Pengaruh Cara Pemberian Terhadap Absorbsi Zat

Absorbsi merupakan pengambilan obat dari permukaan tubuh atau dari tempat-tempat tertentu pada organ ke dalam aliran darah yang  dipengaruhi beberapa faktor yakni cara pemberian obat dan bentuk sediaan. Ada beberapa cara pemberian obat yaitu sublingual, per oral, per rectal, pemakaian pada permukaan epitel ( kulit, kornea, vagina, mukosa hidung ), inhalasi, dan suntikan ( subkutan, intramuskuler, dan intratekal ). (Anonim,1995).

Faktor-faktor yang mempengaruhi absorbsi suatu zat atau obat antara lain :

  1. Cara pemberian obat
  2. Sirkulasi darah ke tempat pemberian (semakin cepat alirandarah maka semakin cepat obat tersebut dibawa untuk diabsorbsi)
  3. Daya larut obat
  4. Derajat ionisasi obat
  5. Luas permukaan absorbsi obat
  6. Ukuran partikel molekul obat (semakin kecil ukuran partikel obat maka semakin cepat obat tersebut diabsorbsi).
  7. Formulasi obat (apabila obat tersebut berikatan dengan zat-za tkimia lain di dalam tubuh maka semakin sulit obat tersebut untuk diabsorbsi) (Anonim,1995).

Pada percobaan kali ini dilakukan tiga cara yaitu peroral, sub kutan, dan intra peritonial. Kecepatan absorbsinyapun berbeda pada masing-masing cara pemberian yang dapat menunjukan keefektifan obat tersebut.

  1. Per oral

Sebagian besar obat diberikan melalui mulut dan ditelan. Mekanisme pemberian obat secara per oral yaitu sebelum obat masuk ke peredaran darah dan didistribusikan ke seluruh tubuh, obat terlebih dahulu harus mengalami absorbsi pada saluran cerna. Absorpsi obat melalui saluran cerna pada umumnya berlangsung secara difusi pasif sehingga absorbs obat mudah terjadi bila obat dalam bentuk non-ion dan mudah larut dalam lemak (lipid soluble). Absorpsi obat pada usus halus selalu lebih cepat daripada lambung karena luas penampang permukaan epitel usus halus lebih besar daripada lambung. Selain itu, lambung dilapisi oleh lapisanmukus yang tebal dan tahanan listrik yang tinggi. Oleh karena itu, peningkatan kecepatan pengosongan lambung biasanya akanmeningkatkan kecepatan absorpsi obat dan sebaliknya. Absorpsi obat dalam usus halus secara transpor aktif berlaku bagi obat-obatan yangmemiliki struktur kimia mirip dengan zat-zat makanan

Untuk menginjeksikan zat digunakan jarum secara peroral (Oral Gavage) memiliki karakter ujung tumpul (bulat). Hal ini untuk meminimalisir terjadinya luka atau cedera ketika hewan uji akan diberikan sedian uji. Proses pemberian dilakukan dengan teknik seperti Tempatkan ujung atau bola dari jarum ke mulut binatang. Secara perlahan geser melewati ujung belakang lidah. Pastikan bahwa oral gavage tidak masuk ke dalam tenggorokan karena akan berdampak buruk. Hal ini dapat diketahui bila dari hidung hewan uji keluar cairan seperti yang kita berikan menunjukkan adanya kesalahan dalam proses pemberian.

Gambar 1. Cara pemberian per oral

Keuntungan pemberian obat secara per oral yaitu relatif aman, praktis dan ekonomis. Kerugiannya adalah efeknya lama karena melalui saluran cerna dan bias terjadi inaktivasi obat dihati.

  1. Pemberian suntikan intra-peritonial.

Rongga peritoneum mempunyai permukaan absorpsi yang sangat luas sehingga obat dapat masuk ke sirkulasi sistemik secara cepat. Cara ini banyak digunakan di laboratorium tetapi jarang digunakan di klinik karena adanya bahaya infeksi dan perlengketan peritoneu. Mekanisme absorbsi obat dengan cara ini adalah obat diinjeksikanpada rongga perut tanpa terkena usus atau terkena hati. Di dalam rongga perut ini obat akan langsung diabsorpsi pada sirkulasi portal dan akandimetabolisme di dalam hati sebelum mencapai sirkulasi sistemik. Namun karena pada mesentrium banyak mengandung pembuluh darah, maka absorpsi berlangsung lebih cepat dibandingkan per-oral sehingga mula kerja obat pun menjadi lebih cepat.

