube.com/watch?v=B80OrbV2-YQ&list=RDB80OrbV2-YQ)

Saat aku berulang tahun ke-17, Kakà resmi menjadi seorang ayah. Yup bener banget. 10 Juni 2008 lahirlah seorang bayi mungil yang cakep buah cinta Kakà dan Carol yang diberi nama Luca Celico Leite. Ga cuma Kakà sekeluarga yang bahagia, tapi aku juga. Senang aja ulang tahun anaknya Kakà yang ganteng itu sama kayak aku. Kok bisa pas gitu. Mungkin gara-gara saking ngefans kali ya sama Kakà. Hahahhah.

26

3 tahun kemudian, tepat sehari setelah ulang tahun Kakà, 23 April 2011, anak kedua Kakà dan Carol lahir. Bayi perempuan yang cantik banget ini dikasih nama Isabella Celico Leite.

27

Lengkap deh kebahagiaan Kakà sekeluarga, bisa punya sepasang anak yang ganteng, cantik, dan manis. Happy family.

28


I BELONG TO JESUS

Sebelum mencapai puncak kejayaan seperti sekarang ini, semasa remajanya Kakà sempat divonis lumpuh akibat cedera yang dialaminya. Begini ceritanya. Kejadian itu terjadi ketika Kakà berusia 18 tahun. Oktober 2000 Kakà berkunjung ke rumah kakeknya di sebuah kota kecil di Brasil bernama Caldas Novas. Ketika sedang bermain di halaman rumah, Kakà tiba-tiba terpeleset jatuh ke depan kolam renang yang membuat kepalanya terbentur keras di pinggir kolam. Karena tidak merasakan sakit apapun, beberapa hari kemudian Kakà kembali berlatih bersama tim senior Sao Paolo. Namun setelah berlatih beberapa hari, ia baru merasakan kesakitan yang luar biasa pada lehernya. Akhirnya pihak klub memutuskan untuk membawa Kakà diperiksa ke RS. Dan hasilnya dokter mendiagnosa bahwa tulang leher keenamnya patah.


Kakà harus istrahat selama 3 bulan dari latihan bersama tim dan memakai pelindung leher sepanjang hidupnya.


Apaaaa??? Harus pake pelindung leher seumur hidup? Ohh poor Kakà. Setelah mengetahui seberapa parah cedera yang dialaminya, Kakà sempat putus asa karena tidak dapat kembali ke lapangan hijau. Vonis dokter itu telah membunuh sebagian mimpi besarnya. Tetapi setahun kemudian, The Golden Boy (begitu julukannya) ini memperoleh mukjizat dalam penyembuhannya. Semua orang terkejut dengan kesembuhannya. Berkat keuletan dan keajaiban itu telah membuat Kakà keluar dari masa-masa sulit dalam hidupnya. Kakà kemudian berlatih keras dan terus berusaha bangkit untuk mengasah bakat yang dimilikinya.

Lihat penuturan Kakà di youtube berikut :

Impossible Is Nothinghttps://www.youtube.com/watch?v=dqI7FyUFv2k

I Am Secondhttps://www.youtube.com/watch?v=LQob6GGbeAk

Kejadian itu tidak hanya mengubah seluruh mimpinya di dunia sepakbola, tetapi juga ikut mengubah kehidupan rohaninya secara keseluruhan. Bentuk terima kasihnya kepada Tuhan, bukan hanya ditunjukkan kepada tingkah lakunya yang relijius tapi juga lewat tulisan “I Belong to Jesus” di kaosnya yang selalu ia perlihatkan dalam meluapkan kegembiraannya setiap kali mencetak gol. Two thumbs lah Bang. Bahkan Kakà pernah mengatakan, apabila suatu saat telah pensiun dari sepakbola ia ingin menjadi seorang pendeta. Salut banget. Ini yang bikin aku cinta banget sama kau, Kakà! ♥♥♥♥♥

29

30

31


KEGIATAN DI LUAR LAPANGAN

Pengalaman kecil Kakà yang hidup di daerah miskin di Sao Paolo, menggerakkan hatinya untuk melakukan perubahan di lingkungan masa kecilnya itu. akhirnya pada tanggal 30 November 2004, Kakà resmi diangkat sebagai duta PBB urusan program makanan dunia (World Food Programme). Kakà adalah duta termuda pada saat ia ditunjuk. Menurut Kakà, nyawa seorang anak tidak dapat dinilai dengan uang. Tetapi, penggalangan dana serta kepedulian bersama untuk membantu mereka agar tidak putus asa dalam menggapai mimpinya juga sangat penting. Haduh ga tau mau ngomong apalagi sama si Abang ini. Udah ganteng, relijius, setia, jiwa sosialnya juga tinggi ♥. Kakà bukanlah pespakbola pertama yang menjadi ikon WFP. Sebelumnya, bintang Barcelona Ronaldinho juga pernah bekerja sama untuk program ini.

