Jogja, is a little thing called love! (22 Juni 2009 – 6 Juli 2014)

Merapi. Itu adalah hal pertama yang Saya lihat ketika memasuki wilayah Yogyakarta dari dalam pesawat. Tinggi, megah, dan puncaknya ditutupi awan. Pemandangan yang begitu menakjubkan di pagi hari itu menjadi awal dari segala kisah saya di kota berbudaya ini selama 5 tahun. 22 juni 2009. Masih terbawa suasana hujan dari Pulau Dewata, akhirnya dengan cuaca berawan dan dinginnya udara pagi di kota ini, saya menginjakkan kaki untuk pertama kali di Pulau Jawa. Dan kota pertama yang saya pijaki adalah Yogyakarta. Bandara Adi Sucipto menjadi saksi bisu, awal dan akhir perjuangan saya di kota ini.

Ini seperti mimpi. Selama SMA saya tidak pernah membayangkan bahwa suatu saat nanti saya akan melanjutkan pendidikan di kota Jogja ini. Bahkan, Jogja tidak masuk dalam daftar kota tempat dimana saya akan menimba ilmu lebih jauh. Tapi siapa sangka, kota pelajar ini memberikan saya begitu banyak pelajaran dan kenangan yang tidak akan pernah saya lupakan dalam hidup.

Flashback!

Masih kebayang, 20 juni 2009 kemarin ketika terakhir kalinya saya tidur dikamar saya di rumah tercinta saya. Membayangkan ketika untuk pertama kalinya saya berpisah dengan keluarga saya. Untuk pertama kalinya jauh dengan orangtua. Untuk pertama kalinya berpisah dengan sahabat-sahabat tersayang. Untuk pertama kalinya merantau. Untuk pertama kalinya tinggal di tanah orang. Dan untuk pertama kalinya naik pesawat. Ga kebayang rasanya. Saya lahir di Kupang, namun sejak berumur 3 tahun saya bertumbuh dan dibesarkan di Waingapu, Sumba Timur. Dan selama 15 tahun hidup di kota Waingapu, belum pernah sedikitpun saya pergi jauh meniggalkan kedua orang tua saya. Dan 5 hari setelah pengumuman kelulusan, saya pun harus meninggalkan zona nyaman saya dan bersiap untuk memulai kehidupan yang baru di tanah rantau.

21 juni 2009 pukul 14.30 dengan rasa campur aduk yang berkecamuk dalam pikiran saya, sayapun meninggalkan Tanah Marapu ini. Naik pesawat untuk pertama kalinya tidaklah begitu buruk. Saya menikmatinya. Saat itu saya diantar Ayah saya sampai di Bali karena kebetulan sedang ada tugas di Bali. Kamipun berpisah di Bandara Ngurah Rai, Ayah saya menuju hotel, dan saya dijemput sepupu saya ke rumahnya. Itu juga adalah pertama kalinya juga saya menginjakkan kaki di Pulau Dewata. Berasa semua mimpi saya menjadi kenyataan hanya dalam beberapa jam. Kalau ditanya bagaimana perasaan saya saat itu, mungkin kalian akan tersentak mendengarnya. Saya merasa senang. Sangat senang sekalipun itu untuk pertama kalinya saya jauh dari kampung halaman saya. Bahkan tak ada rasa sedih berlebihan sampai meneteskan air mata yang saya rasakan. Entahlah, tapi saya begitu bersemangat untuk melihat dunia baru yang sudah muncul di depan saya. Saya adalah anak rumahan yang jarang keluar kecuali ke main ke rumah teman, gereja, dan sekolah. Selebihnya saya menghabiskan waktu di dalam rumah. Dan ketika saat ini tiba, ketika sekalinya saya melangkahkan kaki keluar dari tanah yang telah membesarkan saya, saya bagaikan seekor burung yang baru dilepas dari sangkarnya. Jiwa petualang dalam diri saya seolah-olah bangkit.  Bebas. Mungkin itu adalah kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan saya waktu itu.  Tak ada tangis dari kedua orang tua saya ketika perpisahan tiba. Namun saya tahu, jauh di dalam lubuk hati mereka ada perasaan kehilangan akan sosok putri bungsu mereka yang kini telah beranjak dewasa dan siap merantau di tanah orang demi meraih cita-cita.

22 juni 2009. Subuh sekitar jam 5, sepupu kandung saya yang juga baru saya kenal beberapa jam di Bali (seumur hidup, baru pertama kalinya bertemu. Bisa anda bayangkan?) mengantarkan saya ke Bandara Ngurah Rai. Itu untuk pertama kalinya saya Check In sendiri dan bingung harus bagaimana menuju ke ruang tunggu. Bandara Internasional ini tentu saja berbeda dengan Bandara Mauhau yang kini berganti nama menjadi Bandara Umbu Mehang Kunda. Besar dan luas. Bertepatan dengan hari ulang tahun Jakarta, jadi hampir semua penumpangnya adalah bule. Karena datangnya kepagian (takut ketinggalan pesawat), pintu masuk belum dibuka, jadi saya menunggu diluar bersama para turis mancanegara. Dan mendapat tontonan gratis yang bikin mata ga ngantuk lagi. Adegan ciuman beberapa bule di pintu masuk itu cukup membuat rasa kantuk saya hilang sesaat. Hahhaha. Saat check in, saya mengantri di belakang beberapa bule dan di belakang saya ada seorang bapak kira-kira berusia 40an, rapi, dan hanya membawa 1 tas laptop. Setelah check in saya bingung harus kemana. Daripada nyasar, sayapun akhirnya bertanya kepada bapak itu. dan ternyata ia adalah seorang dokter yang sedang bertugas di Bali dan hendak balik Jogja, akhirnya iapun menemani saya sampai ke ruang tunggu karena pesawat yang kami naiki sama. Thanks God. HP saya terus berbunyi 5 menit sekali. Dipantau orang tua dan kakak saya. Akhirnya pesawat Lion yang ditunggu datang. Dan senangnya lagi si dokter itu duduk di samping saya, dan disampingnya lagi ada seorang suster. Jadilah perjalanan 1 jam yang menyenangkan dari Bali-Jogja. Namun belum sempat mengucapkan terimakasih kepada dokter itu, ia sudah menghilang di tengah keramaian bandara. Sedih rasanya.

