Tes Serebelum

Tujuan Praktikum : Mengenal berbagai fungsi cerebelum serta menyelidiki ada atau tidaknya gejala-gejala kerusakan fungsi cerebelum.

METODE

A. Alat :

Stopwatch

B. Bahan :

Tidak ada

C. Cara Kerja

  1. Post pointing test
  1. Probandus berdiri dan diberi instruksi untuk menyentuh bagian muka berkali-kali (hidung, bibir, telinga dan lain-lain) selama 30 detik.
  2. Hasil (-) bila probandus tidak melakukan kesalahan dalam mengikuti instruksi.
  3. Hasil (+) bila probandus salah menyentuh dalam melakukan instruksi.
    1. Mata probandus ditutup, kaki dirapatkan dan tangan diluruskan ke depan.
    2. Stopwatch dinyalakan selama 30 detik.
    3. Hasil (-) bila probandus tetap berdiri diposisi semula.
    4. Hasil (+) bila probandus terjatuh ke belakang.
    5. Probandus diinstruksikan untuk mengucapkan kalimat yang susunannya mirip dan diucapkan berulang-ulang secara lambat, cepat dan keras.
    6. Perlakuan dilakukan selama 30 detik.
    7. Hasil (-) bila pengucapan benar.
    8. Hasil (+) bila pengucapan salah.
    9. Test Adiodokokinesis
      1. Probandus diinstruksikan untuk melakukan gerakan pronasi dan supinasi.
      2. Perlakuan dilakukan selama 30 detik.
      3. Hasil (-) bila gerakan tersebut tepat atau tidak berubah.
      4. Hasil (+) bila gerakan salah.
  1. Test romberg
  1. Test disartri
  1. Test Intensi Tremor
    1. Probandus memegang buku dengan tangan diluruskan ke depan selama 30 detik.
    2. Hasil (-) bila tangan probandus tidak bergetar.
    3. Hasil (+) bila tangan probandus bergetar.
    4. Test Rebound
      1. Probandus diinstruksikan untuk mengkontruksikan tangan dengan keras.
      2. Seseorang yang lain menahan tangan probandus dan melepaskannya secara tiba-tiba.
      3. Hasil (-) bila probandus dapat menahan tangannya sehingga tidak memukul muka atau tubuh sendiri.
      4. Hasil (+) bila probandus tidak dapat menahan tangannya sehingga memukul muka atau tubuh sendiri.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel Hasil Tes Cerebelum

Probandus

Hasil Uji ( +/- )

Rebound

Post pointing test

romberg

Intensi tremor

Disartri

Adiodokokinesis

 

B. Pembahasan

Susunan saraf pusat terdiri dari otak besar (cerebrum), batang otak, otak kecil (cerebellum) dan sumsum tulang belakang (medulla spinalis) dan diliputi oleh selaput otak (meningen) yang terdiri atas bagian luarpakhimening (durameter) dan bagian dalam leptomening. Otak dipisahkan oleh fisura media menjadi dua hemisfer. Permukaan lateral masing-masing hemisfer dibedakan menjadi lobus frontal, parietal, temporal, dan oksipital. Otak mempunyai sistem perhubungan, yaitu ventrikel. Ventrikel lateral masuk ke dalam lobus frontal, temporal dan oksipital. Cairan serebrospinal dibentuk setiap hari oleh plexus choroid pada ventrikel, melalui ventrikel III dan IV terus ke subarachnoid dan medulla spinalis. Otak diliputi oleh leptomening, membrana arachnoid dan piameter dan bagian paling luar durameter. Durameter berlapis dua, sebagai lapisan dalam periosteum dari tulang tengkorak, dan pada garis tengah sebagai falx cerebri, pada fosa posterior terbentang seperti tenda membentuk tentorium cerebri, memisahkan lobus oksipital dan serebellum. Aspek ventral dari otak adalah batang otak dan serebellum, menutupi aspek posterior (otak tengah) yaitu : pons dan medula oblongata yang mengelilingi ventrikel IV.Otak mendapat darah dari arteri carotis interna dan arteri vertebralis (Rosdiana, 2008).

