Mikrobia Udara

ACARA : V

 PENDAHULUAN

  1. Judul : Mikrobia Udara
  2. Latar Belakang

Mikroba terdapat dimana-mana di lingkungan sekitar kita seperti di tanah, air, dan udara. Udara sebagai salah satu komponen lingkungan merupakan kebutuhan yang paling utama untuk mempertahankan kehidupan. Udara dapat dikelompokkan menjadi: udara luar ruangan (outdoor air) dan udara dalam ruangan (indoor air). Kualitas udara dalam ruang sangat mempengaruhi kesehatan manusia, karena hampir 90% hidup manusia berada dalam ruangan.

Udara bukan merupakan habitat asli dari mikroba, tetapi udara sekeliling kita sampai beberapa kilometer di atas permukaan bumi mengandung bermacam-macam jenis mikroorganisme dalam jumlah yang beragam. Peran udara dapat juga sebagai sarana infeksi nosokomial (infeksi rumah sakit). Setiap kegiatan manusia menimbulkan bakteri di udara. Batuk dan bersin menimbulkan aerosol biologi (yaitu kumpulan partikel udara). Kebanyakan partikel dalam aerosol biologi terlalu besar untuk mencapai paru-paru, karena partikel-partikel ini tersaring pada daerah pernapasan atas. Pencemaran udara akibat mikroba dapat berupa bakteri, jamur, protozoa dan  produk  mikroba  lainnya  yang  dapat  ditemukan  di  saluran udara dan alat pendingin beserta seluruh sistemnya. Gangguan  ventilasi  udara  berupa  kurangnya  udara  segar  yang masuk, serta buruknya distribusi udara dan kurangnya perawatan sistem ventilasi udara.

  1. Tujuan

Praktikum ini bertujuan untuk :

  1. Mengetahui mikroba di udara
  2. Mengetahui bentuk koloni mikroba di udara

    METODE

  1. Alat dan Bahan

Adapun alat yang digunakan pada praktikum ini adalah cawan petri, bunsen, dan inkubator. Bahan yang digunakan adalah media NA, media PDA, korek api, mikroba di ruangan non-AC.

  1. Cara Kerja

Tutup cawan petri yang berisi media NA dan media PDA steril dibuka dengan sudut 45o selama kurang lebih 10 menit di ruangan tidak berAC (Lab. Industri). Setelah 10 menit cawan petri lalu ditutup kembali dan dipanaskan pinggirannya dengan api bunsen. Kemudian cawan petri dibungkus terbalik dan diinkubator selama 48 jam dengan suhu 37oC. Setelah 48 jam, pertumbuhan koloni mikrobia udara diamati (bentuk koloni, tepian, elevasi, warna, diameter dan jumlahnya).

 HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. Hasil

Berdasarkan percobaan yang dilakukan, diperoleh hasil sebagai berikut.

Tabel 1. Karakteristik Morfologi Koloni Bakteri Udara pada Medium NA

Lokasi Gambar Keterangan
Ruangan non-AC Lab Industri
  1. Koloni 1
    Bentuk : circulair
    Tepi : erose
    Elevasi : raised
    Warna : kuning
  2. Koloni 2
    Bentuk : circulair
    Tepi : erose
    Elevasi : raised
    Warna : putih susu
  3. Koloni 3
    Bentuk : irregulair
    Tepi : undulate
    Elevasi : convex   regose
    Warna : putih transparan
  4. Koloni 4
    Bentuk : circulair
    Tepi : entire
    Elevasi : raised
    Warna : putih kekuningan

Tabel 2. Karakteristik Morfologi Kapang Udara pada Medium PDA

Lokasi Gambar Keterangan
Ruangan non-AC Lab Industri Pertumbuhan jarang
  1. Pembahasan

Udara merupakan media penyebaran bagi mikroorganisme. Mereka terdapat dalam jumlah yang relatif kecil bila dibandingkan dengan di air atau di tanah. Udara tidak mengandung komponen nutrisi yang penting untuk bakteri, adanya bakteri udara kemungkinan terbawa oleh debu, tetesan uap air kering ataupun terhembus oleh tiupan angin.

