Ramuan Penghilang Bau Kamar Mandi dan Sampah

ACARA : IV

PENDAHULUAN

  1. Judul : Ramuan Penghilang Bau Kamar Mandi dan Sampah
  2. Latar Belakang

Pertambahan penduduk yang semakin pesat di daerah perkotaan dapat menyebabkan daerah pemukiman penduduk semakin luas dan padat, serta semakin kompleksnya kebutuhan dan peningkatan pola hidup masyarakat yang menyebabkan semakin banyaknya limbah sampah. Sampah didefinisikan sebagai segala macam buangan yang dihasilkan dari aktivitas manusia atau hewan yang sudah tidak dapat digunakan lagi.

Sampah menimbulkan banyak permasalahan baik di lingkungan maupun bagi kesehatan. Sampah menjadi masalah karena menimbulkan bau busuk (polusi udara), berjangkitnya berbagai penyakit, kontaminasi air tanah, dan timbulnya karbondioksida akibat pembakaran sampah. Sampai saat ini, sampah sebagai sumber bahan organik belum dimanfaatkan sepenuhnya. Untuk mengatasi masalah persampahan ini maka dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan kompos.

Untuk mengurangi bau yang ditimbulkan oleh sampah, dapat dibuat cairan penghilang bau dari bahan organik. Pada praktikum ini, cairan penghilang bau tersebut dapat dibuat dari kacang hijau.

  1. Tujuan

                    Praktikum ini bertujuan agar mahasiswa dapat membuat cairan penghilang bau bahan organik dan dapat mengidentifikasi mikrobia penghilang bau.

 METODE

  1. Alat dan Bahan

Adapun alat yang digunakan pada praktikum ini adalah ember plastik berukuran 10 L, blender, timbangan, gelas ukur, panci, kompor, saringan, dan botol semprot. Bahan yang digunakan diantaranya kacang hijau sebanyak 250 gr, air sebanyak 5 L, fermipan sebanyak 20 gr, molase sebanyak 100 ml, dan urea.

  1. Cara Kerja

Kacang hijau sebanyak 250 gr ditimbang dan direndam selama 6 jam. Kemudian diblender sampai halus dan disaring untuk diambil filtratnya. Lalu ditambahkan air sebanyak 5 L dan dipanaskan di atas kompor sampai hampir mendidih. Setelah itu didinginkan dan dicampur fermipan sebanyak 20 gr, molase 100 ml, dan urea sebanyak 10 gr. Setelah itu dimasukkan dalam ember dan ditutup rapat sampai tidak ada udara dan dibiarkan selama 3 minggu untuk proses fermentasi. Setelah 3 minggu, ember dibuka dan diambil 20 ml cairan jernih dan dimasukkan ke dalam botol semprot dan ditambahkan air sampai pengenceran 10 x. Lalu botol ditutup dan disemprotkan pada spot-spot bau yang berbeda. Perubahan bau yang terjadi kemudian diamati selama 2 – 4 menit.

HASIL DAN PEMBAHASAN

 Hasil

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, diperoleh hasil sebagai berikut.

Tabel Hasil Penyemprotan Ramuan Penghilang Bau pada Spot yang Berbeda

No Spot Bau Awal Bau Akhir
1 Toilet utara lantai 1 ++ +
2 Bawah wastafel Laboratorium Industri +++ +
3 Toilet selatan lantai 1 + ++
4 Toilet pusgiwa + ++
5 Ember bekas bonggol pisang ++ +
6 Tempat sampah kantin +

Keterangan : +++ = sangat bau

++ = bau

+ = agak bau

  • = tidak bau
  1. Pembahasan

                 Sampah adalah sisa kegiatan sehari hari manusia atau proses alam yang berbentuk padat atau semi padat berupa zat organik atau anorganik bersifat dapat terurai atau tidak dapat terurai yang dianggap sudah tidak berguna lagi dan dibuang kelingkungan, (Slamet,2002). Sampah menjadi persoalan yang cukup serius bagi masyarakat terutama di wilayah perkotaan. Selama ini masyarakat membuang begitu saja sampah ke tempat-tempat sampah dan menyerahkan urusan selanjutnya kepada petugas kebersihan. Timbunan sampah di tempat pembuangan akhir menjadi masalah tersendiri, baik itu menyangkut kesehatan maupun pencemaran lingkungan (Mifbakhuddin, dkk, 2010).