Gambar 1. Anatomi Otak Manusia

Otak diibaratkan seperti sebuah ‘’kembang kol’’ yang beratnya rata-rata 1,2 kg pada laki-laki dan 1 kg pada perempuan. Otak dibagi 2 yaitu otak besar (serebrum ) dan otak kecil ( serebelum ) . otak besar terdiri dari lobus frontalis, lobus parientalis, lobus oksipitalis dan lobus temporalis (Supersuga, 2008). Menurut Iwan (2009), permukaan otak bergelumbang dan berlekuk-lekuk membentuk seperti sebuah lekukan yang disebut girus. Bagian-bagian Otak manusia :

1. Otak depan

  1. Dienchepalon
  • Talamus

Talamus menerima semua informasi sensorik yang datang (kecuali bau) dan kemudian memancarkan informasi tersebut ke korteks serebrum melalui jaras eferen. Talamus juga merupakan bagian dari sistem pengaktivan retikuler (reticular activating system, RAS), suatu kelompok neuron yang luas berfungsi dalam menjaga seseorang agar tetap terjaga. Talamus menerima rangsang nyeri dan memancarkannya ke korteks serebrum.

  • Epitalamus

Pada bagian dorsal dari diencephalon yang berbentuk atap ventricle ketiga. Pada bagian yang berbentuk corong kecil, massa dari epithalamus disebut glandula pinealis / corpus pineal.

  • Hipotalamus

Hipotalamus membentuk dasar dari diencephalon. Hipotalamus berintegrasi dan mengarahkan informasi mengenai suhu, rasa lapar, aktivitas saraf otonom, dan status emosi. Hipotalamus juga menentukan kadar beberapa hormon, termasuk hormon hipofisis.

  • Subtalamus

Merupakan area kecil di bawah thalamus. Bagian ini berisi nuclei subthalamic yang berhubungan dengan basal ganglia. Basal ganglia penting untuk koordinasi gerakan motorik dan posisi tubuh. Aktivitas utamanya adalah menghambat gerakan yang tak terkoordinasi.

  1. Telenchepalon (Hemisfer serebrum)
  2.    Korteks serebrum

Korteks serebrum adalah bagian otak yang paling maju dan bertanggung jawab untuk mengindera lingkungan. Korteks serebrum menentukan perilaku yang bertujuan dan beralasan. Sebagian dari korteks serebrum berfungsi sebagai daerah sensorik primer dan secara langsung menerima rangsangan sensorik yang datang.

  1. Bulbus olfaktori

Bulbus olfaktorius berfungsi untuk memperbesar penciuman, memperbesar sensitivitas deteksi bau, dan menyaring bau untuk mendeteksi suatu bau.

  1.    Nucleus Amygdale

Nucleus amygdale terletak pada ujung rostral ventricle lateralis dimana uncus bersatu dengan Nucleus Caudatus.

  1.    Septal region
  2. Forniks
  3. Basal ganglia

Basal ganglia berfungsi untuk control motorik, emosi, kognisi, dan pembelajaran.

2.Otak tengah

  1. Tektum
  2. Cerebral

3. Otak belakang

  1. Medulla Oblongata

Medulla oblongata akan berhubungan dengan medulla spinalis. Bagian ini mudah dikenali dengan adanya fissura mediana pada bagian anterior dan pada lateral tampak peninggian yang berbentuk segitiga yang disebut piramis. Piramis berisi serat-serat untuk informasi yang bersifat motorik dari korteks serebri ke medulla spinalis. Diantara medulla oblongata dan medulla spinalis terdapat persilangan serat-serat saraf yang disebut decusatio piramidalis. Lateral dari piramis terdapat bentukan oval yang disebut olive yang merupakan pusat penguat impuls menuju serebellum. Pada bagian posterior sebagai dasar dari ventrikel keempat, meneruskan ke medulla spinalis melalui kanalis centralis.