32

Kakà juga adalah anggota organisasi “Athletes of Christ”. Ga tau sih ini apaan, tapi yang jelas ini berhubungan sama keagamaannya, secara Kakà kan relijius banget. FYI, buku favorit Kakà adalah alkitab dan musik favoritnya adalah musik gospel, ya walau si Kakà ini juga suka sama Coldplay. Warna kesukaannya adalah putih karena melambangkan kesucian serta ketulusan. Dan tau gak, Golden ball yang diterimanya dari penghargaan Ballon d’Or itu disimpannya di gereja. Kalau biasanya kan pemain lain simpannya di rumah sebagai pajangan gitu, nah kalo Kakà ini simpannya di rumah Tuhan. Kakà sangat suka berdoa dan sering mengajak rekan-rekannya untuk berdoa bersama. Salah satu rekannya yang juga relijius adalah Shevchenko. Mungkin karena alasan inilah keduanya menjadi sangat dekat. Pokoknya semua yang berhubungan sama Kakà itu jadi baik aja….

Memiliki tinggi 183 cm dan berat badan 73 kg dipadu wajah yang menawan membuat Adidas, Armani, Dolce & Gabanna tertarik mengontrak kakak Digao ini sebagai modelnya. Dan benar saja, si Kakà ini kalo bukan seorang pesepakbola kayaknya bisa jadi seorang model. Foto-fotonya di Armani, bikin semua cewek yang ngelihat bisa meleleh.

33

34

35


GOSSSSIIIIPPP

Punya segalanya, berperilaku yang baik, suka menolong, taat beribadah, dan menjadi panutan banyak orang tidak membuat kehidupan Kakà mulus-mulus saja. Ia pernah tersandung kasus hukum dengan gerejanya. Memiliki pendapatan yang selangit, tidak membuat Kakà lupa diri dan sombong terhadap Tuhan. Ia selalu menyisihkan sebagian dari gajinya untuk disumbangkan ke gereja. Setiap tahun Kakà menyisihkan sekitar 1 juta dollar (sekitar 94 milyar) dalam bentuk perpuluhan (sebenarnya si Kakà ini ga suka pamer jumlah perpuluhan yang diberikan sama Tuhan, tapi berhubung ada masalah ini, jadi pihak pengadilan mencari tahu semua informasi yang ada untuk penyelesaian kasus ini). Namun tidak disangka, ketulusan hati Kakà ternyata diselewengkan oleh pengurus gereja. Mereka menggelapkan sumbangan jemaat termasuk uang milik Kakà sebesar 56 ribu dollar (532 juta). Kabarnya pengurus gereja tersebut menggunakan uang gereja untuk membeli vila dan peternakan kuda di Brasil dan Amrik. Astagaaaaa. Pihak pengadilan pun memanggil Kakà untuk dimintai keterangan. Tidak ingin persoalan ini mengganggu konsentrasi Kakà, pihak keluarga mencoba untuk tidak menggubris rumor tersebut. Dan lama kelamaanpun kasus itu menghilang dengan sendirinya. Emang bener kata pepatah, semakin tinggi suatu pohon, semakin keras angin meniupnya. Begitu juga yang terjadi dengan kehidupan Kakà. Tapi yang namanya orang ga salah, ya pasti akan terungkap dengan sendirinya.