Fermentasi merupakan suatu cara untuk mengubah substrat menjadi produk

tertentu yang dikehendaki dengan menggunakan bantuan mikroba. Fermentasi bahan pakan merupakan kegiatan mikrobia pada bahan pangan sehingga dihasilkan produk yang dikehendaki. Mikrobia yang umumnya terlibat dalam fermentasi adalah bakteri, khamir dan kapang. Fermentasi adalah segala macam proses metabolik dengan bantuan enzim dari mikroba (jasad renik) untuk melakukan oksidasi, reduksi, hidrolisa dan reaksi kimia lainnya.  Proses tersebut menyebabkan terjadinya perubahan kimia pada suatu substrat organik dengan menghasilkan produk tertentu yang menyebabkan terjadinya perubahan sifat bahan tersebut (Winarno, dkk, 1980).

Penambahan bahan-bahan yang mengandung nutrien tertentu  kedalam media fermentasi dapat menyokong dan merangsang pertumbuhan mikroorganisme. Salah satu bahan yang dapat digunakan sebagai sumber nitrogen pada proses fermentasi adalah urea. Urea yang ditambahkan kedalam medium fermentasi akan diuraikan oleh enzim urease menjadi ammonia dan karbondioksida selanjutnya ammonia digunakan untuk pembentukan asam amino (Fardiaz, 1989).

Fermipan merupakan ragi roti yang dibuat dengan cara modern dari inokulum khamir yang berasal dari kultur murni. Populasi mikroba fermipan terdiri dari khamir Saccaharomyces cerevisiae serta sedikit dari golongan bakteri asam laktat seperti Lactobacillus aceti. Beberapa organisme seperti Saccharomyces dapat hidup, baik dalam kondisi lingkungan cukup oksigen maupun kurang oksigen. Organisme yang demikian disebut aerob fakultatif. Dalam keadaan cukup oksigen, Saccharomyces akan melakukan respirasi biasa. Akan tetapi, jika dalam keadaan lingkungan kurang oksigen Saccharomyces akan melakukan fermentasi. Dalam keadaan anaerob, asam piruvat yang dihasilkan oleh proses glikolisis akan diubah menjadi asam asetat dan CO2. Selanjutnya, asam asetat diubah menjadi alkohol. Proses perubahan asam asetat menjadi alkohol tersebut diikuti pula dengan perubahan NADH menjadi NAD+. Dengan terbentuknya NAD+, peristiwa glikolisis dapat terjadi lagi. Dalam fermentasi alkohol ini, dari satu mol glukosa hanya dapat dihasilkan 2 molekul ATP. Reaksi fermentasi alkohol, secara sederhana berlangsung :

C6H12O6 —————> 2 C2H5OH + 2 CO2 + 2 NADH2 + Energi

Proses fermentasi dalam pembuatan alkohol terkadang tidak dapat terkontrol. Terkadang proses fermentasi terjadi dengan waktu yang cukup lama, tergantung dari kemampuan ragi untuk merubah karbohidrat ke dalam alkohol. Dalam pemilihan ragi yang akan digunakan merupakan bagian yang paling penting dalam proses penyulingan alkohol. Ragi telah lama digunakan dalam proses penyulingan misalnya dalam proses pembuatan bir. Persiapan inokulasi ragi sering terkontaminasi oleh bakteri yang dibawa pada saat penyimpanan atau transportasi, sehingga kualitas alkohol yang dihasilkan harus disterilkan terlebih dahulu (Briggs, dkk, 2004).

Beberapa mikroba seperti Lactobacillus delbrueckii, Bacillus Brevis, Saccharomyces cerevisiae, bakteri aktinomycetes, ragi, dan jamur bermanfaat untuk mempercepat proses dekomposisi, menghilangkan bau busuk dan menekan pertumbuhan mikroba patogen. Mikroba tersebut dapat menguraikan bahan organik secara cepat untuk menghasilkan alkohol, ester, dan zat-zat anti mikroba. Pertumbuhan mikroba ini berfungsi dalam menghilangkan bau dan mencegah serbuan serangga serta ulat-ulat yang merugikan dengan cara menghilangkan penyediaan makanannya.

Salah satu proses fermentasi yang dapat dilakukan adalah ketika membuat ramuan penghilang bau kamar mandi dan sampah dari bahan organik. Prinsip dari metode ini adalah mencampurkan bahan organik dengan mikroba dan sumber energi yang kemudian difermentasi selama 3 minggu untuk menghasilkan mikroba tertentu yang mampu mengikat bau di udara. Pada praktikum ini bahan organik yang digunakan adalah kacang hijau, fermipan sebagai mikroba pengurai, urea dan molase sebagai sumber energi bagi mikroba yang tumbuh selama difermentasi.