22 Juli 2009, pukul 06.30 saya tiba di Jogja dengan selamat. Dan di jemput kakak saya beserta kedua temannya, Ka fandy dan Om alfons. Keluar dari bandara, kami melewati jalan solo dan kata yang terucap dari mulut pertama kali adalah ‘Thanks God, I’m in Jogja’. Setelah melewati 2 lampu merah, si kakak belok ke kanan ke Jalan Babarsari dan menunjukkan kampus pertama yang saya lihat, UPN. Setelah itu dia menunjukkan kampus yang akhirnya menjadi almamater saya, Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Pertama kali sampai di Jogja, saya tinggal di kosan kakak, di Mrican, dekat kampus hukum UAJY.

Dan sejak hari itu, 22 juli 2009. Kisah saya di kota penuh cerita ini dimulai!

10424551_1447522915504325_563939286_a

Teman saya pertama kali datang ke jogja adalah Radesh, yang juga teman 1 SMA namun beda jurusan. Kakak saya dan kakaknya berteman. Jadilah kami maba waktu itu, dan karena asal kami sama maka tak ada kendala saat berkomunikasi dengan logat kami yang masih kental. Hanya saja sewaktu SMA kami tidak pernah sekalipun bertegursapa. Paling kalau berpapasan di tempat apel pagi lapangan sekolah, hanya senyum-senyum ga iklhas. Jadi bisa dibayangkan saat pertama kali kami saling menyapa. Itu krik-krik banget. Hahhahah mana kita tahu kalau akhirnya di Jogja kita bisa jadi sahabat sedekat ini. Dia ketrima di komunikasi UPN, dan saya masih ga jelas dimana. Sambil menunggu ujian dan hasil SNMPTN (waktu itu daftar di UGM dan Undip. Pengen banget masuk Teknik Lingkungannya Undip), saya mendaftar di UAJY yang memang tempat tujuan saya ketika memutuskan untuk kuliah di Jogja. Tapi setelah mengambil formulir pendaftaran di kampus 2 UAJY, saat pertama kali memasuki kampusnya, hati saya sudah menetapkan pilihan untuk menuntut ilmu di universitas ini, ga peduli lagi sama nama besar UGM maupun Undip. Ga tau kenapa. Ada sesuatu yang bikin saya nyaman ketika melihat bangunan dan suasana di kampus ini. Dan saat pengumuman SMNPTN keluar, saya pun sah menjadi mahasiswa Teknobiologi UAJY. (Gak lulus SNMPTN. Syukurlah).

Karena si Radesh udah jelas kuliahnya dimana, akhirnya diapun dicarikan kos. Dan ketemu. Sebuah kosan yang stiap sudutnya memiliki sejuta kenangan, kenangan yang ga akan pernah bisa dilupakan. Bernama JTH. Awalnya sering main ke kosan ini, pertama kali masuk gerbangnya langsung suka. Perasaannya sama kayak waktu masuk kampus UAJY. Nyaman. Dan akhirnya setelah resmi jadi anak UAJY, tepat 9 Agustus 2009, saya resmi jadi anak kos JTH penghuni Gang Delima II. Sekos sama Radesh dan makhluk-makhluk ajaib lainnya di kosan ini.

Pertama kali jalan-jalan di Jogja itu ke Malioboro bareng Radesh sama mamanya yang ikut antar dia ke Jogja. Habis dari Malioboro kami lanjut ke Amplaz. Pergi siang dan pas baliknya udah gelap. Emang superlah kami waktu itu. Pokonya kalo yang namanya jalan-jalan akan selalu lupa waktu. Pernah juga waktu itu jalan-jalan sama Om Alfons naik taxi ga tau sih kemana. Lupa. Nah pas pulang, seperti biasa depan Amplaz macet, apalagi waktu itu ada acara Sunsilk gitu yang bintang tamunya Peterpan (sekarang Noah). Dulu waktu SMP saya ngefans banget sama Peterpan dan berharap suatu hari nanti bisa ketemu mereka. Dan sekali lagi mimpi saya menjadi kenyataan. Taxi yang kami tumpangi berhenti tepat di depan Amplaz dan pada saat itu, Peterpan sedang di atas panggung dan Ariel menyanyikan sebuah lagu. Oh damn, itu toh yang namanya Ariel… putih banget dan emang cakep sih. Pengen turun dari Taxi dan lihat lebih dekat lagi, tapi gak bisa, saking macetnya. Belum pernah ngalamin yang namanya macet. Baru pertama kali ini, dan sekalinya ngerasain macet, ketemu abang Ariel dkk.

Jalan-jalan kami selanjutnya adalah ke Alkid (alun-alun kidul) bareng kakak Radesh dan pacarnya. Sudah tentu, kalo ngomongin alkid dan maba, pasti harus ngerasain tradisi ngelewatin 2 pohon raksasa yang ada di tengah lapangan dengan mata tertutup. Konon katanya, kalau berhasil ngelewatin pohon itu, maka keinginannya akan terkabul. Apapun itu. Kamipun mencoba, dan sampai lulus, saya ga pernah berhasil ngelewatin pohon itu -_-.

Mahasiswa Fakultas Teknobiologi, UAJY.