36

Ga ada gossip yang bikin geger dunia pencinta Kakà sejagad raya, selain kabar perceraian Kakà dan Carol yang tercium awal November 2014 lalu. Shock. Satu kata itu mungkin cocok untuk mendeskripsikan perasaan para pengagum Kakà dan juga Carol. Saat membaca berita itu di twitter, awalnya cuma mikir hoax. Tapi beberapa hari kemudian, situs sepakbola yang beritanya teraktual seperti goal.com dan detik sport juga melansir berita keretakan rumah tangga pasangan ideal tersebut. Salah satu media di Brasil menulis bahwa setelah 9 tahun pernikahan Kakà dan Carol dan atas kesepakatan bersama, mereka memutuskan untuk berpisah. Sedih banget dan masih ga percaya pas baca berita itu. Ga tau itu benar atau cuma gossip doang. Rumor perceraian  Kakà Carol pun mulai mendatangkan bukti-bukti. Menurut kabar yang terdengar indikasi ketidakharmonisan rumah tangga mereka sudah tercium sejak awal musim panas. Ketika itu Kakà pergi berlibur sendiri tanpa didampingi istri dan kedua anaknya. Isu perpisahannya semakin kencang kala media Brasil merilis foto-foto Carol sedang jalan bareng dan bermesraan dengan laki-laki lain. Dan bahkan ia mengaplod foto dengan pria lain di instagramnya dengan caption


“Saya mencintaimu dan akan selalu ada untukmu, selamat ulang tahun Ferbento”.


Padahal, si manusia bernama Ferbento ini adalah rekan kerjanya dan udah lama kerja bareng Carol di sebuah badan amal yang dirintis Carol dan keluarganya. Kedekatan merekapun layaknya adik dan kakak. Tidak hanya dekat dengan Carol, tetapi juga dengan keluarga Carol termasuk Kakà. Aku ngerti kok perasaanmu mbak Carol, dituding menjalin hubungan dengan orang yang udah kita anggap brother sendiri dan dipaksa buat ngakuin kalo kita emang ada sesuatu sama teman dekat cowok kita itu emang rasanya nyesek banget. Bikin malas. Upload foto, bikin status, tulis caption, sms-an atau ngapain pun rasanya salah semua. Disitu terkadang saya merasa sedih!
Ga cuma Carol yang dituding melakukan perselingkuhan dengan pria yang diduga designernya itu, Kakà juga dituding melakukan perselingkuhan dengan Miss Brasil Jackelyne Oliveira.

37

Namun satu bulan kemudian, Kakà mengaplod foto mesra mengecup leher Carol di instagramnya dengan caption Bahagia Selamanya. Semua pencinta Kakà di belahan bumi manapun langsung menarik napas lega. Syukurlah. Terlepas dari segala rumor itu, entah benar mereka pernah berpisah atau tidak, sekarang itu udah ga penting. Yang penting mereka kembali menjadi keluarga yang harmonis lagi *tepuktangan

38


KATA MEREKA

Kesuksesan dan kehebatan seorang Kakà mendatangkan komentar dari berbagai pihak seperti pemain, pelatih, manager klub, dan juga fans numero unonya.

  1. Opa Carlo Ancelotti (Mantan pelatih Milan, yang kini melatih Real Madrid)

“Kakà adalah pemain hebat. Dia bisa menginspirasi rekan-rekannya. Permainannya sungguh menawan. Selama saya melatih di Milan, Kakà adalah salah satu pemain yang tidak banyak menentang keputusan pelatih. Ia selalu menuruti apa yang saya instruksikan. Saya senang bekerja sama dengannya”.



  1. Opa Silvio Berlusconi (Pemilik AC Milan)

“Saya menyukainya, dia lebih mengedepankan profesionalisme daripada egoisnya. Selain itu, Kakà bermain dengan penuh rendah hati. Makanya jarang sekali ia mendapat kartu merah dalam sebuah pertandingan. Dengan begitu, ia menjadi salah satu pemain yang disegani di atas lapangan”.



  1. Om Juan Carlos Valeron (Pemain Deportivo La Coruna, Spanyol)

“Dia pemain yang saya senangi, tak hanya di Spanyol, tapi juga di dunia. Posisi kami identik di atas lapangan. Saya mengaguminya dan menikmati saat menontonnya bermain. Ada kesamaan antara Kakà dan Zidane, mereka sama-sama sebagai pengatur serangan tim. Saya rasa Kakà bisa menjadi Zidane yang baru bagi Madrid”.



  1. Opa Michael Platini (Presiden UEFA)

“Kakà seorang pemain sepakbola yang jenius, ia mampu menghidupkan sebuah permainan sehingga menjadi antraktif. Sungguh sulit mencari tandingannya, dia representasi pemain sepakbola masa kini. Kita harus bangga, ternyata di sepakbola masih ada pemain yang begitu santun seperti Kakà”.



