Morfologi Jamur Benang

DASAR TEORI

Jamur adalah organisme yang sel-selnya berinti sejati atau eukariotik, berbentuk benang, bercabang-cabang, tidak berklorofil, dinding selnya mengandung khitin atau selulosa atau keduanya, heterotrof, absortif dan sebagian besar tubuhnya terdiri dari bagian vegetatif berupa hifa dan generatif yaitu spora. Tubuh jamur tersusun dari komponen dasar yang disebut hifa. Hifa membentuk jaringan yang disebut miselium. Miselium menyusun jalinan-jalinan semu menjadi tubuh buah. Hifa adalah struktur menyerupai benang yang tersusun dari dinding berbentuk pipa. Dinding ini menyelubungi membran plasma dan sitoplasma hifa. Sitoplasmanya mengandung organel eukariotik (Ashar, 2009).

Jamur tersusun dari benang-benang sel yang panjang dihubungkan bersama dari ujung ke ujung. Benang-benang itu disebut hifa. Banyak jamur mempunyai dinding penyekat (septa) dalam hifa  menjadi banyak sel dengan nucleus masing-masing. Susunan semacam ini diacu sebagai hifa bersepta. Dalam beberapa kelas fungi ifa tidak mempunyai sepata jasi kelihatan sebagai satu  sel panjang  yang mengandung banyak nulkeus. Hifa smacam ini disebut hifa senosit ( Volk and Wheeler, 1993).

Jamur benang terdiri atas massa benang yang bercabang-cabang yang disebut miselium. Miselium tersusun dari hifa (filamen) yang merupakan benang-benang tunggal. Badan vegetatif jamur yang tersusun dari filamen-filamen disebut thallus. Berdasarkan fungsinya dibedakan dua macam hifa, yaitu hifa fertil dan hifa vegetatif. Hifa fertil adalah hifa yang dapat membentuk sel-sel reproduksi atau spora-spora. Apabila hifa tersebut arah pertumbuhannya keluar dari media disebut hifa udara. Hifa vegetatif adalah hifa yang berfungsi untuk menyerap makanan dari substrat (Ashar, 2009).

Secara alamiah, jamur dapat berkembang biak dengan dua cara, yaitu secara aseksual dan seksual. Perkembangbiakan jamur secara seksual dilakukan dengan peleburan inti sel/nukleus.  Secara aseksual dilakukan dengan pembelahan, yaitu dengan cara sel membagi diri untuk membentuk dua sel anak yang serupa, penguncupan, yaitu dengan cara sel anak yang tumbuh dari penonjolan kecil pada sel inangnya atau pembentukan spora. Spora aseksual ini berfungsi untuk menyebarkan speciesnya dalam jumlah yang besar dengan melalui perantara angin atau air. Ada beberapa macam spora aseksual, di antaranya seperti berikut.

  1. Konidiospora, merupakan konidium yang terbentuk di ujung atau di sisi hifa. Ada yang berukuran kecil, bersel satu yang disebut mikrokonidium, sebaliknya konidium yang berukuran besar dan bersel banyak disebut makrokonidium.
  2. Sporangiospora, merupakan spora bersel satu yang terbentuk dalam kantung yang disebut sporangium, pada ujung hifa khusus  (Fuad, 2009).

Berdasarkan bentuknya dibedakan pula menjadi dua macam hifa, yaitu hifa tidak bersepta dan hifa bersepta. Hifa yang tidak bersepta merupakan ciri jamur yang termasuk Phycomycetes (Jamur tingkat rendah). Hifa ini merupakan sel yang memanjang, bercabang-cabang, terdiri atas sitoplasma dengan banyak inti (soenositik). Hifa yang bersepta merupakan ciri dari jamur tingkat tinggi, atau yang termasuk Eumycetes (Sumarsih, 2003).

