Pendugaan Kemelimpahan

I. PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Kerapatan populasi sering dipakai untuk mengetahui perubahan jumlah populasi pada waktu tertentu. Kerapatan berkaitan dengan ukuran. Organisme yang berukuran lebih besar, biasanya mempunyai kerapatan yang lebih rendah. Faktor-faktor yang mempengaruhi kerapatan tersebut adalah natalitas, mortalitas, imigrasi dan emigrasi. Untuk mengetahui kerapatan suatu populasi di daerah tertentu maka digunakan sebuah metode, yaitu mark recapture. Metode ini biasa dipakai pada populasi tertutup, yaitu populasi yang tidak berubah selama studi berlangsung, sehingga kelahiran, kematian, dan perpindahan diabaikan. Populasi terbuka adalah populasi yang berubah karena adanya kematian, kelahiran, dan perpindahan.

Metode mark recapture merupakan metode penandaan paling sederhana, dikenal juga dengan Metode Petersen (sensus tunggal). Prinsip metode ini pertama kali dipakai oleh John Graunt untuk memperkirakan penduduk kota London pada tahun 1662. Penggunaan dalam studi biologi pertama kali digunakan oleh C.G.J. Petersen untuk memperkirakan populasi ikan, pada tahun 1896. Setelah itu banyak ahli biologi yang menggunakan metode ini pada berbagai jenis bintang.

Melalui metoda ini, diketahui banyaknya ikan bertanda yang tertangkap untuk mengetahui ukuran stok yang ada. Analisis pendugaan stok diambil dari beberapa sumber informasi untuk menduga kelimpahan sumber daya dan kecenderungan perubahan populasi. Pendugaan stok secara umum meliputi pendugaan jumlah atau kelimpahan sumber daya, tingkatan angka (rate) perubahan karena penangkapan atau sebab lain dan adanya beberapa saran pada tingkatan mana sumber daya bisa dieksploitasi dengan stok bisa memperbaharui diri pada periode jangka panjang. Ada 3 jenis data yang digunakan untuk keperluan pendugaan stok, yaitu statistik perikanan (hasil penangkapan dan upaya), data hasil survei dan kajian biologi.

  1. Tujuan :

Menduga kemelimpahan suatu spesies dengan menggunakan metode penandaan dan penangkapan ulang

II. TINJAUAN PUSTAKA

Kekhasan dasar suatu populasi yang didefinisikan sebagai suatu kelompok individu dari suatu spesies yang sama dan yang menempati suatu daerah tertentu pada waktu tertentu pula, yang menarik dari seseorang ekologi adalah kerapatanny dan ukurannya. Jumlah individu populasi dalam suatu daerah menarik ukurannya dan jumlah individu dalam suatu daerah atau satuan volume adalah rapatannya. Kelahiran, Kematian,Imigrasi dan Emigrasi dari anggota mempengaruhi uluran dan kerapatan populasi. Kekhasan lain dari populasi yang penting dari segi ekologi adalah keragaman morfologi dalam suatu populasi (Michael, 1994).

Kemelimpahan suatu jenis satwa menunjukan pada kualitas atau juga persentase suatu jenis satwa dalam suatu lokasi tertentu dan pada waktu tertentu. Kemelimpahan dapat dipergunakan untuk menunjukkan indeks keragaman suatu jenis dalam komunitas tersebut. Kemelimpahan akan semakin besar dalam komunitas yang lebih tua dibandingkan dengan komunitas yang lebih muda. Salah satu metode pendugaan yang digunakan untuk menghitung dugaan kemelimpahan suatu populasi adalah metode penandaan dan penangkapan ulang ( Mark and Recapture Techniques ). Metode penandaan dan penangkapan ulang digunakan untuk  menduga populasi organisme yang aktif bergerak. Kelebihan metode ini dibandingkan dengan metode lainnya adalah selain menghasilkan kemelimpahan mutlak, juga diperoleh informasi tentang kelahit\ran, kematian dan laju perpindahan. Kelemahannya metode ini memerlukan waktu dan usaha yang banyak dan untuk mendapatkan data yang akurat diperlukan asumsi-asumsi. Metode ini bisa dipakai pada populasi tertutup, yaitu populasi yang tidak berubah selama studi berlangsung, sehingga kelahiran, kematian dan perpindahan diabaikan. Populasi terbuka yaitu populasi yang berubah karena adanya kematian, kelahiran dan perpindahan (Krebs, 1989).

Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil pendugaan kemelimpahan:

  1. Banyaknya populasi sebenarnya pada suatu tempat :

Semakin banyak jumlah populasi maka semakin kecil kemungkinan tertangkapnya.

  1. Luas area yang digunakan dalam penangkapan :

Semakin luas area yang digunakan, semakin kecil dan sulit penangkapan.

  1. Kapasitas alat yang digunakan dalam penangkapan :

Semakin baik kapasitas alat yang digunakan, maka kemungkinan tertangkapnya satwa semakin besar.

  1. Frekuensi penangkapan sampel :

Semakin tinggi frekuensi penangkapan maka kemungkinan tertangkapnya sampel semakin besar.

  1. Aktifitas sampel

Semakin tinggi aktifitas sampel maka kemungkinan tertangkapnya sampel semakin kecil untuk area yang luas dan semakin besar jika aktifitasnya kecil. Sampel yang lemah juga mempertinggi kemungkinan recapture.

Menurut Tonner (1978) dua cara yang digunakan untuk pendugaan kelimpahan adalah metode Peterson dan metode Schnabel. Metode Peterson merupakan cara sederhana, karena merupakan single marked. Cara ini melibatkan penangkapan sebagian populasi, penandaan untuk pencirian, dan pelepasan. Individu yang ditangkap diberi tanda yang mudah di baca, kemudian dilepaskan kembali dalam periode waktu yang pendek. Setelah beberapa hari ditangkap kembali dan dihitung yang bertanda yang tertangkap. Dari dua kali hasil penangkapan dapat diduga ukuran atau besarnya populasi (N) dengan rumus:

N/M=n/R atau N=(M)(n)/R

Dengan:

N= besarnya populasi total.

M=jumlah induvidu yang tertangkap pada penangkapan pertama.

n= jumlah induvidu yang tertangkap pada penangkapan kedua.

R=Individu yang bertanda dari penangkapan pertama yang tertangkap kembali pada penangkapan kedua.

Metode Schnabel memperbaiki keakuratan metode Peterson (karena sample relatif kecil) Metode ini selain membutuhkan asumsi yang sama dengan metode peterson, juga ditambahkan dengan asumsi bahwa ukuran populasi harus konstan dari satu periode sampling dengan periode yang berikutnya. Pada metode ini penangkapan dan pelepasan hewan lebih dari 2 kali. Untuk periode setiap sampling, semua hewan yang belum bertanda diberi tanda dan dilepaskan kembali. Dengan cara ini populasi dapat diduga dengan rumus :

N=∑(ni Mi)/∑Ri

Dengan catatan:

Mi = adalah jumlah total hewan yang tertangkap period eke I ditambah periode sebelumnya,

Ni = adalah hewan yang tertangkap pada periode i

Ri = adalah hewan yang tertangkap kembali pada periode ke i

Menurut Odum (1993), ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaannya metode penandaan dan penangkapan ulang, yaitu :

  1. Populasi dalam sistem tertutup
  2. Tanda tidak mudah hilang
  3. Hewan harus mudah ditangkap
  4. Populasi dicuplik secara random
  5. Hewan yang ditangkap tidak mempengaruhi penangkapan selanjutnya dan sampling dilakukan pada interval waktu yang sama/tetap 

