Lokasi dan Waktu Sensasi Pengecap

Tujuan Praktikum : a. Mengetahui lokasi reseptor pengecap pada manusia

b. Mengetahui variasi waktu pengecap

METODE

A. Alat :

1. stopwatch

2. cawan petridish

B. Bahan :

1. bubuk kina

2. kristal gula

3. kristal asam sitrat

4. kristal garam dapur

5. tissue

C. Cara Kerja

  1. Permukaan lidah dikeringkan dengan menggunakan tissue.
  2. Gula diletakkan sedikit pada lokasi yang telah diketahui.
  3. Stopwatch dinyalakan dan ketika sensasi telah terasa, stopwatch dimatikan lalu dicatat.
  4. Probandus berkumur dengan menggunakan air dan lidah tidak dikeringkan.
  5. Cara kerja 2 sampai 4 dilakukan dengan bahan yang berbeda (garam, asam sitrat, dan kina) dan perlakuan lidah basah dan kering.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel Hasil Lokasi dan Waktu Pengecap

Probandus

Bahan

Daerah sensitif

Rasa

Waktu sensasi (detik)

Basah

Kering

Basah

Kering

Gula

Ujung

Ujung

Manis

8

11

Garam

Pinggir

Pinggir

Asin

6

8

Kina

Pangkal

Pagkal

Pahit

5

7

Asam Sitrat

Pinggir

Pinggir

Asam

6

14

Gula

Ujung

Ujung

Manis

9

13

Garam

Pinggir

Pinggir

Asin

9

12

Kina

Pangkal

Pangkal

Pahit

7

10

Asam Sitrat

Pinggir

Pinggir

Asam

5

9

 

B. Pembahasan

Indra pengecap merupakan indra yang penangkap rangsangan berupa zat kimia. Rangsangan yang diterima oleh indra pengecapan tersebut diatur oleh gustatory system. Gustatory system adalah sistem sensoris bagi indera pengecapan. Pengecapan adalah fungsi utama dari taste buds di dalam rongga mulut, lebih tepatnya pada lidah. Reseptor pengecapan terdiri dari kurang lebih 50 sel-sel epitel yang telah termodifikasi, dan membentuk kelompok di dalam taste buds. Beberapa diantaranya disebut sebagai sel sustentakular dan lainnya disebut sebagai sel pengecap. Sel-sel pengecap terus menerus digantikan melalui pembelahan mitosis dari sel-sel epitel disekitarnya, sehingga beberapa diantaranya adalah sel muda dan dan lainnya sel matang yang terletak ke arah bagian tengah inderadan akan segera terurai dan larut. Ujung-ujung luar dari sel pengecap tersusun disekitar pori-pori pengecap (taste pore) yang sangat kecil. Pada setiap sel-sel pengecap terdapat rambut pengecap (gustatory hair) atau microvilli, yang menonjol ke luar menuju ke pori-pori pengecap (taste pore), yang mengarah ke rongga mulut. Rambut-rambut pengecap (gustatory hair) dapat membangkitkan aksi potensial ketika mendapat stimulus kimia yang larut dalam saliva. Oleh karena itu, reseptor ini dikategorikan sebagai kemoreseptor (Guyton dan Hall, 2006).

Lidah manusia mempunyai kira – kira 10000 taste buds (papilla pengecap) yang berbentuk seperti benjolan kecil berwarna merah pada sebagian besar bagian lidah. Pada mamalia, taste buds terletak pada pangkal rongga mulut, pada faring, epiglottis laring, dan pintu masuk pada esofagus. Taste buds pada epitel dorsum lingual merupakan bagian yang paling banyak. Taste buds tersebut dibagi menjadi 4 jenis, yaitu:

  1. Papilla fungiformis, terletak pada bagian lidah paling anterior. Papilla ini dihubungkan oleh chorda tymphani yang merupakan cabang dari facial nerve (N.VII). Papilla ini terlihat seperti titik – titik merah pada lidah (berwarna merah karena papilla ini kaya akan pembuluh darah). Terdapat kira – kira 1120 taste buds pada papilla ini.
  2. Papilla foliata, terletak pada ujung lidah agak anterior pada garis circumvallate. Papilla – papilla ini sensitive pada rasa asam. Papilla – papilla ini juga dihubungkan oleh glossopharyngeal nerve (N.IX). Kira – kira terdapat 1280 taste buds pada papilla ini.
  3. Papilla circumvalata, merupakan papilla yang terlihat seperti tenggelam, dan mempunyai semacam kotak yang memisahkannya dari dinding – dinding sekelilingnya. Taste buds terletak didalam papilla. Papilla ini juga terletak pada garis circumvalata dan berperan pada sensitivitas asam dan pada 2/3 bagian posterior lidah. Papilla ini dihubungkan dengan glossopharyngeal nerve (N.IX). Pada papilla ini, terdapat kira – kira 2200 taste buds.
  4. Papila filiformis hanya bersifat mekanik dan tidak berfungsi sebagai pengecap karena tidak mengandung taste bud (Ganong, 2005).

 

Gambar 1. Struktu fisiologi lidah

Keterangan :

1. Rasa pahit

2. Rasa asam

3. Rasa asin

4. Rasa manis

Makanan dapat diketahui rasanya karena adanya reseptor pengecap pada lidah yang disebut kuncup pengecap. Reseptor pengecap sangat peka terhadap zat kimia berupa larutan. Puting pengecap terdapat di kuncup pengecap (papila). Kuncup pengecap lidah dapat merasakan empat macam rasa, yaitu manis (ujung lidah), asin (lidah bagian depan), asam (tepi lidah) dan pahit (pangkal lidah). Zat-zat makanan yang telah dikunyah bersama air liur memasuki papila melalui pori-pori pengecap. Zat makanan tersebut merangsang rambut-rambut saraf yang terdapat pada papila. Saraf akan membawa impuls tersebut ke otak. Otak akan menerjemahkannya sebagai rasa suatu makanan (Wibawati, 2009).

Cita rasa dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu bau, sentuhan, dan rangsangan mulut (panas dan dingin), dua faktor yang disebutkan terakhir dapat dideteksi oleh sel-sel sensorik pada lidah dan dikecap sebagai rasa. Penginderaan cecapan dapat dibagi menjadi 4 cecapan utama, yaitu manis, pahit, asam dan asin. Agar bisa dirasakan, zat itu harus larut dalam kelembaban mulut. Hanya bila ada dalam larutan, zat dapa tmenstimulasi papila. Ada tambahan respon lain yang terjadi bula dilakukan modifikasi seperti rasa kecut, pedas, panas dan sebagainya. Sensitifitas dari rasa terdapat pada ujung-ujung lidah, masing-masing terdistribusi pada 4 jenis daerah reseptor : ujung lidah (manis), pangkal lidah (pahit), sisi depan lidah (asin) dan sisi belakang lidah (asam), (Zuhra, 2009).

Sensasi rasa dari pengecapan terjadi menurut mekanisme berikut. Bahan yang masuk ke dalam mulut lalu terkena permukaan lidah. Ujung luar sel-sel kecap tersusun mengelilingi pori kecap yang kecil. Dari ujung setiap sel, keluar menonjol melalui pori kecap melalui rongga mulut. Beberapa mikrovili, atau rambut kecap dengan panjang sekitar 2-3 mikron, lebar 0,2 mikron. Mikrovili merupakan reseptor permukaan bagi rasa. Jalinan diantara sel-sel kecap merupakan jalinan cabang-cabang terminal beberapa serabut saraf kecap yang dirangsang oleh sel-sel kecap. Serabut-serabut ini mengadakan invaginasi jauh ke dalam lipatan membran sel kecap, sehingga terdapat hubungan yang sangat erat antara sel kecap dan saraf. Saraf akan membawa impuls tersebut ke otak. Otak akan menerjemahkannya sebagai rasa suatu makanan. Beberapa puting kecap dapat dipersarafi oleh serabut kecap yang sama (Yosevin, 2009).