14 Agustus 2009. Pertama kali masuk ruangan 2208 Kampus II UAJY buat briefing inisiasi. Dan itu pertama kalinya saya bertemu dengan teman-teman dari berbagai daerah yang akan menjadi teman seperjuangan saya selama kuliah di fakultas ini. Dan mereka saya klasifikasikan sebagai makhluk-makhluk endemik, yang ga bakal pernah saya temui jenis yang seperti mereka di tempat lain. 1 kata buat mereka, GILA!

18 Agustus 2009, saya resmi menyandang status Mahasiswa. Itu adalah kuliah perdana saya di FTb. Dan selanjutnya laporan, deadline tugas, praktikum, presentasi, kunjungan lapangan, begadang, udah jadi makanan sehari-hari selama menempuh kuliah di Jogja.

Laporan dan kisahnya

Kalau semasa SMA, hidup serba teratur, mulai dari makan sampai tidur semuanya terjadwal dengan baik. Jam makan, ya makan. Jam 9 udah bobo cantik, jam setengah 6 udah bangun. Jangan pernah mengharapkan hal seperti itu terjadi dalam dunia perkuliahan. Dan jangan pernah menyebut diri kamu berstatus mahasiswa kalau ga pernah begadang!

Tidur adalah barang langka buat mahasiswa biologi atau saya lebih senang menyebut status saya sebagai anak teknik (berasa keren gimana gitu, emang anak teknik sih àteknobiologi, nah teknik nya itu dari kata tekno. okeh). Jangan pernah bangga jadi anak teknobio kalau ga berhasil naklukin yang namanya laporan. Kalau ditanya siapa sahabat anda selama kuliah, ya jawabannya si Laporan ini. Gimana gak, dia selalu membuat kita memikirkannya dan sampai ga bisa tidur kalo belum ketemu dia. Pacar aja kayaknya harus bersaing sama si laporan ini dulu buat mencari perhatian anak biologi. Bahkan mungkin lebih setia dari pacar. Kalo pacar paling nemanin nelfon, sms, whatsapp, bbm, line, we chat, Cuma sampai tengah malam, nah si laporan ini malah bisa nemanin sampai pagi dan ga tidur. Keren kan? (ya iyalah, dia yang dikerjain).

Kalau bagi anak biologi, kosan itu Cuma tempat buat istrahat doang, sedangkan kampus adalah rumah kedua buat ngabisin waktu seharian, mulai dari ngerjain laporan, kuliah, mandi, rapat, dan ngesurfing di dunia internet. Secara, kampus UAJY, WIfi-nya luar biasa kencang. Udah gitu, bersih lagi, apalagi toiletnya itu loh. Nah gimana ga nyaman seharian di kampus? Hahaha

Dalam seminggu, waktu tidur saya bisa cuma beberapa jam aja. Makanya, badan saya dari dulu ya Cuma segini-gini aja. Tulang berjalan.

Ceritanya gini. Tidur malam biasanya hampir jam 3 subuh (udah pagi ya). Udah gitu keesokan harinya kuliah 3 sesi, sesi 1 praktikum (jam setengah 8), sesi 2 kuliah tatap muka, sesi 3 kosong (dipakai buat japok), dan sesi 4 kuliah lagi. nah sebelum praktikum itu selalu ada pretest tentang acara yang akan dipraktikumkan. Jadi harus belajar. Okeh kalo udah masalah ini, SKS sudah pilihan terbaik (sistem kebut sepuluhmenit). Jadi belajarnya pas udah di depan lab aja. Kayaknya semua mahasiswa FTb penganut sistem ini. Yakin deh. Sesi 4 itu biasanya selesai jam setengah 7 malam. Nah habis itu lanjut rapat jam 7-9. Habis itu baru bisa makan. Syukur kalo ada nafsu makannya. Biasanya kalo udah cape, bawaannya Cuma pengen nempel di kasur. Kalo udah pulang jam segitu biasanya tempat makan paling praktis dan cepat adalah burjo dekat kos. Biasanya kalo beli dan ga ada teman, makanannya dibungkus. Terimakasih sudah sering menyelamatkan saya dari rasa lapar ya Aa Burjo. Nah habis itu langsung balik kos, niatnya langsung mandi. Eh baru sampai depan pintu masuk kosan, udah ngeliat kamar teman rame lagi pada ngumpul, diajak lah maen kesitu sekalian numpang makan sampai 1 jam kemudian. Lupa kalo lagi capek. Kalau mau langsung masuk kamar juga ga enak, soalnya saya orangnya memegang prinsip, sesibuk apapun kegiatan saya, harus selalu meluangkan waktu bersama teman-teman walaupun hanya beberapa menit. Kesibukan saya tidak akan megubah persahabatan saya dengan teman-teman kos yang udah kayak saudara sendiri. Ya walaupun, kalo di ajak jalan sering nolak sih karena tuntutan tugas dan laporan yang selalu deadline. Akhirnya jam 10, masuk kamar istrahat bentar. Baru mau memejamkan mata, time table yang ditempel seolah mengingatkan bahwa ada laporan yang harus dikumpul besok sesi 1. Akhirnya saya bergegas mandi dan bersiap menghidupkan laptop ngerjain laporan tercinta. Seperti biasa, kalo udah buka google, kata pertama yang diketik adalah facebook dan twitter. Ga tau kenapa, kalo belum nyentuh 2 jejaring social itu belum afdol. Apalagi kalo udah ketemu teman chat yang asik.. selamat malam dunia sudah. Untungnya teman chat yang satu ini selalu ngingetin buat ngerjain laporan. Ehm. Kadang juga nemenin sampai pagi gara-gara nonton bola hahhaha. Akhirnya jam menunjukkan 00.00 dapat ilham dan semangat buat ngegarap laporan. Lagi asik berduaan sama laporan, tiba-tiba terdengar bunyi piring dipukul pertanda bakso setan nongol di depan gerbang yang ditandai dengan langkah kaki beberapa makhluk insomnia lainnya yang berlarian ke pintu gerbang demi semangkuk bakso yang memiliki kenikmatan duniawi. Sumpah ini bakso enak banget. Apa daya, laporan ditinggal dan ikut nimbrung anak-anak yang udah ngantri beli bakso. Okeh, 20 menit waktu terbuang untuk makan bakso. Eh habis makan bakso bukannya semangat, malah tambah ngantuk. Pengen banget rasanya nyentuh kasur, tapi baru sejenak membaringkan badan, poster Kaka’ yang tertempel tepat di depan mata seolah menyemangati untuk melanjutkan laporan. Semangat kembali membara. Apalagi beberapa jam kemudian ada siaran bola. Makin bersemangat. Saya selalu membuat peraturan untuk diri saya sendiri dan peraturan ini kudu, wajib, mesti, harus ditaati oleh saya, ga ada alasan. Salah satunya adalah, kalau mau nonton bola, syaratnya lapora harus beres. Akhirnya laporan pun diselesaikan tepat saat pertandingan bola kick off. Awal pertandingan itu biasanya ditemani dengan bunyi printer yang lagi ngeprint laporan. Biasanya itu sekitar pukul 3 pagi. Nonton bola sampai jam 5. Mau tidur, eh si Ibu kos udah bangun dan bersih-bersih depan kamar. Udah gitu kuliahnya sesi 1 lagi. ya udah selamat jalan. kalo kondisinya udah gini, biasanya kelas adalah tempat tidur yang paling nyaman. Makanya ga heran kalo banyak anak biologi yang hobinya tidur di kelas. Ya karena itu lah. Dan kondisi ini selalu terulang dalam kurun waktu 3 tahun berturut-turut. Siang jadi malam, malam jadi siang. Begitulah siklus hidup anak FTb.