Untuk mengidentifikasi jamur benang lebih diutamakan pengujian sifat-sifat morfologinya, tetapi perlu juga pengujian sifat-sifat fisiologi. Hal-hal yang perlu diperhatikan pada pengamatan morfologi jamur benang yaitu :

  1. Tipe hifa, bersepta atau tidak, jernih atau keruh, dan berwarna atau tidak.
  2. Tipe spora, seksual (oospora, zygospora, askospora, atau basidiospora),

aseksual (sporangiospora, konidia, atau oidia)

  1. Tipe badan buah, bentuk, ukuran, warna, letak spora atau konidi. Bentuk

sporangiofor / konidiofor, kolumela / vesikula.

  1. Bentukan khusus, misalnya adanya stolon, rhizoid, sel kaki, apofisa,

klamidospora, sklerosia, dan lain-lain (Sumarsih, 2003).

Klasifikasi jamur dapat dibedakan menjadi :

  1. Zygomiycotina

Miceliumnya bercabang banyak dan hifanya tidak bersekat – sekat, miselium pada rizopus memiliki tiga tipe hifa, yaitu ;

  1. Stolon, yaitu hifa yang membentuk jaringan pada substrat misalnya roti.
  2. Ryzoid, yaitu hifa yang membentuk substrat dan berfungsi sebagai jangkar untuk menyerap makanan.
  3. Sporanggiofor, yaitu hifa yang tumbuh tegak pada permukaan substrat dan memiliki sporangia globuler( bentuk built diujungnya).

Pada talus Rhizopus di samping hifa vegetatif dan sporangium terdapat juga hifa seperti akar yang pendek dan bercabang banyak yang disebut rizoid. Reproduksi seksual pada beberapa genus terjadi dengan peleburan ujung-ujung hifa multinukleat. Ujung-ujung ini terdiri dari lepuh-lepuh terminal cabang-cabang hifa. Pola reproduksi ini pada umumnya teradi pada Mucor, Absidia, dan Rhizopus (Pelczar, 1986).

2. Ascomycotina

Ciri khusus dari ascomycotina adalah dapat menghasilkan spora askus (askospora), yaitu spora hasil reproduksi seksual, berjumlah delapan spora yang tersimpan di dalam kotak spora. Reproduksi seksual dari ascomycotina adalah dengan membentuk alat reproduksi betina yang ukurannya lebih besar, yang disebut askogonium. Di dekatnya, dari ujung hifa yang lain terbentuk alat reproduksi jantan yang disebut anteridium. Sedangkan secara aseksual melalui pembentukan tunas, berbentuk konidia dan fragmentasi, contohnya adalah Aspergillus dan  Penicillium (Volk and Wheeler, 1993).

3. Basidiomycotina

Ciri utama dari divisi ini adalah hifa septat dengan sambungan apit (clamp connection), spora seksualnya terbentuk dari basidium yang berbentuk ganda. Terdiri dari beberapa kelas, diantaranya adalah kelas Hymenomycetes, ordo argalicales, family agaricaceae, yang mencakup jamur – jamur berlamela atau memiliki keeping lipatan. Ciri – ciri jamur ini antara lain adalah berdaging, saprobe, tubuh buah seperti payung,tetapi pada bebrapa spesies tangkainya asimetris, pendek bahkan tidak bertangkai. Basidiospora terdapat dipermukaan lamella atau bilah yang terbentuk di bagian bawah tudunya, contoh terkenal dari agaricaceae ini adalah Volvariella volvaceae (jamur padi, kamur dami). Daur hidup basidiomycotina dimulai dari pertumbuhan spora basidium atau pertumbuhan konidium. Spora basidium atau konidium akan tumbuh menjadi benang hifa membentuk miselium (Anonim, 2008).