III. METODE

  1. Alat dan Bahan
  1. Satwa Putih (Kancing putih)
  2. Satwa Hitam (Kancing hitam)
  3. Toples
  4. Komputer
  1. Cara Kerja
  1. Kancing putih dan kancing hitam disediakan dalam 2 toples
  2. Simulasi sebagai penangkapan satwa,  kancing putih diambil dan dihitung jumlah yang tertangkap sebagai (M ). Penandaan satwa yang tertangkap dikerjakan dengan mengganti kancing putih yang terambil dengan kancing hitam dan dimasukkan kedalam toples I.
  3. Toples I diaduk sehingga kancing menjadi tercampur
  4. Penangkapan yang kedua dilakukan sama dengan langkah yang kedua. Jumlah kancing yang tertangkap sebagai ( C ), sedangkan kancing hitam pada penangkapan kedua sebagai ( R ).
  5. Penangkapan selanjutnya dilanjutkan seperti langkah diatas sampai 10 kali.
  6. Pendugaan populasi kancing dihitung dengan rumus petersen, yaitu N = CM / R dan rumus schnabel yaitu N = ∑ (Ct x Mt) / ∑ Rt 

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. Hasil Percobaan

Tabel 1. Hasil Perhitungan Metode Petterson

M

C

R

N

32

46

2

736

 

Tabel 2. Hasil Perhitungan Metode Schanabel

C

Ct

Rt

Ut

Mt

Ct . Mt

Ct/N

Mt/N

1

33

0

33

0

0

0,053369

0

2

45

3

42

33

1485

0,072775

0,053369

3

38

7

31

73

2774

0,061455

0,121292

4

40

7

33

106

4240

0,064689

0,171427

5

27

8

19

139

3753

0,043665

0,224795

6

29

7

22

158

4582

0,0469

0,255523

7

35

10

25

180

6300

0,056603

0,291102

8

47

14

33

205

9635

0,07601

0,331532

9

50

20

30

238

11900

0,080862

0,384901

10

43

15

28

268

11524

0,069541

0,433418

Total

387

91

296

1400

56193

1,10619

2,267359

  1. Pembahasan

Kemelimpahan suatu jenis satwa menunjukan pada kualitas atau juga persentase suatu jenis satwa dalam suatu lokasi tertentu dan pada waktu tertentu. Kemelimpahan dapat dipergunakan untuk menunjukan indeks keragaman suatu jenis dalam komunitas tersebut. Metode yang digunakan dalam pendugaan kemelimpahan adalah metode penandaan dan penagkapan ulang (mark recapture). Metode pendugaan dari mark recapture yang digunakan dalam praktikum ini adalah metode Petersen dan Schnabel.

Pada percobaan ini digunakan kancing hitam dan putih yang dibatasi oleh toples. Metode ini dilakukan dengan menempatkan perangkap yang disebar merata di dalam kawasan dan setelah sawta tertangkap, maka akan diukur dan ditandai, setelah itu satwa yang sudah ditandai akan dilepas kembali. Pada percobaan kancing hitam diambil dan dicatat lalu diganti dengan kancing putih. Kancing putih yang terdapat dalam toples kancing hitam kemudian diaduk lalu diambil lagi dan di catat jumlah kancing yang terambil, lalu dimasukkan ke dalam tabel Peterson dan Schnable.

Petersen menemukan bahwa daerah dasar terus-menerus dihuni oleh sekelompok spesies yang sama dan bahwa daerah-daerah yang dihuni oleh asosiasi spesies yang berlainan. Metode Peterson merupakan cara sederhana, karena merupakan single marked. Cara ini melibatkan penangkapan sebagian populasi, penandaan untuk pencirian, dan pelepasan. Individu yang ditangkap diberi tanda yang mudah dibaca, kemudian dilepaskan kembali dalam periode waktu yang pendek. Setelah beberapa hari ditangkap kembali dan dihitung yang bertanda yang tertangkap. Dari dua kali hasil penangkapan dapat diduga ukuran atau besarnya populasi N. Pada metode Petersen ini individu yang sama dihitung lebih dari sekali dalam keadaan ekologi tertentu selain itu semakin kecil sampel yang digunakan, kemungkinan bisa semakin tinggi.