Injeksi intraperitoneal atau injeksi pada rongga perut tidak dilakukan untuk manusia karena ada bahaya infeksi dan adesi yang terlalu besar. Proses injeksi dilakukan dengan teknik menahan tikus pada tengkuk. Mengekspos sisi ventral hewan, memiringkan kepala ke bawah pada sudut kecil. Preparasi situs dengan 70% etanol. Jarum yang steril harus ditempatkan, bevel atas, di bawah kuadran kanan atau kiri dari perut binatang. Masukkan jarum pada 30 ° sudut.

Gambar 2. Cara pemberian intraperitonial

Keuntungan menggunakan cara ini adalah efek yang dihasilkan sangat cepat, sedangkan kerugiannya memiliki resiko yang sangat besar karena obat tidak dapat dikeluarkan bila terjadi kesalahan.

  1. Pemberian obat suntikan subkutan.

Suntikan subkutan hanya bias dilakukan untuk obat-obat yang tidak menyebabkan iritasi terhadap jaringan karena akan menyebabkan rasa sakit hebat, bnekrosis dan pengelupasan kulit. Absorpsi melalui subkutan ini dapat pula bervariasi sesuai dengan yang diinginkan.

Injeksi subkutan (SC) atau pemberian obat melalui bawah kulit, hanya boleh digunakan untuk obat yang tidak menyebabkan iritasi jaringan. Absorpsinya biasanya terjadi secara lambat dan konstan sehingga efeknya bertahan lama. Metode injeksi menggunakan dua jari yaitu ibu jari dan jari telunjuk memegang tengkuk (kulit). area kulit yang mau disuntik dengan alkohol 40 % dan 20 % dibersihkan. Jarum suntik dimasukkan secara paralel dari arah depan menembus kulit.

Gambar 3. Cara pemberian sub kutan

Keuntungan yang diperoleh dengan cara ini adalah absorbsi yang terjadi relative cepat, sedangkan kerugian pada subkutan adalah hanya digunakkan untuk obat yang tidak mengiritasi jaringan.

Righting refleks adalah reaksi tubuh pada hewan untuk kembali ke posisi semula sehingga kuku dan kakinya menempel ke tanah setelah sebelumnya diposisikan pada posisi terlentang. Cara pemberian dapat mempengaruhi kecepatan absorbsi obat yang berpengaruh juga terhadap onset dan durasi. Onset adalah waktu yang dibutuhkan obat untuk menimbulkan efek mulai obat itu diberikan. Cara pemberian per oral memiliki onset yang paling lama karena pada per oral senyawa obat memerlukan proses absorbsi, setelah obat masuk mulut akan masuk lambung melewati kerongkongan. Di dalam lambung obat mengalami ionisasi kemudian diabsorbsi oleh dinding lambung masuk kedalam peredaran darah, sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk berefek. Sedangkan secara intraperitonial memiliki onset paling pendek karena rongga perut banyak terdapat pembuluh darah dan tidak ada faktor penghambat sehingga dengan segera akan menimbulkan efek. Pada subcutan melalui bawah kulit di mana obat harus melalui lapisan- lapisan kulit baru masuk ke pembuluh kapiler bawah kulit, sehingga onset yang dihasilkan lebih lama dari kedua cara lainnya (Anief, 1990).

Durasi adalah waktu yang diperlukan obat mulai dari obat berefek sampai efek hilang. Durasi dipengaruhi oleh kadar obat dalam darah dalam waktu tertentu. Pada per oral didapatkan durasi terpendek, disebabkan karena per oral melewati banyak fase seperti perombakan dihati menjadi aktif dan tidak aktif. Semakin banyak fase yang dilalui maka kadar obat akan turun sehingga obat yang berikatan dengan reseptor akan turun dan durasinya pendek. Sedangkan pada pemberian secara intraperitonial obat dengan kadar tinggi akan berikatan dengan reseptor sehingga akan langsung berefek tetapi efek yang dihasilkan durasinya cepat karena setelah itu tidak ada obat yang berikatan lagi dengan reseptor. Pada sub cutan memiliki durasi yang lama, hal ini disebabkan karena obat akan tertimbun di depot lemak/ jaringan di bawah kulit sehingga secara perlahan- lahan baru akan dilepaskan sehingga durasinya lama. Cara pemberian obat yang baik, bila onset yang dihasilkan cepat dan durasi dalam obat lama (Anief, 1990).