Rasa manis dimulai dengn melekatnya molekul gula pada porus perasa. Kemudian hal ini akan mengaktifkan stimulator yang terdapat pada sitoplasma yang terdapat pada membran. Stimulator (protein G ) akan teraktivasi selanjutnya akan mengaktifkan enzim adenilat siklase. Enzim ini akan mengaktifkan pembentukan Camp dari ATP. Terjadinya peningkatan camp akan mengakibatkan terstimulasinya enzim sitoplasma lainnya. Hal ini akan membuat ion K dapat keluar sehingga mengakibatkan depolarisasi pada puting pengecap. Hal ini akan mengakibatkan terlepasnya neotransmiter ke sinaps dan selanjutnya akan diteruskan ke otak (Yustian, 2009).

Rasa asin disebabkan masuknya ion Na. Masuknya ion Na mengakibatkan tertutupnya saluran keluar ion K. Depolarisasi mengakibatkan neotransmiter keluar, dan impuls bisa diterima oleh otak. Transtan pahit akan berikatan dengan reseptor pada membran. Pelekatan ii akan mengakibatkan teraktivasinya protein G lainnya yang kemudian akan mengaktifkan enzim fosfolipase. Enzim ini akan membuat IP3 yang merupan senyawa yang larut daam sitoplasma yang terdapat dalam RE. Berikatan IP3 dengan reseptor akan membuat terbukanya ion Ca. Maka ion Ca akan keluar menuju Sitoplasma. Peningkatan ion Ca akan membuat saluran K terbuka dan terjadi sinaps. Tidak sepeti rasa manis dan pahit, rasa asam terjadi karena konsentrasi proteon atau ion H. Membran sanyat permeable terhadap proton ini. Masuknya proton akan membuat depolarisasi akibatnya neotransmiter dilepaskan ke sinaps (Yustian, 2009).

Faktor-faktor yang mempengaruhinya adalah usia, jenis kelamin, perokok atau tidak, kondisi lidah dan kesehatan seseorang, yang akan memberikan respon yang berbeda. Faktor-faktor yang mempengaruhi rasa :

  1. Senyawa kimia
    1. rasa manis disebabkan oleh senyawa organik alifatik yang mengandung gugus OH, beberapa asam amino, aldehid dan gliserol. Pemanis buatan, sakarin dan siklamat dalam konsentrasi tinggi cenderung memberikan rasa pahit.
    2. Rasa pahit disebabkan oleh alkaloid seperti kafein, kuinn, fenol, garam Mg, NH4 dan Ca.
    3. Rasa asin dihasilkan oleh garam anorganik, umumnya NaCl kecuali garam Iodida dan bromida memberikan rasa pahit sedangkan garam Pb dan Be memberikan rasa manis.
    4. Rasa asam disebabkan oleh donor proton. Intensitas rasa asam tergantung ion H+ yang dihasilkan dari hidrolisis asam (Zuhra, 2009).

Ambang untuk perangsangan rasa asam oleh asam hidroklorida rata-rata 0,0009 M; untuk perangsangan rasa asin oleh natrium klorida 0,001 M; untuk rasa manis oleh sukrosa 0,01 M dan untuk rasa pahit oleh kuini 0,000008 M. Perhatikan khususnya berapa kali indera rasa pahit lebih peka terhadap rangsangan dibandingkan dengan lainnya, karena rasa pahit ini diharapkan akan memberikan fungsi perlindungan yang penting (Guyton, 1991).

