Morfologi Koloni Bakteri

Populasi bakteri tumbuh sangat cepat ketika mereka disertakan dengan gizi dan kondisi lingkungan yang memungkinkan mereka untuk berkembang. Melalui pertumbuhan ini, berbagai jenis bakteri kadang-kadang akan menghasilkan koloni yang khas dalam penampilan. Beberapa koloni mungkin akan berwarna, ada yang berbentuk lingkaran, sementara yang lain tidak teratur. Karakteristik koloni (bentuk, ukuran, warna, dll) yang diistilahkan sebagai “koloni morfologi”. Morfologi koloni adalah cara para ilmuwan dapat mengidentifikasi bakteri. Morfologi koloni dapat ditinjau dari berbagai aspek, yaitu :

  1. Shape                          :           Bentuk
  2. Edge                            :           Tepi;pinggir
  3. Elevation                     :           Ketinggian
  4. Size                              :           Ukuran
  5. Surface                        :           Permukaan
  6. Consistency                 :           Kekentalan ; kepadatan
  7. Odor                            :           Bau
  8. Opacity                        :           Transparansi
  9. Chromogenesis           :           Pigmentasi

(Anonim, 2008).

Ada empat cara yang dilakukan untuk mengetahui hasil dari identifikasi morfologi koloni bakteri yaitu sebagai berikut.

  1. Metode piringan goresan dan metode piringan tuangan

Untuk memelihara bakteri dalam lempengan (di dalam petridish) sampel bakteri diambil dengan ujung kawat yang bengkok. Ujung yang bengkok ini kemudiaan digesekkan dengan gerakan ke kanan dan ke kiri sampai meliputi seluruh permukaan agar-agar. Dengan demikian akan diperoleh koloni-koloni yang mengggerombol dan koloni-koloni yang memencil. Yang terakhir inilah yang menunjukkan sifat-sifat yang harus diperhatikan. Sifat-sifat koloni pada agar-agar lempengan mengenai bentuk, permukaan, dan tepi. Bentuk koloni dilukiskan sebagai titik,-titik, bulat, berbenang, tak teratur, serupa akar, serupa kumparan. Permukaan koloni dapat datar, timbul mendatar, timbul melengkung, timbul mencembung, timbul membukit, timbul berkawah. Tepi koloni ada yang utuh, adad yang berombak, ada yang berbelah-belah, ada yang bergerig, ada yang berbenang-benang, ada yang keriting ( Dwidjoeputro, 1987).

  1. Metode tusukan agar tegak

Metode ini dapat diperoleh dengan menusukkan ujung kawat yang membawakan bakteri, lurus ke dalam medium melalui tengah-tangah medium. Bakteri yang aerob akan tampak tumbuh dekat permukaan medium.  Sifat-sifat koloni tusukan dalam gelatin. Ada bakteri yang dapat mengencerkan gelatin, ada juga bakteri yang tidak mampu mengencerkan gelatin. Bentuk koloni serupa pedang, tasbih, bertonjol-tonjol, berjonjot, serupa batang, serupa kawah, mangkuk, corong, pundit-pundi (Jutono, 1980). Koloni juga dibedakan berdasarkan moril tidaknya. Bakteri dikatakan motil apabila bakteri menyebar ke sekitar tusukan, sedangkan bakteri dikatakan nonmotil bila pertumbuhannya hanya pada bekas tusukan (Indra, 2009).

  1. Metode agar miring goresan

Untuk membuat piaraan disitu maka ujung kawat yang berisi bakteri digesekkan satu kali dari ujung bawah ke ujung atas sehingga garis itu merupakan diameter memanjang dari permukaan medium. Sifat khusus pada agar miring berkisar pada bentuk dan tepi koloni, dan sifat-sifat itu dinyatakan dengan kata-kata seperti : berupa pedang, serupa duri, serupa tasbih, titik-titik, batang, dan akar ( Dwidjoeputro, 1987).

  1. Metode medium cair

Inolukasi juga dapat dilakukan degan metode adukan. Bakteri yang digunakan untuk membuaat piaaraaan adukan dapat diperoleh dari piaraan dalam medium cair, atau dari suatu koloni pada medium padat. Biakan diambil dengan kawat ose kemudian diadukkan dalam medium cair tersebut. Sifat koloni yang kelihatan akan berbeda-beda. Permukaan medium ini dapat memprlihatkan adanya serabut, cincin, langit-langit, atau selaput ( Dwidjoeputro, 1987).