Menurut Pudjiastuti, dkk (1998), udara dibagi menjadi dua bagian yaitu udara luar dan udara dalam ruangan. Udara dalam ruang atau indoor air adalah udara dalam ruang gedung (rumah, sekolah, restoran, hotel, rumah sakit, perkantoran) yang ditempati sekelompok orang dengan tingkat kesehatan yang berbeda-beda selama minimal satu jam. Sedangkan udara luar atau outdoor air adalah udara yang bergerak bebas di atmosfer dan jumlahnya lebih banyak dari udara dalam suatu ruangan.

Menurut Lisyastuti (2010), kelompok mikroba yang paling banyak di udara bebas adalah bakteri, jamur (termasuk di dalamnya ragi) dan juga mikroalga. Kehadiran jasad hidup tersebut di udara, ada yang dalam bentuk vegetatif (tubuh jasad) ataupun dalam bentuk generatif (umumnya spora). Mikroba udara dapat dipelajari dalam dua bagian, yaitu mikroba di luar ruangan dan mikroba di dalam ruangan. Mikroba paling banyak ditemukan di dalam ruangan.

  1. Mikroba di luar ruangan

Mikroba yang ada di udara berasal dari habitat perairan maupun terestrial. Mikroba di udara pada ketinggian 300-1,000 kaki atau lebih dari permukaan bumi adalah organisme tanah yang melekat pada fragmen daun kering, jerami, atau partikel debu yang tertiup angin.  Mikroba tanah masih dapat ditemukan di udara permukaan laut sampai sejauh 400 mil dari pantai pada ketinggian sampai 10.000 kaki. Mikroba yang paling banyak ditemukan yaitu spora jamur, terutama Alternaria, Penicillium, dan Aspergillus. Mereka dapat ditemukan baik di daerah kutub maupun tropis. Mikroba yang ditemukan di udara di atas pemukiman penduduk di bawah ketinggian 500 kaki yaitu spora Bacillus danClostridiumyeast, fragmen dari miselium, spora fungi, serbuk sari, kista protozoa, alga,Micrococcus, dan Corynebacterium, dan lain-lain.

  1. Mikroba di dalam ruangan

Dalam debu dan udara di sekolah dan bangsal rumah sakit atau kamar orang menderita penyakit menular, telah ditemukan mikroba seperti bakteri tuberkulum, streptokokus, pneumokokus, dan staphylokokus.  Bakteri ini tersebar di udara melalui batuk, bersin, berbicara, dan tertawa. Pada proses tersebut ikut keluar cairan saliva dan mukus yang mengandung mikroba. Virus dari saluran pernapasan dan beberapa saluran usus juga ditularkan melalui debu dan udara. Patogen dalam debu terutama berasal dari objek yang terkontaminasi cairan yang mengandung patogen.  Tetesan cairan (aerosol) biasanya dibentuk oleh bersin, batuk dan berbicara. Setiap tetesan terdiri dari air liur dan lendir yang dapat berisi ribuan mikroba. Diperkirakan bahwa jumlah bakteri dalam satu kali bersin berkisar antara 10.000 sampai 100.000.  Banyak patogen tanaman juga diangkut dari satu tempat ke tempat lain melalui udara dan penyebaran penyakit jamur pada tanaman dapat diprediksi dengan mengukur konsentrasi spora jamur di udara.

Menurut Lisyastuti (2010), faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi mikroba udara adalah suhu atmosfer, kelembaban, angin, ketinggian, dan lain-lain. Temperatur dan kelembaban relatif adalah dua faktor penting yang menentukan viabilitas dari mikroorganisme dalam aerosol. Studi dengan Serratia marcesens dan E. coli menunjukkan bahwa kelangsungan hidup udara terkait erat dengan suhu. Peningkatan suhu menyebabkan penurunan waktu bertahan. Ada peningkatan yang progresif di tingkat kematian dengan peningkatan suhu dari -18° C sampai 49o C. Virus dalam aerosol menunjukkan perilaku serupa. Partikel influenza, polio dan virus vaccinia lebih mampu bertahan hidup pada temperatur rendah, 7-24° C. tingkat kelembaban relatif (RH) optimum untuk kelangsungan hidup mikroorganisme adalah antara 40 sampai 80%. Kelembaban relatif yang lebih tinggi maupun lebih rendah menyebabkan kematian mikroorganisme. Pengaruh angin juga menentukan keberadaan mikroorganisme di udara. Pada udara yang tenang, partikel cenderung turun oleh gravitasi.