  1. Om Paolo Maldini (Mantan Kapten Milan)

“Pemain muda yang penuh talenta. Semangat dan kecerdikannya dalam bermain, membuat senang pemain lainnya. Kakà sungguh pemain yang langka, pada saat sekarang ini, jarang sekali menemukan pemain yang sangat loyal kepada klub seperti yang dilakukan Kakà terhadap Milan”.



  1. Opa Florentino Perez (Pemilik Real Madrid)

“Kakà merupakan reinkarnasai Di Stefano. Dalam dirinya kami menemukan kebangkitan untuk menatap sejarah ke depan bersama klub ini”.



  1. Uncle Andrea Pirlo (Mantan Playmaker Milan yang kini bermain di Juventus, dan Timnas Italia juga)

“Sebuah kebanggaan sendiri bisa bermain satu klub dengan Kakà. Dia pemain yang bersahaja, tidak banyak bicara tapi dia buktikan di atas lapangan. Itulah salah satu kelebihan Kakà yang jarang dimiliki pemain-pemain lainnya”.



  1. Kak Thiago Silva (Mantan pemain Milan yang kini bermain di PSG)

“Saya yakin semua pemain belakang akan merasa kesulitan menjaga Kakà, fisik yang kuat dan kecepatan yang dimilikinya adalah penyebabnya. Ketika dia berlari, sulit untuk mengejarnya. Sepertinya dalam tubuh Kakà ada napas cadangan. Saya selalu bertanya-tanya, kenapa Kakà bisa sekuat itu?”.



  1. Opa Arrigo Sacchi (Mantan Pemain Milan era 1990-an)

“Kakà itu unuk. Dia tidak hanya pemain dengan talenta besar, tapi juga seorang professional yang hidup untuk sepakbola. Dia adalah contoh positif baik dalam hal cara bermain dan juga cara dia menjalani kehidupannya”.



  1. Om Zinedine Zidane (Mantan Pemain Real Madrid dan Timnas Prancis)

“Kalau Kakà memakai nomor 5 seperti nomor punggungku, itu akan membuatku senang karena Kakà pemain bermental juara sejati. Setelah semua yang dilakukannya bersama Milan, dia juga ingin melakukan hal yang baik di tim yang lain pula”.



  1. Opa Luiz Felipe Scolari (Pelatih Timnas Brasil)

“Kakà adalah pemain hebat di dalam dan di luar lapangan. Dia punya nama besar dan uang, tapi mampu memepertahankan performa terbaiknya. Ia bermain layaknya pemain muda”.



  1. Opa Manul Pallegrini (Pelatih Manchester City)

“Kakà adalah kartu as. Jika dia sudah mendapat semua di sepanjang karirnya itu karena penampilan brilian yang selalu dia berikan pada tim yang dibelanya. Dia bisa mengubah kecepatan dan mengubah pertandingan”.



  1. Om Carlos Dunga (Mantan Pelatih Timnas Brasil)

“Kakà adalah seorang bintang. Ia punya kelas tersendiri di dalam tim. Ia brilian, ditakuti, tapi juga disenangi lawan. Mental bermainnya sangat teruji dalam situasi apapun”.



  1. Om Luiz Nazario Ronaldo da Lima (Mantan Pemain Madrid, Milan dan Legenda Brasil dan dunia)

“Kakà menjaga penampilan di dalam maupun di luar lapangan. Sikap itu yang akan memperpanjang karirnya”.



  1. Om Ronaldinho (Mantan Pemain Barcelona, Milan, Timnas Brasil)

“Tidak ada masalah siapa yang menjadi pemain terbaik, yang penting adalah pemain Brasil. Apalagi yang memperolehnya adalah Kakà. Ia sangat pantas menerimanya. Tahun 2007 banyak yang dilakukannya dengan istimewa, jadi hasil tersebut pantas ia terima”.



  1. Abang Andriy Shevchenko (Mantan Pemain Milan, Chelsea, Timnas Ukraina)

“Bermain bersamanya menjadi catatan tersendiri buat saya. Apalagi ketika itu posisinya lebih kepada gelandang serang. Umpan-umpannya menjadi kesenangan buat para striker. Namun, dia juga seorang pemain yang berbahaya di dalam lapangan. Dia juga seorang teman yang menyenangkan, apalagi kalo soal agama. Saya masih merindukan bermain bersamanya dalam satu tim”.