Menurut Pradhika (2008), koloni bakteri memiliki ciri-ciri yang berbeda, tergantung jenisnya dan mediumnya. Ciri-ciri tersebut adalah :

  1. Pertumbuhan pada petridish
  1. Ukuran; pinpoint/punctiform (titik)

–          Small (kecil)

–          Moderate (sedang)

–           Large (besar)

b.         Pigmentasi : mikroorganisme kromogenik sering memproduksi pigmen intraseluler, beberapa jenis lain memproduksi pigmen ekstraseluler yang dapat terlarut dalam media

c.          Karakteristik optik : diamati berdasarkan jumlah cahaya yang melewati koloni.

–           Opaque (tidak dapat ditembus cahaya)

–           Translucent (dapat ditembus cahaya sebagian)

–           Transparant (bening)

d.          Bentuk :

–           Circular

–           Irregular

–           Spindle

–           Filamentous

–           Rhizoid

e.          Elevasi :

–           Flat

–           Raised

–           Convex

–           Umbonate

f.           Permukaan :

–           Halus mengkilap

–           Kasar

–           Berkerut

–           Kering seperti bubuk

g.          Margins :

–           Entire

–           Lobate

–           Undulate

–           Serrate

–           Felamentous

–           Curled

  1. Pertumbuhan pada Agar Miring

Ciri-ciri koloni diperoleh dengan menggoreskan jarum inokulum tegak dan lurus pada medium. Ciri koloni berdasarkan bentuk adalah :

 

  1.  Pertumbuhan pada Agar Tegak

Cara penanaman adalah dengan menusukkan jarum inokulum needle ke dalam media agar tegak.

 

  1. Ciri-ciri koloni berdasar bentuk :

 

  1. Ciri koloni berdasar kebutuhan O2 :

 

 

  1.  Pertumbuhan pada Media Cair

Pola pertumbuhan berdasarkan kebutuhan O2

Medium

Gambar

Parameter

Bakteri

E. coli

B. subtilis

Agar tegak  

Pertumbuhan

Sepanjang tusukan

Menyebar

Bentuk

Echinulate

Rhizoid

Agar miring  

Pertumbuhan

Sedikit,  membentuk koloni

Tipis, merata tanpa koloni

Elevasi

Law convex

Law convex

Warna

Krem

Krem

Bau

Tidak berbau

Tidak berbau

Bentuk

Spreading

Echinulate

Cair

Endapan

Di bawah medium dan banyak

Di bawah medium tapi sedikit

Bentuk

Tidak bergranula

bergranula

Bau

Berbau

Tidak berbau

Warna

Sedikit keruh

Sedikit keruh

Agar petridis  

Pertumbuhan

Merata

Merata

Elevasi

Law convex

Law convex

Tepian

Entire

Ciliate

   

Bentuk koloni

Circulair

Filamentous

Permukaan

Licin

Licin

Pengamatan mofologi bakteri pada percobaan ini menggunakan medium yang berbeda dangan cara inokulasi yang berbeda pula sehingga didapat morfologi koloni yang berbeda. Medium yang digunakan dalam percobaan ini adalah medium agar tegak, agar miring, medium cair, dan medium streak plate. Pengamatan morfologi ini berguna untuk mengidentifikasi suatu bakteri. Bakteri yang digunakan adalah Bacillus subtilis dan Escherichia coli.

Medium padat tegak merupakan media yang ditambahkan agar sehingga bersifat padat, yang dimasukkan ke dalam tabung reaksi, ditutup dengan kapas penyumbat dan berfungsi sebagai penguji kebutuhan bakteri terhadap udara atau kebutuhan oksigen terhadap pertumbuhan bakteri atau mikroorgasnime. Medium agar tegak merupakan medium padat dengan posisi medium tegak dan luas permukaan untuk biakan kecil. Medium agar tegak digunakan untuk melihat jenis atau bentuk koloni, sifat aerob dan anaerob mikrobia. Cara inokulasinya adalah dengan tusukan, bentuk pertumbuhan suatu bakteri diamati melalui bekas tusukan. Inokulasi dilakukan dilakukan dengan ose yang berujung lurus dari atas ke bawah sepanjang ¾ mediumnya. Pada Escherichia coli dalam medium agar tegak pertumbuhannya hanya sepanjang tusukan osenya saja atau bersifat motil dan berbentuk echinulate. Sedangkan pada Bacillus subtilis, pertumbuhannya tidak hanya sepanjang tusukan saja, tetapi menyebar dalam medium sehingga disebut juga nonmotil dan berbentuk rhizoid.