Pencemaran udara dapat terjadi di luar (outdoor) dan di dalam ruangan (indoor). Pencemaran udara di luar ruangan biasanya terjadi akibat asap kendaraan bermotor dan asap industri sedangkan pencemaran udara di dalam ruangan akibat asap rokok, gangguan sirkulasi udara di gedung-gedung dan asap dari dapur tradisional, pemakaian kompor gas serta pemanas ruangan. Mikroorganisme yang berasal dari luar misalnya serbuk sari, jamur dan spora, yang bisa juga berada di dalam ruangan. Selain itu cemaran dalam ruangan yang berasal dari mikroorganisme dalam ruangan seperti serangga, jamur pada ruangan yang lembab, bakteri. Mikroorganisme yang tersebar di dalam ruangan dikenal dengan istilah bioaerosol (Pudjiastuti, dkk, 1998).

Bioaerosol adalah partikel debu yang terdiri atas makhluk hidup atau
sisa yang berasal dari makhluk hidup. Makhluk hidup terutama adalah jamur   dan   bakteri.   Penyebaran   bakteri,   jamur,   dan   virus   pada umumnya  terjadi  melalui  sistem  ventilasi.  Sumber  bioaerosol  ada  2 yakni  yang  berasal  dari  luar  ruangan  dan dari perkembangbiakan dalam  ruangan atau dari   manusia, terutama  bila  kondisi terlalu berdesakan. Pengaruh kesehatan yang  ditimbulkan  oleh bioaerosol  ini  terutama  3  macam,  yaitu  infeksi,  alergi,  dan  iritasi.. Kontaminasi  bioaerosol pada sumber air sistem ventilasi (humidifier) yang terdistribusi keseluruh ruangan dapat menyebabkan reaksi yang berbagai ragam seperti demam, pilek, sesak nafas dan nyeri otot dan tulang. Pada  usap  AC ditemukan  gram  positif  batang  dan  gram  negatif  batang.  Pencemar yang  bersifat  biologis  terdiri  atas  berbagai  jenis  mikroba  patogen, antara  lain  jamur,  metazoa,  bakteri,  maupun  virus.  Penyakit  yang disebabkannya   seringkali   diklasifikasikan   sebagai   penyakit   yang menyebar lewat udara (Pudjiastuti, dkk, 1998).

Kualitas udara dalam ruang dipengaruhi antara lain kondisi bangunan, elemen interior, fasilitas pendingin ruangan, pencemar kimia dan pencemar biologi. Buruknya kualitas udara dalam ruang akibat keberadaan pencemar biologi yaitu bakteri dan jamur ditengarai menjadi salah satu sebab kejadian sick building syndrome (SBS). Kondisi kesakitan akibat mikroba udara dalam ruangan bersifat akut akan tetapi bisa mengganggu penghuni dalam ruangan khususnya pekerja (Setyaningsih, dkk, 2003).

Sick Building Sindrome (SBS) atau sindrome bangunan sakit yaitu kumpulan gejala yang disebabkan terutama oleh buruknya kualitas udara ruangan, ditandai dengan keluhan-keluhan mata pedih, merah, berair, kepala pusing, batuk, pilek, hidung tersumbat, bersin-bersin, rongga mulut sakit, rongga mulut kering, badan panas dingin, mual, tidak nafsu makan, lesu, kelelahan, pegal-pegal anggota tubuh dan kulit gatal. Penilaian Indoor Air Quality (IAQ) pada beberapa perkantoran menggunakan pendingin ruangan (AC) di Hongkong terjadi dalam kontribusi terbesar yang menyebabkan ketidaknyamanan adalah total volatile organic compounds (TVOC), indoor airborne fungi count (AFC) dan airborne bacteria count (ABC). Beberapa genera dominan diidentifikasi terdapat pada beberapa ruang publik pada penelitian di Taiwan yaitu dari jenis bakteri Staphylococcus spp, Micrococcus spp, Corynebacterium spp, dan Bacillus spp. Sedangkan untuk jenis jamur contohnya Penicillium spp, Cladosporium spp, dan Aspergillus spp (Hodgson, 2000).

Menurut Volk & Wheeler (1989), untuk menghitung organisme dalam suatu volume udara digunakan teknik kualitatif sederhana yaitu dengan mendedahkan cawan hara atau medium di udara untuk beberapa saat. Selama waktu pendedahan ini, beberapa bakteri di udara akan menetap pada cawan yang terdedah. Semakin banyak bakteri maka bakteri yang menetap pada cawan semakin banyak. Kemudian cawan tersebut diinkubasi selama 24 jam hingga 48 jam maka akan tampak koloni-koloni bakteri, khamir dan jamur yang mampu tumbuh pada medium yang digunakan.