  1. Metenchepalon
  • Pons

Pons mempunyai bentuk yang menonjol dan bulat terletak antara superior dari medulla dan anterior cerebellum. Pons merupakan tempat dimana terdapat hubungan antara serat-serat dari medulla spinalis, cortex cerebri, dan cerebellum.

  • Serebelum

Serebelum/otak kecil, membantu mempertahankan keseimbangan dan bertanggung jawab bagi respon otot rangka halus sehingga menghasilkan gerakan volunter yang baik dan terarah. Serebelum menghasilkan gerakan-gerakan cepat berulang untuk aktivitas, misalkan mengetik atau bermain piano.

Otak kecil yang merupakan pusat keseimbangan dan kooardinasi gerakan.Pada daerah serebelum terdapat sirkulus willisi, pada dasar otak disekitar kelenjar hipofisis, sebuah lingkaran arteri terbentuk diantara rangkaian arteri carotid interna dan vertebral, lingkaran inilah yang disebut sirkulus willisi yang dibentuk dari cabang-cabang arteri carotid interna, anterior dan arteri serebral bagian tengah dan arteri penghubung anterior dan posterior. Arteri pada sirkulus willisi memberi alternative pada aliran darah jika salah satu aliran darah ateri mayor tersumbat (Anonim, 2009).

Serbelum terletak di fossa posterior, dibelakang pons dan medula oblongata. Dipisahkan dari serebrum dibagian atasnya oleh tentorium serebeli. Serebelum terdiri atas 3 komponen anatomis utama yaitu, lobus flokulonodular (archiserebelum) lobus anterior (paleo serebelum) dan lobus posterior (neoserebelum). Lobus flokulonoduler menerima proyeksi terutama dari inti-inti vestibuler. Lobus anterior terutama pada bagian vermis menerima input dari jaras spinocerebelaris. Lobus posterior menerima proyeksi dari hemisfer serebri. Korteks serebelum terdiri atas 3 lapisan yaitu, lapisan molekuler, lapisan sel-sel purkinje dan lapisan granuler. Pada hemisfer serebri terdapat 4 pasang inti yaitu fastigial, globosus, emboliformis dan dentatus. Terdapat 3 pasang berkas proyeksi utama yaitu pedunkulus serebeli superior(brachium conjuncyivum), pedunkulus serebeli media (brachium pontis) dan pedunkulus serebeli inferior (corpus restiforme) (Atok, 2009).

Serebelum menerima isyarat sensoris penting langsung dari bagian perifer tubuh, yang mencapai serebelum melalui traktus spinoserebelaris ventralis dan dorsalis. Isyarat yang dihantarkan di dalam traktus-traktus ini berasal dari dalam muscle spindle organ tendo golgi, dan reseptor taktil besar dari kulit dan persendian, dan mereka memberitahukan serebelum mengenai status konstraksi otot, tingkat ketegangan pada tendo otot, posisi bagian-bagian tubuh dan gaya-gaya yang bekerja pada permukaan tubuh pada saat itu. Semua informasi initerus memberitahukan serebelum mengenai status fisik tubuh seketika itu juga (Guyton, 1991).

Pengaturan kesalahan oleh serebelum mudah dikenali. Sirkuit yang diuraikan di atas menggambarkan suatu sirkuit umpan balik rumit yang dimulai di dalam bagian serebral sistem pengatur motorik di korteks motorik dan juga kembali ke area ini. Biasanya, korteks motorik mengirimkan impuls yang jauh lebih banyak daripada yang diperlukan untuk melakukan tiap gerakan bertujuan, dan oleh karena itu serebelum harus bekerja menghambat korteks motorik pada waktu yang tepat setelah otot tersebut mulai bergerak. Serebelum tampaknya menilai kecepatan gerakan tersebut dan menghitung jarak waktu yang akan diperlukan untuk mencapai titik yang dituju. Kemudian impuls inhibisi yang tepat dikirimkan ke korteks motorik untuk menghambat otot-otot antagonis dan untuk merangsang otot-otot antagonis. Dengan cara ini, ‘pengereman’ yang tepat bekerja untuk menghentikan gerakan tersebut pada tempat tujuan yang tepat (Guyton, 1991).