Medium agar padat miring merupakan medium nutrien cair yang ditambah agar sebagai pemadatnya dan dibiarkan mengeras pada posisi miring. Cara menginokulasinya adalah dengan cara mengambil bakteri menggunakan ose berujung bulat dan digoreskan pada permukaan medium. Fungsinya adalah untuk melihat kebutuhan O2 bakteri. Pada medium agar padat miring, bakteri Eschericia coli, bentuknya spreading dengan elevasi low convex, tidak berbau, berwarna krem dan pertumbuhannya sedikit saja tetapi membentuk koloni. Pada Bacillus subtilis, pertumbuhannya tipis dan merata tanpa koloni dengan elevasi low convex berbentuk echinulate, tidak berbau, dan berwarna krem. Kedua bakteri tersebut tidak menunjukkan perubahan pada medianya, sehingga warna medium tetap krem. Artinya, kedua medium tersebut hanya menggunakan nutrien dalam medium saja dan tidak melakukan reaksi kimia yang mengubah komposisi nutrient dengan mengeluarkan produk sisa yang dapat bereaksi dengan medium. Perubahan medium dapat diamati dari perubahan warna, dan konsistensi medium.

Medium cair merupakan media yang tidak ditambahkan agar sehingga bersifat cair, yang dimasukkan ke dalam tabung reaksi, ditutup dengan kapas penyumbat, dan berfungsi untuk melihat kebutuhan O2 dari bakteri. Cara inokulasi pada medium cair adalah dengan mencelupkan ose dan mengaduk ose dalam medium nutrisi cair sehingga bakteri akan terlepas dari ose dan berada didalam medium cair tersebut dalam bentuk koloni. Koloni dalam medium cair yang paling mudah diamati adalah tingkat kekeruhannya, dimana jika semakin keruh maka diketahui bakteri yang tumbuh didalamnya semakin banyak. Berdasarkan pertumbuhan bakteri pada medium tersebut, terdapat 2 kemungkinan yakni pada permukaan atau dasar medium, sehingga dapat digolongkan suatu bakteri termasuk aerob atau anaerob, selain itu dapat ditinjau bau, bentuk, warna, dan endapan. Pada bakteri Eschericia coli, bentuknya tidak bergranula, memiliki bau, warnanya sedikit keruh dan terdapat endapan yang banyak di dasar tabung yang menunjukkan bahwa E. coli termasuk bakteri anaerob. Sedangkan pada Bacillus subtilis bentuknya tidak bergranula hanya butiran-butiran kecil, memiliki bau dan sedikit keruh seperti E. coli, dan terdapat sedikit endapan pada dasar tabung yang menunjukkan B. subtilis sebagai bakteri anaerob juga. Kekeruhan pada medium dari kedua bakteri menunjukan kelangsungan hidup dari bakteri tersebut, dimana kekeruhan terjadi akibat regenerasi atau pembelahan sel bakteri.

Medium lainnya yang digunakan adalah medium agar petridish dengan metode streak plate. Cara inokulasi pada medium ini yakni dengan menggoreskan suspensi bahan yang mengandung bakteri pada permukaan medium dengan kawat ose dan digoreskan sesuai dengan petridish. Setelah inkubasi, maka pada bekas goresan akan tumbuh koloni-koloni terpisah yang mungkin berasal dari satu sel bakteri. Koloni dalam streak plate method dapat diamati pertumbuhannya, bentuk koloni, permukaannya, elevasi, bentuk tepi (margin) dan bentuk struktur dalam. Escherichia coli pada streak plate method, pertumbuhannya merata, dengan bentuk koloni circulair, permukaan kasar, elevasinya low convex, bentuk tepinya erose. Bacillus subtilis pada streak plate method, koloninya tumbuh tidak merata dipermukaan, dengan bentuk koloni irregulair, permukaan licin, elevasinya low convex, bentuk tepinya entire dan struktur dalamnya mengkilat. Sedangkan pada B. subtilis, pertumbuhan, elevasi, permukaan, dan struktur dalamnya sama seperti E. coli, hanya saja bentuk koloninya berbeda yaitu filamentous dan tepiannya ciliate.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s