Saat-saat berduaan sama si Laporan ini memang selalu ngangenin. Kebiasaan begadang sampai pagi inipun terus berlanjut, setelah menyandang gelar sarjanapun saya tetap memegang predikat insomner akut / makhluk nocturnal (aktif di malam hari). Tidur tetap jam 1 ke atas. Efek laporan itu ternyata memiliki dampak berkepanjangan bagi yang menganutnya.

Film dan bola

Tugas yang bertumpuk, dan laporan yang mengejar, menjadikan saya jarang mendapatkan hiburan atau menghabiskan waktu bersama teman kos untuk keluar jalan-jalan atau refreshing. Karena itu, menonton film adalah salah satu cara untuk menghilangkan stress dan mendekatkan diri dengan teman kos. Dan biasanya film yang kami tonton bergenre horror thriller. Pokonya hantu-hantu gitu atau pembunuhan.

Laptop saya yang bernama Toshi pun, sampai menjadi korban keganasan anak kos yang hobi banget nonton film. Gimana gak, hampir tiap hari kami menyewa film dan menontonnya. DVD room si Toshipun akhirnya hanya bertahan 1 tahun dan tidak bisa digunakan lagi. Sedih rasanya. Kalau udah nonton film horror ya ujung-ujungnya pada takut tidur sendiri dan tidur bareng di salah satu kamar yang paling gede di kosan. 3 kasur diatur sedemikian rupa untuk menampung 5-6 orang dalam satu kamar. Bisa anda bayangkan? Hahahhah. Belum lagi kalo ada siaran bola, bakal berlanjut sampai pagi sudah. Walaupun ujung-ujungnya yang bertahan nonton Cuma 1 orang, yang lain udah pada tepar. Parahnya itu kalo udah pada tidur bareng, dan besok ada yang kuliah sesi 1, biasanya pada kebablasan semua, atau ga kalo emang niat kuliah pasti tetap cus dengan resiko ga mandi hahahha. Itu sudah biasa.

Ga Cuma film horror yang sering kami tonton. Untuk menetralisir suasana, kami juga suka menonton film yang bergenre sedih. Hal yang paling ga bakal saya lupain itu adalah ketika kami menonton film ‘My Mom’. Dari belasan orang yang nonton, Cuma saya dan teman saya yang tidak meneteskan air mata, sedangkan belasan teman lainnya pada larut dalam kisah tentang anak dan ibu itu. bahkan teman saya yang sangat tomboy pun luluh hatinya ketika menonton film itu. Sumpah sedih banget. Sebenarnya saya dan teman saya yang ga nangis itu bukan karena mati rasa, tapi karena teman-teman yang nangis pada terisak-isak sampai menarik ingusnya dalam-dalam sehingga suara tangisannya itu mengganggu konsentrasi kami yang lagi serius. Jadinya filmnya ga sedih lagi, tapi lucu. Hahahhah. Habis nonton, semua matanya pada merah. Ya ampuun, anak-anak ini.

 JTH

Kalau ditanya apa yang paling ngangenin dari Jogja, sudah pasti jawaban saya adalah kosan tercinta, Jogja Timur Haus.

Saya menghabiskan banyak waktu dan kenangan yang penuh cerita, bahagia, sedih, tertawa, menangis, marah, kesal, kecewa, dan semuanya di tempat ini. Kosan ini tidak hanya mengajarkan saya tentang hal berbagi, tetapi juga memberikan saya banyak pelajaran tentang arti persahabatan yang sebenarnya dan bagaimana memahami karakter orang dari berbagai suku, budaya dan daerah di Indonesia ini. Kosan ini kayak punya mantra yang bikin setiap penghuninya betah di tempat ini, dan juga bisa mengubah karakter sesorang yang awalnya pendiam bisa jadi rame dan asik. That’s the power of our beloved dormitory.

Anak- anak kosan ini kalau menurut saya, adalah anak kosan yang tingkat kekompakannya paling tinggi segangdelima. Gimana gak, makan bareng, belanja bulanan bareng, jalan-jalan bareng, sampai jomblopun bareng-bareng hahahha. Biar ada yang punya cowok, tapi kalo udah menyangkut acara jalan-jalan bareng sekos, cowoknya pasti ga ikutan. Dan cowok anak kosan pun udah pada akrab sama seisi JTH. Jadinya enak.