  1. Suhu

Suhu mempengaruhi kemampuan papila lidah. Sensitifitasnya akan berkurang bila suhu lebih dari 20C dan lebih kecil dari 30C akan memberikan perbedaan rasa. Seperti kopi panas akan berkurang pahitnya dari pada kopi dingin. Makanan yang terlalu panas akan membakar lidah dan dapat merusak kepekaan papila, tapi sel yang rusak akan diganti dalam beberapa hari (Zuhra, 2009)

  1. Kosentrasi

Treshold merupakan batas konsentrasi terendah terhadap suatu rasa agar masih bisa dirasakan. Pada setiap orang berbeda-beda. Seseorang dapat mengalami buta rasa dan untuk mengujinya dapat dilakukan uji dengan menggunakan senyawa Phenyl Thio Carbamida. Jika seseorang buta rasa makan senyawa ini akan berasa pahit (Zuhra, 2009).

  1. Cita rasa tiruan

Umumnya sneyawa yang digunakan adalah ester yang memberi aroma menyerupai buahan. Seperti vanili, amil asetat (menyerupai aroma pisang),  amil kaproat (menyerupai aroma apel, nanas) (Zuhra, 2009).

Pada percoban yang dilakukan, digunakan bahan uji berupa kristal gula untuk rasa manis, kristal garam untuk rasa asin, kristal asam sitrat untuk rasa asam dan bubuk kina untuk rasa pahit. Semua bagian lidah memiliki kemampuan untuk mengecap semua rasa yang dikenakan padanya, tetapi ada lokasi paling sensitif terhadap rasa dasar tersebut. Terjadinya area-area pengecapan rasa tersebut karena keberadaan papila-papila lidah yang mampu merasakan sensasi pengecap untuk masing-masing jenis terkonsentrasi dominan pada daerah tersebut. Sensasi rasa berupa rasa manis, asin, asam, pahit dapat terasakan dengan cepat jika bahan tersebut langsung mengenai daerah sensitif yang sesuai sehingga penghantaran rasanya berjalan dengan cepat ke pusat syaraf dan timbul sensasi rasa.

Penentuan waktu pengecapan dilakukan dengan dua perlakuan yaitu pada perlakuan kondisi lidah basah dan kodisi lidah kering. Umumnya lidah dengan kondisi basah, waktu pengecapannya lebih cepat dari pada lidah dalam kondisi kering. Pada probandus pria, ujung lidah yang digunakan untuk merasakan manis dalam kondisi basah dibutuhkan waktu 8 detik, sedangkan pada kondisi lidah kering dibutuhkan waktu 11 detik. Bagian pinggir lidah berfungsi mengecap rasa asin dalam kondisi lidah basah memerlukan waktu 6 detik dan dalam kondisi lidah kering memerlukan waktu 8 detik.  Pangkal lidah yang mengecap rasa pahit dalam kondisi basah memerlukan waktu 5 detik dan dalam kondisi lidah kering memerlukan waktu 7 detik. Pada bagian pinggir lidah mengecap rasa asam dalam kondisi lidah basah memerlukan waktu 6 detik dan dalam kondisi lidah kering memerlukan waktu 14 detik.

Pada probandus wanita, ujung lidah yang digunakan untuk merasakan manis dalam kondisi basah dibutuhkan waktu 9 detik sampai rasa manis itu terasa, sedangkan pada kondisi lidah kering dibutuhkan waktu 13 detik. Bagian pinggir lidah yang berfungsi mengecap rasa asin dalam kondisi lidah basah dibutuhkan waktu 9 detik dan dalam kondisi lidah kering memerlukan waktu 12 detik.  Pangkal lidah yang mengecap rasa pahit dalam kondisi basah dengan waktu 7 detik dan kering memerlukan waktu 10 detik. Pada bagian pinggir lidah yang dapat mengecap rasa asam dalam kondisi lidah basah dalam waktu 5 detik dan kering memerlukan waktu yang sama dalam mendeteksi fungsinya dalam waktu 9 detik.