4. Deuteromycotina

Divisi ini disebut juga fungiimperfecti karena belum diketahui adanya reproduksi seksual , hifa septat atau uniseluler. Reproduksi aseksual dengan menghasilkan konidia atau menghasilkan hifa khusus disebut konidiofor. Kemungkinan jamur ini merupakan suatu perkembangan jamur yang tergolong Ascomycocetes ke Basidiomicetes tetapi tidak diketahui hubungannya. Jamur ini bersifat saprofit dibanyak jenis materi organik, sebagai parasit pada tanaman tingkat tinggi , dan perusak tanaman budidaya dan tanaman hias. Jamur ini juga menyebabkan penyakit pada manusia , yaitu dermatokinosis (kurap dan panu) dan menimbulkan pelapukan pada kayu. Contoh klasik jamur ini adalah monilia sitophila , yaitu jamur oncom. Jamur ini umumnya digunakan untuk pembuatan oncom dari bungkil kacang. Monilia juga dapat tumbuh dari roti , sisa- sisa makanan, tongkol jagung , pada tonggak – tonggak atau rumput sisa terbakar, konodiumnya sangat banyak dan berwarna jingga (Anonim, 2008).

5. Mycophycophyta.

Jamur ini merupakan jamur lendir sejati. Jamur ini dapat ditemukan pada kayu terombak, guguran daun, kulit kayu, dan kayu. Bentuk vegetatifnya disebut plasmodium. Plasmodium merupakan masa sitoplasma berinti banyak dan tidak dibatasi oleh dinding sel yang kuat. Sel-selnya mempunyai gerakan amoeboid diatas substrat. Cara makan dengan fagositosis. Apabila plasmodium merayap ke tempat yang kering, akan terbentuk badan buah. Badan buah menghasilkan spora berinti satu yang diselubungi dinding sel. Spora berasal dari inti-inti plasmodium. Struktur pada semua stadium sama, yaitu seperti sel soenositik dengan adanya aliran sitoplasma. Perkembang biakan jamur ini dimulai dari sel vegetatif haploid hasil perkecambahan spora. Sel tersebut setelah menggandakan diri akan mengadakan plasmogami dan kariogami yang menghasilkan sel diploid. Sel diploid yang berkembang menjadi plasmodium yang selnya multinukleat tetapi uniselular, selanjutnya membentuk badan buah yang berbentuk sporangium. Sporangium tersebut menghasilkan spora 36 haploid. Contoh jamur ini adalah Lycogala epidendron, Cribraria rufa , dan Fuligo septica (Sumarsih, 2003).

Penisillium dan Aspergillus dikalsifikasikan sebagai Deuteromycetes, meskipun tingkat pembentukkan sporanya telah ditentukkan pada beberapa spesies. Kapang-kapang ini memiliki kepala konidium yang khas dan mudah dibedakan. Sebagaian besar cendawan yang patogenik pada manusia adalah Deuteromycetes. Mereka seringkali membentuk spora aseksual pada beberapa macam didalam spesies yang sama sehingga dapat membantu mengidentifikasinya di laboratorium (Pelczar, 1986).

Aspergillus dan Penicillium dikenal karena stadium konidiumnya. Miselium berinti empat bercabang-cabang kerp kali diduduki oleh sejumlah besar penampang konidium yang terbentuk sendiri-sendiri diatas hifa dimana didalamnya terbentuk satu sel hifa, sel kaki bercabang dan membentuk hifa tegak lurus. Pada aspergillus hifa ini berujung dengan sebuah gelembung, keluar dari gelembung ini tumbuhlah sterigma. Pada sterigma muncul konidium-konidium yang tersusun berurutan mirip bentuk untaian mutiara (Schlegel, 1984).

Mucor dan Rhizophus termasuk dalam genus yang lebih tinggi di dalam kelas Phycomycetes dan berepoduksi baik secara seksual mauun aseksual. Mereka merupaka patoen oportunis, artinya tidak menyebabkan penyakit pada inang sehat tetapi menyebabkan mikosis (infeksi oleh cendawan) pada inang terkompromi., yaituorang yang sudah lemah karena penyakit.  Mereka mempunyai talus niselium yang berkembang dengan baik Hifa fertile menghasilkan sporangium pada ujung sporangipora. Pada talus Rhizopus, disamping hifa vegetatif terdapat juga hifa seperti akar yang pendek dan bercabang banyak yang disebut rhizoid (Pelczar, 1986).