Dari gunung sampai pantai udah pernah dijalani semua bareng-bareng sekosan. Dan kalau kangen gini, Cuma bisa lihat foto sama video aja. Perbedaan kakak-adik tingkat tak Nampak dalam keseharian kami. Semuanya pada dekat. Dan sering bikin rusuh di tempat makan kalo lagi makan bareng. Ga Cuma di tempat makan doang, kosan kami juga sering bikin heboh segang kalo lagi ada yang ulang tahun, bahkan sampai ditegur pak RT. Gimana gak, yang ulang tahun pasti dikerjain habis-habisan mulai dari ceplokin telur sama tepung dicampur air selokan trus diikat di pohon dan dibiarin sendiri. Belum lagi adegan kejar-kejaran sampai bikin kosan dan jalan sekitar kotor. Dan diliatin anak kosan tetangga sama warga sekitar hahahha Gila gak tuh? Momen paling ngangenin lah kalo lagi ulang tahun itu.

Seharmonis-harmonisnya hubungan antar anak kos, gak memungkiri juga kalo ada konflik internal di dalamnya. Permasalahannya Cuma 2, yang pertama karena terlalu dekat dan yang kedua masalah klasik, cinta. Kalo alasan yang pertama, efeknya Cuma sebentar, tapi untuk alasan kedua bisa berlangsung dalam jangka waktu panjang. Cinta itu emang bisa ngedeketin yang jauh dan bisa juga memisahkan yang dekat. Yang paling ga enak itu kalo kamu ada di antara 2 pihak yang berkonflik dan ketika kamu memihak salah satu, maka semua kebersamaan yang pernah dilalui itu ga ada artinya lagi. Dan saya selalu berada diantara 2 kubu yang bertikai. Terkadang ketika saya sedang berbicara dengan salah satu pihak dan diliatin pihak lain, saya selalu merasa bersalah. Dan untuk tetap bersikap netral dan menganggap semuanya biasa aja dalam kurun waktu beberapa tahun itu bukan perkara yang mudah. Saya harus bisa adil dan membagi waktu antara 2 pihak tersebut agar hubungan pertemanan kami tetap dekat. Masalahnya saya ga mau kehilangan salah satu teman hanya karena masalah cowok atau konflik kecil lainnya. Saya sudah mendengar beberapa versi permasalahan yang dialami dari kedua pihak yang mengalami maupun dari teman-teman yang lainnya. Sebenarnya kalo pihak yang bertikai itu mau meredakan sedikit ego mereka untuk menyelesaikan masalah, harusnya bisa teratasi dan ga ada adegan diem-dieman di dalam satu atap. Tapi ya saya ngerti, yang namanya masalah hati itu, emang susah buat diselesaikan oleh pihak luar, kecuali oleh diri mereka sendiri. Memaafkan mungkin semudah yang diucapkan, namun mengampuni adalah hal yang berbeda. Jujur saya sedih, kalo mengingat lagi beberapa sahabat yang dulunya begitu dekat sampai bikin ngiri yang lihat, tapi sekarang bahkan sampai perpisahanpun tak ada satupun kata yang terucap dari mulut mereka. Walau mungkin di dalam lubuk hati mereka ada rasa ingin bertegursapa lagi. tapi apadaya, keegoisan dan rasa sakit hati yang mereka rasakan telah mengubur semua hasratnya itu. Mungkin. Mana kita tau isi hati seseorang. Tapi saya yakin kalau kita pernah punya pengalaman yang membahagiakan dengan sesorang dan dia pernah menjadi hal yang begitu penting dalam hidup kita, teman berbagi dalam segala hal, sekalipun dia pernah menyakiti kita, hati kecil kita akan selalu bisa memaafkan mereka walau kata maaf itu tidak pernah bisa terucap.

Nah yang paling susah itu adalah ketika hendak jalan-jalan atau merayakan ulang tahun atau acara wisuda. Siapa yang di ajak dan siapa yang ga diajak. Karena kalau satu pihak udah ikut, mereka akan merasa terganggu kalo pihak yang berseberangan juga pada ikut. dan yang paling kasian itu adalah saya. Sebagai humas JTH, tugas saya adalah mengatur dan menghubungi anak-anak setiap ada acara acara kosan. Secara saya yang paling dekat dengan semua anak kos. Kalo udah ngomong ke salah satu pihak, komentar pertama adalah ‘ siapa aja yang ikut’. nah kalo udah tau pesertanya siapa-siapa aja, pasti jawabannya langsung ‘aduh maaf ya, aku ga bisa ikut besok ada acara bla bla bla’. Selalu gitu. Gpp sih, bisa atau tidaknya dia ikut itu masalah kesekian, yang penting dikasihtau dulu. Kalaupun bisa, ya tetap aja di acara tersebut kayak berada di dunia berbeda. Mereka tetap dengan kelompoknya sendiri-sendiri. Kalo udah gini, saya harus bisa bersikap netral. Harus bisa bagi waktu dan tempat duduk untuk bercerita atau foto-foto dengan kedua pihak ini. Kadang saya mikir mereka ini kayak anak kecil. Tapi ya mau gimana lagi, selagi hubungan pertemanan saya dengan mereka baik-baik saja, saya ga peduli tentang permasalahan pribadi mereka. And that’s the point!