Langkah awal pembuatan ramuan penghilang bau yaitu dengan merendam kacang hijau sebanyak 250 gr selama 6 jam namun dengan kondisi tidak sampai berkecambah. Fungsi perendaman ini untuk melunakkan kacang hijau sehingga mudah untuk dihaluskan. Setelah itu kacang hijau diblender sampai halus dan diambil filtratnya dan ditambahkan air 5 L lalu dipanaskan dengan tujuan untuk menjaga agar filtrat kacang hijau tidak terkontaminsi mikroba lainnya. Setelah dingin, cairan tersebut dicampur dengan fermipan sebanyak 20 gr yang berfungsi sebagai mikroba perombak bahan organik yakni kacang hijau, molase sebanyak 100 ml sebagai sumber energi, dan urea sebanyak 10 gr yang berfungsi sebagai sumber nitrogen mikroba. Setelah semua bahan tercampur, lalu dimasukkan ke ember dan ditutup rapat tanpa ada udara dan proses fermentasi ramuan tersebut dibiarkan selama 3 minggu. Setelah 3 minggu, ember tempat fermentasi dibuka dan diambil 20 ml cairan penghilang bau lalu diencerkan sampai 100 x dan disemprotkan pada tempat-tempat yang bau.

Kondisi awal ember setelah dibuka pertama kali adalah cairan yang berwarna coklat pekat dan terdapat bubuk-bubuk putih yang mengapung di atas cairan dan berbau pesing sangat tajam. Bau yang timbul menunjukkan bahwa terdapat mikroba hasil fermentasi yang hidup / tumbuh didalamnya. Bubuk – bubuk putih yang terapung tersebut kemungkinan adalah fermipan yang tidak tercampur merata sebelum difermentasikan. Hal ini tidak sesuai kondisi ramuan yang diharapkan karena ramuan yang dihasilkan seharusnya tidak berbau terlalu pesing  dan seluruh campuran bahannya merata. Hal ini dapat disebabkan karena seluruh campuran yang tidak tercampur merata dan masih adanya udara di dalam ember sebelum ditutup rapat dan difermentasikan.

Berdasarkan hasil penyemprotan ramuan penghilang bau pada beberapa spot yang berbeda diperoleh hasil yang berbeda juga. Pada beberapa tempat yaitu toilet utara lantai 1, tempat di bawah wastafel laboratorium industri, ember bekas bonggol pisang, dan tempat sampah kantin menunjukkan bahwa ramuan penghilang bau ini berhasil mengurangi bau yang ada. Sedangkan dua tempat lainnya yaitu toilet selatan lantai 1 dan toilet pusgiwa menunjukkan hasil yang sebaliknya yaitu setelah disemproti ramuan tersebut bau yang ditimbulkan semakin bertambah bau bercampur dengan bau ramuannya (bau + menjadi bau ++). Hal ini dapat disebabkan oleh tidak sempurnanya proses fermentasi yang dilakukan sehingga bau ramuan yang ditimbulkan lebih kuat dari bau pada spot yang disemproti, sehingga ketika bau spot itu menghilang, bau ramuan itulah yang tercium. Mikroba yang dapat merombak bau di udara adalah khamir Saccaharomyces cerevisiae yang diperoleh dari fermipan dan terbentuk dari hasil fermentasi selama 3 minggu. Secara keseluruhan, ramuan penghilang bau ini cukup efektif dalam mengurangi bahkan menghilangkan bau kamar mandi dan tempat sampah.

 KESIMPULAN

            Berdasarkan hasil percobaan di atas, diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut.

  1. Mahasiswa mampu mengolah bahan organik menjadi cairan penghilang bau.
  2. Saccaromyces cerevisiae merupakan mikroba yang mampu merombak bau di udara yang diperoleh dari proses fermentasi.
  3. Ramuan penghilang bau yang dibuat cukup efektif dalam mengurangi bau kamar mandi dan bau sampah.

DAFTAR PUSTAKA

Briggs, D., Boulton, C., Brookes, P., Stevens, R. 2004. Brewing Science and Practice. New York: Woodhead Publishing. Pg : 683-687

Fardiaz, S. 1989. Fisiologi Fermentasi. Bogor: Pusat Antar Universitas. Institut Pertanian Bogor. Hal 56-60.

Mifbakhuddin., trixie salawati., Arif Kasmudi . 2010. Gambaran pengelolan sampah rumah tangga tinjauan aspek pendidikan, pengetahuan dan pendapatan perkapita di RT 6 RW 1 kelurahan pedurungan tengah semarang. Jurnal kesehatan masyarakat indonesia vol 6 no 1 th 2010. http://jurnal.unimus.ac.id. Diakses pada tanggal 22 Oktober 2013.

Slamet J,S, 2002. Kesehatan Lingkungan. Gadjah Mada Universty Press. Yogyakarta. Hal 35-37.

Winarno, F.G., dan D. Fardiaz. 1980. Pengantar Teknologi Pangan. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Hal 139-143.

Semoga postingan ini dapat membantu dan memberikan informasi seperlunya bagi para pembaca. Kritik dan saran atas penulisan dan blog ini sangat diharapkan. Matur thank you. God Bless🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s