PEMBAHASAN

Berdasarkan percobaan yang dilakukan, telah diamati beberapa jamur benang seperti Rhyzopus sp, Mucor sp, Penicillium sp, Aspergillus sp, dan Monilia sp.

  1. Rhyzopus sp.
Kerajaan : Fungi

Class       : Zygomycetes

Order      : Mucorales

Family    : Mucoraceae

Genus     : Rhizopus

Species   : Rhizopus sp

 

 

Rhizopus sp hidup sebagai saprofit dan beberapa spesies lain hidup sebagai parasit pada tumbuhan. Jamur ini mempunyai bentuk yang menyerupai Mucor sp. dan yang membedakannya yaitu miseliumnya yang terbagi atas stolon yang menghasilkan rhizoid (akar yang pendek dan bercabang banyak) dan sporangiofor. Rhizopus sp.  biasanya tumbuh sangat cepat dari semua miseliumnya berbentuk seperti kapas menjadi kehitaman akibat dari pertumbuhannya dari sporangioforanya yang berwarna gelap.

            Rhizopus Sp. dapat menghasilkan spora seksual dan aseksual. Spora aseksualnya sering disebut sporangiophore dan dihasilkan di dekat sporangium. Secara genetik, sifat spora ini identik dengan induknya. Pada Rhizopus, sporangium didukung oleh sebuah kolumela yang besar. Rhizospora yang berwarna gelap dihasilkan saat terjadi fusi antara dua miselia yang sesuai. Fusi ini terjadi saat berlangsungnya reproduksi seksual. Keturunan yang dihasilkan melalui reproduksi seksual dapat memiliki perbedaan sifat dari induknya secara genetik. Bagian tubuh Rhizopus oryzae seperti sporangium yang mengandung spora, sporangiophore atau tangkai spora, kolumela, stolon, dan rhizoid..

Beberapa spesies Rhizopus dapat merugikan manusia karena menyebabkan zygomiosis yang berakibat fatal bagi kehidupan. Hal ini disebabkan Rhizopus mempunyai pertumbuhan yang teratur dan dapat hidup pada suhu yang relatif tinggi. Beberapa jenis termasuk patogen pada tumbuhan.Rhizopus dimanfaatkan dalam pembuatan tempe dari kacang kedelai dan minuman beralkohol.

 

  1. Mucor sp
Kingdom: Fungi

Class       : Phycomycetes
Phylum   : Zygomycota
Order      : Mucorales
Family    : Mucoraceae
Genus     : Mucor

 

Secara makroskopis jamur ini seperti Rhizopus sp. yakni miseliumnya seperti kapas tetapi warnanya lebih putih dibandingkan dengan Rhizopus sp. dan secara mikroskopis jamur ini memiliki stolon tetapi tidak memiliki rhizoid dan sporangiofornya lebih pendek dibanding dengan Rhizopus.

Mucor tidak mempunyai sekat pada hifanya. Hidup saprofit dari sisa-sisa makanan yang berkarbohidrat. Merupakan jamur primitive. Mucor sp. berkembang biak dengan menggunakan sporangium yang tumbuh pada ujung hifa. Hifa-hifa tersebut akan menggelembung dan tidak berseptum, kemudian protoplast di dalam hifa gelembung tadi akan membelah diri membentuk  spora. Apabila telah dewasa sporangium akan pecah dan spora-spora akan bersebaran. Secara generatif Mucor sp. berkembang biak dengan hifa positif dan negative. Apabila ujung hifa bersatu dinamakan zigospora. Zigospora dapat terlepas dari miselium dan akan tumbuh menjadi sporangium dan berkembang sampai miselium. Peranan Mucor sp. adalah dapat menimbulkan infeksi secara tiba-tiba, parah dan cepat pada jaringan-jaringan dan dengan cepat menyerang system saraf pusat.