Terlepas dari segala permasalahan yang dialami, anak-anak JTH itu selalu bikin kangen dengan segala tingkah gila, gokil, keabsurdan dan otak kotor mereka. Biar berkelompok-kelompok di kosan, tapi kalau udah ada 1 anak yang digangguin atau dibikin nangis sama pacarnya pasti sekosan langsung bersatupadu untuk membantu. Satu kena masalah, semua turun tangan. Mereka udah ga cuman teman seperjuangan aja, tapi udah jadi keluarga. Nah ini yang bikin saya selalu terngiang wajah-wajah mesum mereka dan bikin berat banget waktu ninggalin Jogja. Saya masih pengen menghabiskan lebih banyak waktu dan mengukir cerita lagi bersama mereka. Semoga 2020 nanti bisa reunian. Ini salah satu rencana jangka panjang JTH. Semoga aja bisa terealisasikan (karena biasanya sesuatu yang udah digagas dengan penuh perencanaan yang matang, biasanya gagal total. Itulah JTH).

Gempa Bumi, Erupsi Merapi, dan Hujan Abu Kelud

Kalau memutuskan untuk kuliah di Jogja berarti harus siap mental dengan segala bencana alam yang sering terjadi. Salah satunya adalah gempa. Masih teringat waktu SMA dulu bagaimana gempa tahun 2006 itu meluluhlantahkan seisi kota Jogja. Jadi sebagian masyarakat Jogja mungkin sedikit trauma jika terjadi gempa. Dan ga tanggung-tanggung, gempa yang terjadi biasanya di saat semua orang lagi tidur di tengah malam. Selama kuliah di Jogja entah sudah berapa kali merasakan guncangan alami bumi tersebut. Mulai dari pagi, siang, sore, malam, tengah malam, dengan lama guncangan dan kekuatan guncangan yang bervariasi.

Dan yang paling menakutkan dari semuanya adalah ketika erupsi merapi tahun 2010. Ga cuman gempa, tetapi juga hujan abu vulkanik yang melanda kota Jogja dan seisinya. Tak ada tempat untuk pergi, karena semua jalur transportasipun ikut ditutup sementara. Masker adalah hal yang paling berharga di kala itu. betapa sepinya kota jogja waktu itu karena semua orang mengungsi meninggalkan kota ini. Buat anak rantau macam saya ini, ga ada lagi yang bisa dilakuin selain mendekam dalam kosan bersama beberapa teman rantauan lainnya. Yang paling susah saat itu adalah habisnya air di gallon dan sulitnya mencari sesuap nasi karena banyak warung makan yang tutup dan mas gallon ga nganterin gallon. Hanya Tuhan yang taulah bagaimana keadaan kami waktu itu. namun, badai pasti berlalu, secara berangsur-angsur keadaan Jogja mulai membaik. Dan Merapipun kembali normal.

4 tahun kemudian, Jogja kembali dilanda hujan abu, kali ini bukan dari Merapi tapi dari Gunung Kelud, Jawa Timur. 13 februari 2014, sehari sebelum Valentine, ketika bangun pagi dan cuaca di luar menjadi sangat gelap yang berlangsung selam kurang lebih seminggu dengan intensitas abu yang lebih tinggi dan lebih berbahaya dari Merapi. Jarak pandangpun hanya 1 M. aktivitas kota jogja seakan terhenti. Dan hal yang paling gila disaat keadaan sedang mencekam seperti ini adalah, kambuhnya penyakit adek kos saya, si Moncha, yang kala itu menderita maag akut bercampur ginjal di tengah malam. Bayangkan dengan keadaan seperti itu, kami keluar jam 12 malam untuk mencari taksi membawa manusia ini ke RS. Hampir setengah jam, melawan abu akhirnya ketemu juga taksi yang nyari duit walupun perusahaannya udah ngelarang keluar terkait debu vulkanik. Jadilah, malam valentine itu dirayakan di RS. Sungguh penuh cerita.

Dibalik semua kisah ini, terselip satu pelajaran hidup yang ga bakal  kita dapatkan kalo ga kuliah di Jogja ini. Bencana alam itu bisa melahirkan kepedulian yang tinggi antar sesama anak rantau. Dan juga kisah ini makin mendekatkan kebersamaan dan tali pertemanan kami di antara anak kos. Saling melindungi dan menjaga adalah hasil dari kebersamaan itu. Gimana ga tambah cinta sama Jogja?

Jogja

Kota berhati nyaman. Kota sejuta budaya. Kota penuh cerita.

Setiap sudutnya selalu mempunyai kisah tersendiri. Termasuk kisah bersama anak kosan. Mulai dari pusat perbelanjaannya sampai tempat wisatanya semuanya pernah terukirkan kisah saya. Betapa saya sangat merindukan kota ini.

Malioboro, adalah tempat yang paling sering saya kunjungi. Entah hanya sekedar untuk berjalan-jalan bersama teman-teman, untuk berbelanja, maupun untuk menikmati kesendirian di tengah kepenatan tugas kuliah yang bertumpuk. Kalian bisa bertemu siapa saja di tempat ini. Mulai dari makhluk pribumi dari sabang – merauke bahkan dari Negara belahan dunia lainnya. Malioboro tidak pernah sepi, apalagi di akhir pekan, banyak wisatawan tumpah ruah dari berbagai sudut bumi datang berkunjung ke tempat ini.

Tugu. Simbol kota Jogja ini merupakan jantung dari kota Jogja yang terletak di tengah-tengah wilayah DIY. Bila ditarik satu garis lurus, tugu ini akan menghubungkan Gunung Merapi, Keraton Jogja, dan Pantai Parangtritis yang sudah menjadi nyawa dari kota istimewa ini. Kamu belum sah jadi mahasiswa jogja kalau belum mengunjungi 4 ikon kota Jogja ini.