    17.  Any Leite (Fans Numero Uno)

“Bagi saya, Kakà itu bukan hanya sekedar pemain bola biasa. Ia adalah seorang inspirator yang telah mengubah kehidupan saya secara keseluruhan. Kata-katanya yang diucapkan ketika meraih Penghargaan Ballon d’Or 2007 benar-benar telah menyentuh hati saya. ‘Alkitab mengatakan, Tuhan akan selalu memberi kepada kita lebih dari yang kita minta dan itu yang terjadi dalam kehidupan saya’. Percaya atau tidak, kata-kata itu membuat saya tersadar tentang betapa baiknya semua perbuatan Tuhan dalam hidup saya yang selama ini tidak saya sadari. Dan sejak saat itu saya benar-benar percaya kepada Tuhan. Karena itu, bagi saya Kakà pantas untuk diidolakan oleh banyak orang, termasuk saya. Dia punya kharisma yang bikin semua orang yang mengenalnya akan langsung jatuh hati kepadanya. Perilaku yang baik, rendah hati, mudah bergaul, pantang menyerah, dan relijius adalah sikap yang patut ditiru dan dikagumi dari sosok seorang Kakà. So adore you lah Bang!”



39


HAPPY BIRTHDAY KAKÀ

40

Nah salah satu alasan aku nulis cerita tentang Kakà ini adalah karena tepat hari ini Kakà berulang tahun ke-33. Yeyaiii. Biasanya tiap dia ulang tahun bikin tulisan happy birthday gitu sama wishesnya sekalian atau ga buat video trus di aplod ke situs resmi ulang tahunnya Kakà, ke Facebooknya, ke twitter, atau ga yang lagi heboh sekarang instagram. Tahun ini juga masih sama, bikin foto trus aplod ke situs web dan jejaring sosialnya si abang ini. Tapi aku juga sekalian bikin tulisan buat nunjukin betapa cintanya aku sama Kakà. Hahahhaha. Aku mah gitu orangnya!

p_88.gif

Whatever,


Happy 33rd birthday Ricky Kakà. All my wishes are same every year. All the best for you. Long life and keep inspiring for everyone in this world. I love you. God bless you.


41

42

43

Berhubung ultah Kakà bersamaan dengan Hari Bumi atau Earth Day, makanya ucapan spesial ulang tahunnya juga aku buat spesial dari Tanah Sumba. Foto ini berlatarbelakang Bukit hijau nan indah yang ada di Sumba, namanya Bukit Wairinding. Sebagai kencintaanku sama Bumi pertiwi ini dan sebagai ucapan spesial untuk idola yang spesial, maka aku mempersembahkan Ucapan Happy Birthday dari salah satu pemandangan terkeceh yang hijau seperti lapangan bola, dari selatan bumi Indonesia. Once again, Happy Birthday Kakà and Happy Earth Day to my amazing planet.

IMG_8489

Ga cuma foto aku doang yang spesial. Karena tahun ini aku genap mengagumi Kaka`selama 8 tahun dan karena angka 8 itu adalah nomor punggung pertamanya sebagai seorang pemain sepakbola, maka sebagai fans numero unonya dari Indonesia, aku ngasih ucapan selamat ulang tahun sekali lagi dari 8 bahasa daerah suku di Indonesia

Wilujeng tepang taun, Kaka` (Sunda)

Sugeng tanggap warsa, Kaka` (Jawa)

Swasti wanti warsa Kaka` (Bali)

Magello’ki manenge, Kaka` (Bugis)

Helama hari jadi, Kaka` (Sabu)

Salama allo kadadian, Kaka` (Toraja)

Selamat hari kajadiang, Kaka` (Ambon)

Selamat wari ketubuhen, Kaka` (Karo)

Parabens, Ricky Kaka`!

(big thanks to semua temanku yang udah ngasih tau aku tentang bahasa daerahnya. jadi ikut belajar bahasa kalian juga. love ya)

2015413232131

happy-birthday-kaka'-jpg

Sekian.

kaka's signature

Sumber :

  • Idan Hermanto, 2010. Membaca Keajaiban Kakà
  • Majalah Bola seri Bintang Kakà 2008
  • Wikipedia
  • Instagram Kakà
  • flogvip.net/fcdokaka
  • fotolog.com/caroline_celico
  • Google
  • YouTube

Pengen kepo lebih jauh tentang kehidupan Kakà atau istrinya, cek Instagram & twitter Kakà @kaka ; Carol @cacelico

Jangan lupa follow instagram dan twitterku @anykaka22

Matur thank you. God bless you all.

2 thoughts on “STORY ABOUT KAKÀ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s