Menurut Ansel (1986), dengan adanya variasi onset dan durasi dari tiap-tiap cara pemberian dapat disebabkan oleh beberapa hal, meliputi:

  1. Kondisi hewan uji dimana masing-masing hewan uji sangat bervariasi yang meliputi produksi enzim, berat badan dan luas dinding usus, serta proses absorbsi pada saluran cerna.
  2. Factor teknis yang meliputi ketetapan pada tempat penyuntikan dan banyaknya volume pemberian luminal pada hewan uji.

Cara pemberian obat dapat mempengaruhi onset dan durasi dimana hubungannya dengan kecepatan dan kelengkapan absorbsi obat. Kecepatan absorbsi obat di sini berpengaruh terhadap onsetnya sedangkan kelengkapan absorbsi obat berpengaruh terhadap durasinya misalnya lengkap atau tidaknya obat yang berikatan dengan reseptor dan apakah ada faktor penghambatnya.  Cara pemberian obat yang ideal adalah obat dengan onset cepat dan durasi panjang. (Ansel, 1986).

Tabel 1. Pengaruh cara pemberian terhadap absorbsi zat (alkohol 40%)

Cara pemberian

Volume pemberian

Refleks Balik Badan (15’)

Onset (menit)

Durasi (menit)

Hilang

Kembali

15

30

45

60

75

15

30

45

60

75

p.o

0,2 ml

7

10

i.p

0,2 ml

12

4

s.c

0,2 ml

6

9

Tabel 1. Pengaruh cara pemberian terhadap absorbs zat (alkohol 20%)

Cara pemberian

Volume pemberian

Refleks Balik Badan (15’)

Onset (menit)

Durasi (meni)

Hilang

Kembali

15

30

45

60

75

15

30

45

60

75

p.o

0,2 ml

21

35

i.p

0,2 ml

4

16

s.c

0,2 ml

5

18

Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan, waktu onset dan durasi, sangat terlihat jelas bahwa terdapat perbedaan pada masing-masing cara pemberian dan perbedaan konsentrasi alkohol. Pada alkohol dengan konsentrasi 40 % dengan cara pemberian per oral waktu onset yang diperlukan 7 menit dengan durasi 10 menit, pada pemberian intraperitonial waktu onset 12 menit dengan durasi 4 menit, sedangkan dengan pemberian sub cutan waktu onset 6 menit dan durasi 9 menit. Berdasarkan teori, urutan waktu onset tercepat adalah intra peritonial, per oral, dan sub cutan sedangkan urutan waktu durasi tercepat adalah per oral, intra peritonial, dan sub cutan. Namun dari hasil percobaan didapatkan hasil yang berbeda. Waktu onset tercepat adalah sub cutan, per oral, lalu intra peritoneal sedangkan waktu durasi tercepat adalah intra peritoneal, sub cutan, lalu per oral. Begitupun hasil yang diperoleh pada alkohol dengan konsentrasi 20 % dengan cara pemberian per oral waktu onset yang diperlukan 21 menit dengan durasi 35 menit, pada pemberian intraperitonial waktu onset 4 menit dengan durasi 16 menit, sedangkan dengan pemberian sub cutan waktu onset 5 menit dan durasi 18 menit. Adanya perbedaan hasil ini dapat disebabkan oleh ketidaktelitian praktikan dalam mengamati gejala yang ditimbulkan mencit maupun kondisi mencit yang pada saat itu kurang sehat. Reflek balik badan (righting reflex) yang ditimbulkan sangat baik.

Berdasarkan perbedaan konsentrasi alkohol yang digunakan, dapat dilihat bahwa rata-rata waktu onset dan durasi alkohol dengan konsentrasi 40 % lebih cepat daripada waktu onset dan durasi yang diperlukan alkohol dengan konsentrasi 20 % yang lebih rendah karena semakin tinggi konsentrasi atau dosis suatu zat yang diberikan, reaksi yang ditimbulkan semakin cepat. Berdasarkan teori, obat yang ideal adalah obat dengan waktu onset cepat dan durasi panjang, maka dari hasil yang diperoleh cara pemberian yang memberikan onset dan durasi yang paling baik adalah intra peritoneal (onset = 4 menit dan durasi = 16 menit) dengan konsentrasi alkohol 20 %.

DAFTAR PUSTAKA

 Anief, M. 1990. Perjalanan dan Nasib Obat Dalam Badan. UGM Press. Yogyakarta.
Anonim.1995. Farmakope Indonesia edisi IV. Depkes RI. Jakarta.
Ansel, H. C. 1986. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. UI Press. Jakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s