Metode Schnabel adalah kelanjutan dari metode Petersen. Dalam metode Schnabel individu yang tertangkap pada setiap sampling merupakan perhitungan untuk penandaan kemudian ditandai dan dilepas. Dalam metode ini ada 2 tipe individu: yang ditandai karena tertangkap pada sekali atau lebih pada sampel sebelumnya dan tidak ditandai, tidak pernah tertangkap sebelumnya. Metode Schnabel ini lebih memperhatikan waktu saat penangkapan, capture (C), Marked (M), dan recapture (R) adalah total komulatif dari pengulangan pertama. Pada metode ini penangkapan dan pelepasan hewan lebih dari 2 kali atau multiple marked. Untuk periode setiap sampling, semua hewan yang belum bertanda diberi tanda dan dilepaskan kembali. Kemudian N dapat ditentukan.

Berdasarkan percobaan di atas, diperoleh pendugaan hasil untuk total populasi yang sebenarnya (N) kancing hitam pada metode Peterson adalah 736 sedangkan dengan metode Schnabel diperoleh nilai N sebesar 617,505. Hasil yang diperoleh dari kedua metode menunjukkan bahwa nilai N metode Schnabel lebih kecil daripada nilai N pada metode Peterson. Berdasarkan teori, seharusnya dengan menggunakan metode Schnable, jumlah populasi lebih mendekati yang sebenarnya daripada Peterson, karena semakin banyak perulangan keakuratan suatu populasi akan lebih meningkat. Hal ini disebabkan karena jumlah penangkapan yang signifikan. Pada metode Peterson, penangkapan pertama adalah 32 dan penangkapan kedua 46 sehingga selisihnya 14 sedangkan selisih penangkapan pertama pada metode Schanabel lebih kecil dari Peterson yakni 12 , sehingga jumlah yang signifikan ini mempengaruhi N, yaitu pendugaan jumlah populasi yang sebenarnya.

Faktor – faktor yang mempengaruhi metode mark recapture adalah :

1.   Besar kecilnya pengambilan penangkapan : semakin besar pengambilan, semakin banyak pula kancing yang terambil.

2.   Proses randomisasi : semakin rata pengocokan, semakin rata pula jumlah populasi yang terambil.

Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan metode Petersen dan Schnabel, dapat dilihat kelebihan dan kekurangan dari setiap metode. Pada metode Peterson kelebihannya adalah lebih hemat tenaga dan tidak membuang banyak waktu karena pengulangan hanya 1x dan kekurangannya adalah data yang dihasilkan kurang akurat jika populasinya besar. Pada metode Schnabel, kelebihannya adalah data yang dihasilkan lebih akurat, sedangkan kekurangannya adalah lebih membutuhkan banyak tenaga dan waktu karena banyak pengulangan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode Schnable lebih baik dari pada Peterson karena lebih akurat.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil percobaan di atas, diperoleh beberapa simpulan sebagi berikut.

  1. Metode pendugaan kemelimpahan yang digunakan adalah metode panandaan dan penangkapan ulang (mark recapture) dengan menggunakan metode Petersen dan Schnabel.
  2. Penggunaan metode Schnable lebih baik dari pada Peterson karena dilakukan pengulangan lebih dari sekali sehingga dapat hasil yang diperoleh lebih akurat.
  3. Hasil pendugaan total populasi yang diperoleh pada metode Peterson adalah 736 sedangkan dengan metode Schnabel hasil yang diperoleh adalah 617,505.
  4. Factor yang mempengaruhi metode penandaan dan penangkapan ulang yaitu besar kecilnya pengambilan penangkapan dan proses randomisasi.

DAFTAR PUSTAKA

Krebs, C.S. 1989. Ekology Methodolog. Harper and Row Psb. New York.
Michael, D. 1994. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Ladang dan Laboraturium. Universitas Indonesia. Jakarta.
Odum, E.P. 1993. Dasar-dasar Ekologi. UGM Press. Yogyakarta.
Tonner, J.T. 1978. Guide to The Study of Animal Populaion. The University of Tannasse Press.   Knoxvilie.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s