Musisi jalanannya yang selalu melantunkan lirik bernada di tengah keramaian kota Jogja juga merupakan satu hal yang selalu membuat saya selalu ingin kembali lagi kesana. Saya ingin kembali lagi menikmati suasana remang-remang di tengah lesehan angkringan yang begitu nikmat. Angkringan yang merupakan tempat tongkrongan paling bersahabat ini juga mengukir kisah terakhir saya di Jogja. Ketika itu adalah makan malam perpisahan anda dengan sahabat-sahabat tercinta, maka angkringan adalah pilihan yang tepat untuk menikmati hidangan terakhir ala kadarnya yang akan selalu menyimpan sejuta kenangan.

Cinta?

5929534245_e18255f401_z

Jogja selain ngangenin dan istimewa di hati, Jogja juga adalah kota romantis yang bertabur cinta. Ya, cinta.

Hidup kalian ga akan lengkap tanpa yang namanya cinta. Dan Jogja memberi saya cinta dengan segala kisahnya yang penuh cerita. Jatuh cinta pada seseorang yang ga pernah saya bayangin kalau saya akan sebegitu menderitanya ketika berpisah dengannya dan tidak tahu entah kapan bisa bertemu lagi.
Iya, seseorang yang membuat saya mencintainya tanpa alasan. Dia itu indah. Sebegitu indahnya untuk dipandangi dan dikagumi. Semua keindahan kota ini tak akan sempurna tanpa kehadirannya. Semoga, jika kita dipertemukan kembali kita masih bisa mengulang kembali cerita itu walaupun alur yang sedikit berbeda. Kalaupun kita tak mungkin bertemu lagi, izinkan saya untuk menyimpan kisah kita di kota ini, sehingga selalu ada alasan saya untuk kembali ke kota ini walau hanya untuk sekedar mengingat tentangmu, tentang bagaimana pertama kali saya memandang matamu dan mulai jatuh cinta. Entah berapa kali saya terus mengucapkan kalimat ini Because I love you, I love you more than anyone else in this world and you are still the apple of my eyes. Always.

Karena hanya cinta yang bisa membuat seseorang bisa tiba-tiba berpuitis, seperti saya. Hahhaha lebay juga sih. Mungkin kalau saya menulis semua cerita saya di Jogja dalam blog ini, sejuta katapun tak akan mampu menggambarkan bagaimana kenangan tentang mereka dan dia akan selalu, tetap, dan abadi hidup di dalam hati ini.

Time to Say Goodbye

Beribu-ribu hari telah saya lewati dan banyak cerita yang menginspirasi kehidupan saya selama di Jogja. Dan semua yang diingankanpun satu persatu mulai terwujud. Gelar Sarjana Sainspun resmi saya sandang pada 31 Mei 2014 yang lalu. Wisuda adalah suatu masa dimana kita memulai suatu bab kehidupan yang baru dan pertanda bahwa segala yang sudah dilewati selama ini, semua cerita, berbagai kenangan harus berakhir disini. Wisuda adalah awal mula perpisahan. Wisuda akan menutup lembaran kehidupan kita di tanah rantauan dan siap untuk meninggalkan zona nyaman kita dan mulai berjuang dari awal lagi. Siap atau gak siap, itulah kehidupan.

Jogja ga Cuma ngasih saya gelar sarjana, dia juga ngasih saya sahabat, ngasih keluarga, ngasih banyak adik yang ga pernah saya miliki apalagi adik cowok, dan juga ngasih saya cinta. Entah bagaimana saya membalas kebaikannya. Matur nuwun, Jogja.

Tiket udah ditangan. Minggu, 6 Juli 2014 saya sudah harus meninggalkan kota jogja tercinta. Entahlah sepertinya saya belum benar-benar siap untuk meninggalkan kota ini. Beberapa hari sebelum berangkat, entah karena doa saya dan juga doa orang yang tidak ingin saya tinggalkan, keberangkatan saya ditunda 13 jam. Yang seharusnya berangkat minggu pagi, ditunda sampai minggu malam. Saya bersyukur untuk bisa menikmati kota ini lagi walau hanya beberapa jam. Seminggu sebelum pulang, saya banyak mengabiskan waktu berquality time dengan teman-teman kos dan teman kelas terbaik. Bersama mereka, waktu terasa berhenti sejenak. Saya menikmati saat-saat kebersamaan terakhir itu.

Malam perpisahan pun tiba. Seisi kos dan teman akrab saya di biologi, serta adik saya mengantarkan saya ke Bandara Adi Sucipto, tempat dimana saya pertama kali di sambut di kota ini. Kalian ga akan pernah tau gimana rasanya ketika memberikan pelukan terakhir ke orang yang begitu berharga dalam hidup kalian, bahkan lebih berharga dari nyawa kalian sendiri, sampai kalian merasakan perpisahan itu.

Ga akan ada lagi Radesh yang selalu minta tidur bareng karena takut.

Ga akan ada lagi Siska, yang selalu teriak histeris kalo lihat Rossi.

Ga akan ada lagi Sara, yang selalu pengen jalan kemanapun walau ga ada uang.

Ga akan ada lagi Ekung, yang selalu mandi malam.

Ga akan ada lagi Ka menda, yang kalo udah ketawa ga bisa berhenti.

Ga akan ada lagi Miung, yang selalu heboh sama koko barunya.

Ga akan ada lagi Novi, yang selalu nyediain makanan di kantin kejujurannya.

Ga akan ada lagi Melissa, yang selalu ga punya duit.

Ga akan ada lagi Angel, yang selalu pulang malam.

Ga akan ada lagi Devi, yang selalu punya ide buat berbisnis.

Ga akan ada lagi ka tere, yang suka nyanyi triak-triak di kamar.

Ga akan ada lagi Moncha, yang selalu nangis kalo dimarahin.

Ga akan ada lagi Fifi, yang selalu betah dikamarnya entah ngapain.

Ga akan ada lagi Vivi, yang selalu kebingungan.

Ga aka nada lagi Rischa, yang selalu pergi sampai lupa pulang.

Ga akan ada lagi Tami, yang selalu pengen diet walau badannya udah kurus.