  1. Penicillium sp
    Kingdom  :      Fungi

Phylum    :       Deuteromycota

Class        :       Eurotiomycetes

Order       :       Moniliales

Family     :       Moniliaceae

Genus      :       Penicillium

     Speies      :       Penicillium sp

 

 

Penicilium sp. biasanya bersepta, badan buah berbentuk seperti sapu yang diikuti sterigma dan konidia yang tersusun seperti rantai. Konidia pada hampir semua species saat masih muda berwarna hijau kemudian berubah menjadi kecoklatan. Koloni Penicillium sp. biasanya berwarna hijau, terkadang putih, sebagian besar memiliki konidiofor.

Hifa dari spesies ini bersepta dan miseliumnya muncul di atas permukaan berasal dari hifa di bawah permukaan. Penicillium sp. diklasifikasikan sebagai deuteromycetes meskipun tingkat pembentukkan askosporanya telah ditemukan pada beberapa spesies. Jamur ini mempunyai kepala konidium. Miselium berinti empat bercabang-cabang kerp kali diduduki oleh sejumlah besar penampang konidium yang terbentuk sendiri-sendiri diatas hifa dimana didalamnya terbentuk satu sel hifa, sel kaki bercabang dan membentuk hifa tegak lurus.

 

  1. Aspergillus sp.
. Kingdom   :       Fungi

Phylum     :      Ascomycota

Class         :      Eurotiomycetes

Order        :      Eurotiales

Family      :     Trichocomaceae

Genus       :      Aspergillus

     Species     :     Aspergillus sp

 

 

Fase perkembangbiakan aseksual Aspergillus menghasilkan konidium yang disangga konodiofor. Ujung konidiofornya berbentuk seperti bola dengan sejumlah cabang yang masing-masing menyangga ranting konidium. Aspergillus sp merupakan saprofit dan parasit. Aspergillus mempunyai konidium di bagian ujungnya dan mempunyai hifa bersekat serta bersepta. Aspergillus bersifat aerobik dan ditemukan di hampir semua lingkungan yang kaya oksigen, dimana mereka umumnya tumbuh sebagai jamur pada permukaan substrat, sebagai akibat dari ketegangan oksigen tinggi. habitatnya adalah di daerah yang lembab dan dapat hidup pada buku, kayu dan pakaian, dapat hidup di daerah tropis dan subtropis tergantung pada kondisi lingkungan. Jamur ini tumbuh sebagai saproba pada berbagai macam bahan organik, seperti roti, olahan daging, butiran padi, kacang-kacangan, makanan dari beras atau ketan, dan kayu.

  1. Monilia sp
Kingdom : Fungi

Divisi       : Amastigomycota

Kelas       : Deuteromycotina

Ordo        : Moniliales

Famili      : Moniliaceae

Genus      : Monilia

Spesies    :  Monilia sp.

 

Monilia mempunyai 2 jenis hifa yaitu hifa fertile (untuk membentuk sel-sel reproduksi) dan hifa vegetatif (untuk menyerap makanan dan nutrisi). Dinding selnya terdiri dari khitin. Reproduksi secara aseksual dengan pembentukkan spora vegetatif yaitu konidia. Monilia sp. dapat menyebabkan penyakit seperti infeksi pada permukaan kulit yang disebabkan oleh aermatolita yang terbatas pada jaringan keratin seperti kuku, rambut dan stratum kornea.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. Klasifikasi Jamur. http://www.crayonpedia.org/ 20 Februari 2011.
Ashar, N. 2009. Laporan Praktikum Mikrobiologi Dasar Tentang Jamur. http://nandofiles.blogspot.com/ 20 Februari 2011.
Fuad, A. 2009. Jamur. http://auvicena.blogspot.com/ 20 Februari 2011.
Pelczar, M.J., Chan E.S. 1986. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Universitas Indonesia Press. Jakarta.
Schlegel G.H., Karin S. 1994. Mikrobiologi umum. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Sumarsih, S. 2003. Mikrobiologi Dasar. http://sumarsih07.files.wordpress.com/ 20 Februari 2011.
Volk and Wheeler. 1993. Mikrobiologi Dasar. Erlangga. Jakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s