Praktikum ini dilaksanakan di dalam ruangan non-AC. Bakteri udara dimasukkan dalam 2 medium yaitu medium NA dan medium PDA dengan cara medium dibuka dengan sudut sebsar 45oC selama 10 menit. Setelah itu ditutup lagi dan disterilkan dengan cara dipanaskan dengan api bunsen, lalu diinkubasikan selama 48 jam untuk melihat koloni mikroba yang terbentuk. Medium PDA digunakan sebagai tempat biakan jamur atau kapang. Pada medium terlihat bahwa pertumbuhan jamur yang jarang. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa hanya terdapat sedikit mikroba berupa jamur di ruangan non-AC di Laboratorium Industri. Hal ini dapat disebabkan oleh faktor lingkungan yaitu suhu dan angin. Cuaca yang panas dapat memungkinkan jamur tersebut tidak dapat bertahan hidup di udara. Begitupun dengan faktor angin. Saat pengambilan sampel, kipas angin dihidupkan untuk mengurangi rasa panas. Kencangnya angin di sekitar tempat pengambilan sampel bisa saja membuat mikroba disekitarnya tidak dapat masuk ke dalam medium yang sudah disediakan sehingga pada saat pengamatan setelah inkubasi 48 jam terlihat bahwa pertumbuhan jamur tidak selebat pertumbuhan bakteri.

Medium NA digunakan sebagai tempat biakan bakteri. Dari hasil pengamatan diperoleh beberapa koloni bakteri yang tumbuh pada medium NA. Koloni pertama berbentuk circulair dengan tepian erose, elevasi raised, dan berwarna kuning. Koloni kedua berbentuk circulair dengan tepian erose, elevasi raised, dan berwarna putih susu. Koloni ketiga berbentuk irregulair dengan tepian undulate, elevasi convex regose, dan berwarna putih agak transparan. Koloni keempat berbentuk circulair dengan tepian entire, elevasi raised, dan berwarna putih kekuningan. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa ruangan non-AC di Laboratorium Industri mengandung mikroba udara yaitu bakteri yang cukup banyak.

 KESIMPULAN

Berdasarkan hasil praktikum di atas, diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut.

  1. Mikroba di udara dapat berupa bakteri dan jamur (kapang).
  2. Pertumbuhan jamur pada medium PDA tidak terlihat atau jarang.
  3. Pertumbuhan bakteri pada medium NA membentuk 4 koloni yaitu koloni pertama berbentuk circulair dengan tepian erose, elevasi raised, dan berwarna kuning. Koloni kedua berbentuk circulair dengan tepian erose, elevasi raised, dan berwarna putih susu. Koloni ketiga berbentuk irregulair dengan tepian undulate, elevasi convex regose, dan berwarna putih agak transparan. Koloni keempat berbentuk circulair dengan tepian entire, elevasi raised, dan berwarna putih kekuningan.

 DAFTAR PUSTAKA

Hodgson, M. 2000. Sick Building Syndrome. Occup Med. Hal.15;571-585.

Lisyastuti, E. 2010. Jumlah Koloni Mikroorganisme Udara dalam Ruang dan Hubungannya Dengan Kejadian Sick Bilding Syndrome (SBS) Pada Pekerja Balai Besar Teknologi Kekuatan Struktur (B2TKS) di Kawasan Puspitek Serpong Tahun 2010. Tesis. FKM UI.

Pudjiastuti, L., Rendra, S., Santosa, H.R. 1998. Kualitas Udara dalam Ruang. Direktorat Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. Hal 27.

Setyaningsih, Y. Soebijanto, Soedirman.(2003). Hubungan Antara Kualitas Udara dalam Ruangan Berpendingin Sentral dan Sick Building Syndrome. Jurnal Sains Kesehatan. Hal 16;3; 373-388.

Volk and Wheeler. 1989. Mikrobiologi Dasar Edisi kelima. Erlangga. Jakarta. Hal 75.

Semoga postingan ini dapat membantu dan memberikan informasi seperlunya bagi para pembaca. Kritik dan saran atas penulisan dan blog ini sangat diharapkan. Matur thank you. God Bless🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s