Perbedaan waktu pengecapan antara kondisi lidah basah dan kondisi lidah kering dipengaruhi oleh keberadaan air liur yang merupakan larutan dengan enzim-enzim yang berfungsi mempercepat pengecapan dan membantu pelarutan bahan uji sehingga lebih mudah untuk segera terdeteksi oleh papila-papila lidah. Pada perlakuan lidah kering, sensasi rasa waktunya cukup lama karena bubuk uji tidak dapat langsung mengenai papila lidah yang cukup banyak karena tidak larut sehingga waktunya menjadi lebih lama. Perbedaan waktu pengecapan juga dipengaruhi oleh kebiasaan dan pola makan probandus. Kebiasaan dalam mengkonsumsi makanan menjadikan papila-papila menjadi terbiasa untuk memakan dosis yang biasa (agak berlebih dari percobaan) sehingga untuk dosis kurang dari dosis biasa, memerlukan waktu yang agak lama.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil percobaan di atas, dapat diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut.

  1. Bagian depan lidah sensitif terhadap rasa manis, bagian pinggir depan lidah sensitif terhadap rasa asin dan asam, bagian tepi lidah belakang sensitif terhadap rasa asam, bagian pangkal lidah sensitif terhadap rasa pahit.
  2. Pada probandus pria, untuk merasakan manis dalam kondisi basah dibutuhkan waktu 8 detik, sedangkan pada kondisi lidah kering dibutuhkan waktu 11 detik. Untuk merasakan rasa asin dalam kondisi lidah basah memerlukan waktu 6 detik dan dalam kondisi lidah kering memerlukan waktu 8 detik. Untuk merasakan rasa pahit dalam kondisi basah memerlukan waktu 5 detik dan dalam kondisi lidah kering memerlukan waktu 7 detik. Untuk merasakan rasa asam dalam kondisi lidah basah memerlukan waktu 6 detik dan dalam kondisi lidah kering memerlukan waktu 14 detik.
  3. Pada probandus wanita, untuk merasakan manis dalam kondisi lidah basah dibutuhkan waktu 9 detik dan pada kondisi kering dibutuhkan waktu 13 detik. Untuk merasakan rasa asin pada kondisi lidah basah dibutuhkan waktu 9 detik dan dalam kondisi lidah kering memerlukan waktu 12 detik. Untuk merasakan rasa pahit dalam kondisi basah dengan waktu 7 detik dan kering memerlukan waktu 10 detik. Untuk merasakan rasa asam dalam kondisi lidah basah dibutuhkan waktu 5 detik dan kering memerlukan waktu 9 detik.
  4. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan sensasi pengecap adalah keberadaan air liur (saliva), usia, jenis kelamin, perokok atau tidak, kondisi lidah dan kesehatan seseorang.
  5. Perbedaan waktu pengecapan antara kondisi lidah basah dan kondisi lidah kering dipengaruhi oleh keberadaan air liur. Waktu pegecapan lidah basah lebih cepat dari pada lidah kering.

DAFTAR PUSTAKA

 Ganong, W. F. 2005. Review of Medical Physiology. 22nd ed. San Francisco. McGraw-Hill Conpanies.
Guyton, A. C., 1991, Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit, Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
Guyton, A. C and Hall, J. E .2006. Textbook of medical physiology. 11th ed. Philadehelpia. Elsevier Saunders.
Wibawati, Y. 2009. Indra Pengecap (Lidah). http://biologinyanuris.blogspot.com. 20 November 2010.
Yosevin. 2009. http://biologinyanuris.blogspot.com. 20 November 2010.
Yustian, K. 2009. Mekanisme Kerja Reseptor Pengecap. http://cocoexperiment.blogspot.com. 20 November 2010.
Zuhra, F. 2006. Flavor (citarasa). Departemen Kimia. Fakultas MIPA. USU.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s