Fungsi serebelum adalah :

  1. Fungsi koordinasi

Untuk membentuk suatu gerakan yang bertujuan secara fungsional, maka beberapa otot atau beberapa persendian harus terorganisasi dengan baik. Misalnya membentuk kata-kata yang baik diperlukan koordinasi berbagai macam otot/ persendian seperti otot laring, otot mulut, maupun respirasi. Tidak adanya koordinasi dari beberapa persendian dikenal dengan sitilah disarti. Hilangnya koordinasi gerakan ini akan menimbulkan apa yang disebut ataxia, yaitu suatu kelainan yang disebabkan tidak adanya koordinasi karena adanya gangguan kecepatan, luas, kekuatan serta arah dari gerakan.

2.   Fungsi keseimbangan dan orientasi ruangan

Seseorang megnetahui posisinya dalam suatu ruang keseimbangan tubuh, maka impuls dari propioseptor yang terdetak pada persendian, otot dan lain-lain serta serebelum harus baik. Gangguan bila seseorang tidak mengenal posisinya dalam suatu ruangan, kita kenal sebagai astereognasi. Lintasan serabut afferen ke serebelum berasal dari informasi propiseptik dan sensorik dari semua bagain tubuh. Selain itu serabut afferen serebelum juga berasal dari semua daerah motorik korteks sefebri melalui nuklei pon`s. Gangguan-gangguan ini bisa ditest dengan test Romberg atau test adidokokinesis.

3.   Fungsi penghambat / damping

Impuls yang datang ke serebelum dari korteks motorik serebelum akan dihambat (damping). Gangguan fungsi penghambat ini terlihat pada ketidakmampuannya mengerem/ menghentikan gerakan dengan cepat pada test Rebound atau Past Pointing Tes dimana penderita selali overshoot (untuk menunjuk titik tertentu selalu melebihi apa yang dituju). Ketidakmampuan untuk menilai jarak ini disebut juga sebagai disarti. Ciri khas lain pada kerusakan serebelum ialah intensi tremor, yaitu tremor yang terjadi sewaktu bergerak secara volunter (Aida, 2006).

Pada percobaan ini dilakukan 6 test untuk mengetahui ada atau tidaknya gejala-gejala kerusakan fungsi cerebelum. Test tersebut adalah post pointing test, test romberg, test disartri, test adiodokokinesis, test intensi tremor dan test robound.

a.   Post pointing test

Test ini dilakukan untuk mengetahui kerusakan serebelum yang berfungsi sebagai penghambat atau pengerem aktivitas motorik tubuh. Pada test ini, probandus berdiri dan diberi instruksi untuk menyentuh bagian muka berkali-kali (hidung, bibir, telinga dan lain-lain) selama 30 detik. Hasil dikatakan (-) bila probandus tidak melakukan kesalahan dalam mengikuti instruksi dan hasil dikatakan (+) bila probandus salah menyentuh dalam melakukan instruksi. Berdasarkan percobaan yang dilakukan, kedua probandus memiliki hasil yang negatif karena probandus dapat menyetuh bagian muka yang sama dengan instruksi yang dikatakan.

b.   Test romberg

Tes ini digunakan untuk mengetahui kerusakan serebelum dalam fungsinya sebagai pengatur keseimbangan dan orientasi ruangan. Pada test ini, mata probandus ditutup, kaki dirapatkan dan tangan diluruskan ke depan kemudian stopwatch dinyalakan selama 30 detik. Hasil dikatakan (-) bila probandus tetap berdiri diposisi semula dan hasil dikatakan  (+) bila probandus terjatuh ke belakang. Dasar tes ini adalah bahwa keseimbangan berasal dari kombinasi dari beberapa sistem saraf, yaitu proprioception, vestibular masukan, dan penglihatan (Anonim, 2009).  Berdasarkan percobaan yang dilakukan, kedua probandus menunjukkan hasil yang negatif.