Ga akan ada lagi ida, yang selalu nyanyi dangdut.

Ga akan ada lagi Ka Eii, yang selalu sabar ngadepin adik-adik JTH.

Ga akan ada lagi ka Tince, yang selalu labil.

Ga akan ada lagi ka flora, yang selalu ngecatok rambutnya.

Ga akan ada lagi Ka Ge, yang selalu religious dan jadi panutan

Ga akan ada lagi Utha, yang selalu ga punya malu.

Ga akan ada lagi Dewi, yang selalu bertengkar sama pacarnya.

Ga akan ada lagi Ratieh, yang selalu di bully dari masa ke masa.

Ga akan ada lagi Amel, yang selalu tulalit

Ga akan ada lagi Onen, yang pendiam dan betah di kamarnya

Ga akan ada lagi ka dina, yang punya ketawa unik dan aneh

Ga akan ada lagi Bebeg & Fernand, yang selalu ngelakuin hal bodoh dan gila di kampus.

Ga akan ada lagi Bella, yang selalu sabar ngadepin kegilaan kami bertiga.

Ga akan ada lagi Richo, yang selalu bantuin kapanpun dimintai tolong.

Ga akan ada lagi Ibu kos, yang nyeremin kayak nenek sihir.

Ga akan ada lagi Aa dan Teteh burjo, yang burjonya selalu jadi tempat tongkrongan anak delima.

Ga akan ada lagi mba eni, yang selalu masakin kami masakan yang enak dengan harga murah.

Ga akan ada lagi ibu balqis, yang selalu jadi tempat curhat anak kos tentang keganasan ibu kos.

Ga akan ada lagi anak kosan arjamsat dan arjamsembilan, yang selalu nyebelin dan ngajak ribut.

Ga akan ada lagi pak bakso setan, yang selalu jadi penyelamat lambung kami di kala lapar menghampiri di tengah malam

Ga akan ada lagi mas siomay, yang selalu nongol tiap sore di depan kos

Dan ga akan ada lagi mas aqua, yang selalu setia ngantarin aqua ke kosan

Mereka semua itu adalah hal-hal kecil yang membuat saya begitu mencintai Jogja dengan segala isinya dan selalu kangen pada setiap detik yang dilalui bersama mereka.

Rasanya meninggalkan orang-orang yang kayak gini nih, kayak tubuh kamu dipisahin sama jiwanya. Ada yang kurang. Balik lagi ke pepatah lama, yang namanya pertemuan itu selalu berujung pada perpisahan. Sekeras apapun kamu berjuang untuk menghentikan waktu, tak akan pernah bisa menghentikan detik yang sudah berbunyi. Tak ada hal lain yang bisa kamu lakukan selain menikmati segala proses kehidupan yang sudah berjalan.

Lima tahun lalu, ketika saya berpisah dari keluarga, rasanya biasa saja. Tapi sekarang mengapa, ketika waktu yang sangat singkat ini di kota Jogja ini berlalu, saya begitu sulit untuk melepaskan semua kenangan yang sudah terjadi. Bahkan lebih sulit dari yang dibayangkan. Kegundahan itu mungkin hanya memiliki satu jawaban. Jogja memberi kenangan penuh cinta dalam waktu yang singkat.

So, JOGJA IS A LITTLE THING CALLED LOVE!

6 Juli 2014 pukul 20.50, pesawat yang saya tumpangipun segera meninggalkan kota JOgja tercinta. Gemerlap lampu kota Jogja menghantarkan saya menuju Bab baru di kehidupan saya yang baru. Ketika saya menutup mata, wajah mereka satu per satu muncul di hadapan saya. Termasuk dia. Ketika saya membukakan mata, saya berharap ini Cuma mimpi semata, tapi ternyata, saya masih berada di kursi penumpang dan siap mendarat di Pulau Dewata. Semua berakhir di hari ini.

IMG_1802



Ijinkanlah aku untuk selalu pulang lagi, bila hati mulai sepi tanpa terobati……..


1104 km

Dulu ketika kakak tingkat saya selesai dan harus pulang ke kampung halaman, saya merasa sedih. Tetapi teman saya mengatakan bahwa orang yang ditinggalkan itu adalah yang paling sedih, apalagi kalau sudah memiliki kedekatan tersendiri. Ga akan semudah itu buat melupakan seseorang. Orang meninggalkan mungkin akan lebih mudah move on karena mereka mempunyai suatu hal baru yang dikerjakan sehingga lebih mudah untuk melupakan. Tapi setelah saya mengalaminya sendiri, saya menganggap bahwa yang dikatakan teman saya itu tidaklah benar. Bahkan sejak saya menginjakkan kaki untuk pertama kali kembali di kampung halaman saya, tak ada satu menitpun otak ini tidak memikirkan Jogja. Dan perasaan ini ga bisa dihilangin walau dengan melakukan berbagai aktivitas. Entah mengapa, saya begitu susah untuk melupakan Jogja.

Kini jarak telah memisahkan saya dengan mereka. 1104 km bukanlah jarak yang dekat. Namun sejauh apapun jarak yang memisahkan, bila kita tetap mengingat satu sama lain dengan segala kisah yang sudah kita lewati, jarak bukan lagi masalah. Hanya waktu yang mampu menjawab sejauh mana jarak yang terbentang ini memisahkan tali kekerabatan kita.

Terima kasih Jogja, untuk semua yang terjadi selama 5 tahun.

Terimakasih untuk kebahagiaan dan air mata

Terimakasih untuk keluarga yang baru

Terimakasih untuk sahabat dan adek

Terimakasih untuk selalu menjadi alasan buat kembali ke Yogyakarta

Hope to see you soon, JOGJA

Karena Jogja, selalu ada cerita….

2 thoughts on “Jogja, is a little thing called love! (22 Juni 2009 – 6 Juli 2014)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s