c.   Test disartri

Test ini dilakukan  untuk mendeteksi kerusakan serebelum dalam fungsinya sebagai pengkoordinasi gerakan dan alat-alat tubuh. Pada test ini, probandus diinstruksikan untuk mengucapkan kalimat yang susunannya mirip dan diucapkan berulang-ulang secara lambat, cepat dan keras dan dilakukan selama 30 detik. Hasil dikatakan (-) bila pengucapan benar dan hasil dikatakan (+) bila pengucapan salah. Berdasarkan percobaan yang dilakukan, hasil yang ditunjukkan kedua probandus negatif.

d.   Test Adiodokokinesis

Test ini dilakukan untuk mendeteksi adanya kerusakan serebelum dalam fungisnya sebagai  pengatur keseimbangan dan orientasi ruangan. Pada test ini, probandus diinstruksikan untuk melakukan gerakan pronasi dan supinasi dan dilakukan selama 30 detik. Hasil dikatakan (-) bila gerakan tersebut tepat atau tidak berubah dan hasil dikatakan (+) bila gerakan salah. Berdasarkan percobaan yang dilakukan, kedua probandus menunjukkan hasil yang negatif.

e.   Test Intensi Tremor

Tes ini dilakukan untuk mengetahui kerusakan serebelum yang berfungsi sebagai penghambat atau pengerem aktivitas motorik tubuh. Pada test ini, probandus memegang buku dengan tangan diluruskan ke depan selama 30 detik. Hasil dikatakan (-) bila tangan probandus tidak bergetar dan hasil dikatakan (+) bila tangan probandus bergetar. Berdasarkan percobaan yang dilakukan, probandus pria dan wanita tidak mengalami tremor dan dinyatakan negatif.

f.    Test Rebound

Tes ini dilakukan untuk mengetahui kerusakan serebelum yang berfungsi sebagai penghambat atau pengerem aktivitas motorik tubuh. Pada test ini, probandus diinstruksikan untuk mengkontruksikan tangan dengan keras dan orang yang lain menahan tangan probandus dan melepaskannya secara tiba-tiba. Hasil dikatakan (-) bila probandus dapat menahan tangannya sehingga tidak memukul muka atau tubuh sendiri dan hasil dikatakan (+) bila probandus tidak dapat menahan tangannya sehingga memukul muka atau tubuh sendiri. Berdasarkan percobaan yang dilakukan, kedua probandus menunjukkan hasil yang negatif.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil percobaan di atas, dapat disimpulkan bahwa :

  1. Fungsi serebelum sebagai fungsi sebagai koordinasi, fungsi sebagai pengatur keseimbangan dan orientasi ruangan dan fungsi sebagai penghambat.
  2. Terdapat 6 test yang digunakan untuk mendeteksi gangguan serebelum, yaitu post pointing test, test romberg, test disartri, test adiodokokinesis, test intensi tremor dan test robound.
  3. Probandus pria dan wanita tidak mengalami kerusakan cerebelum karena semua tes menunjukkan hasil negatif.

DAFTAR PUSTAKA

 Aida, Y., 2006, Petunjuk Praktikum Fisiologi Hewan, Univeritas Atma Jaya,   Yogyakarta.
Anonim, 2008. Sistem Saraf. http://bina-husada.blogspot.com. 20 November 2010.
Anonim. 2009. Romberg’s test. http:id.wikipedia.com. 20 November 2010.
Atok. 2009. Aspek Neurologik Gangguan Berjalan. http://koaskamar13.wordpress.com. 21 November 2009.
Guyton, A. C., 1991, Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Iwan. 2009. Life Healthy. http://wansners.blogspot.com. 20 November 2010.
Rosdiana. 2008. Tumor Otak. http://rosdianasaniapon.blogspot.com. 20 November 2010.
Supersuga. 2008. Anatomi Otak. http://supersuga.wordpress.com. 20 November 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s