Desakan Darah Manusia

Tujuan Praktikum   :   a. Mahir menggunakan Sphygmomanometer dalam mengukur desakan  darah

b. Melihat pengaruh pemanasan dan pendinginan terhadap desakan  darah   arterial

METODE

A. Alat :

a. Sphygmomanometer

b. Stetoskop

c. Tread mil

d. Baskom

e. Palu

B. Bahan :

a. es batu

b. air

C. Cara Kerja

a. Probandus berada dalam keadaan duduk dan tangan kirinya dibebat.

b. Denyut nadi probandus dicari dan diletakkan stetoskop pada denyut nadi tersebut.

c. Udara dipompa ke pembebat sehingga sphygmomanometer menunjukkan angka 170 mmHg.

d. Udara dikeluarkan secara perlahan-lahan dan pada waktu yang bersamaan, stetoskop didengar saat bunyi nadi pertma kali didengar (sistolik) dan saat bunyi menghilang (diastolik).

e. Angka yang ditunjuk air raksa pada sphygmomanometer dicatat dan percobaan diulang setelah probandus berlari dan setelah tangan probandus direndam dalam air es.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel Hasil Desakan Darah Manusia

No

Perlakuan

Sistol

Diastol

Sistol

Diastol

1

Berbaring

110

80

110

80

2

Berdiri 5 menit

120

80

120

80

3

Berlari 5 menit

120

80

120

90

4

Duduk 10 menit

180

80

110

80

5

Dingin 5 menit

120

80

120

80

 

B. Pembahasan

Darah termasuk golongan jaringan ikat dan merupakan media komunikasi antar sel berbagai bagian tubuh dan dengan dunia luar (Tambayong, 1999). Tekanan darah adalah desakan darah terhadap dinding-dinding arteri ketika darah tersebut dipompa dari jantung ke jaringan (Hull, 1986). Tekanan darah sistolik adalah tekanan yang diturunkan sampai suatu titik dimana denyut dapat dirasakan. Sedangkan tekanan diastolik adalah tekanan di atas arteri brakialis perlahan-lahan dikurangi sampai bunyi jantung atau denyut arteri dengan jelas dapat didengar dan titik dimana bunyi mulai menghilang. Perbedaan tekanan antara sistole dan diastole disebut tekanan nadi dan normalnya adalah 30-50 mmHg (Hull, 1986).

Desakan/tekanan darah adalah aktivitas jantung dapat dibagi menjadi dua periode konstraksi atau sistole dan periode relaksasi atau diastole. Sistole ventrikel kiri mendorong darah yang sudah ada di dalam aorta, sebagian mendesak dinding aorta. Oleh karena sifat dinding aorta yang bersifat kenyal maka oleh desakan itu aorta mengembang. Pada waktu diastole berikutnya, dinding aorta yang kenyal ini mendesak darah lagi sehingga sebagian darah terdesak ke valvula semilunaris, sehingga valvula ini menutup dan sebagian darah lagi terdesak ke dalam bagian aorta berikutnya. Akibatnya ialah bagian aorta yang tadi mengembang sekarang mengecil lagi dan bagian aorta berikutnya mengembang oleh karena desakan sebagian dari darah. Dengan demikian bagian demi bagian berturut-turut sepanjang arteria mengembang dan mengecil lagi. Mengembangnya arteri ini merupakan pulsus arteriosus (Pearce, 1982).

Menurut Health (2004), tekanan darah normal itu sangat bervariasi tergantung pada:

  1. Aktivitas fisik

Aktivitas fisik dan kegiatan sehari-hari sangat mempengaruhi tekanan darah, semakin tinggi kegiatan fisik yang dilakukan tekanan darah semakin meningkat.

  1. Emosi

Perasaan takut, cemas, cenderung membuat tekanan darah meningkat.

  1. Stres

Keadaan pikiran juga berpengaruh terhadap tekanan darah sewaktu mengalami pengukuran.

  1. Usia

Tekanan darah akan cenderung tinggi bersama dengan peningkatan umur.

Sedangkan menurut Parsudi (1991), faktor yang mempengaruhi tekanan darah adalah:

  1. Olah raga terutama yang menggunakan otot lengan.
  2. Latihan kerja yang lama akan menurunkan tekanan sistolik yang progresif sehingga mudah lelah.
  3. Umur. Semakin tua tekanan sistolik semakin tinggi biasanya dihubungkan dengan timbulnya arteiosklerosis kira-kira sepersepuluh dan orang tua meningkat di atas 200 mmHg.
  4. Seks. Pada wanita sebelum menopause 5-10 mmHg lebih rendah dari pria seumurnya, tetapi setelah menopause tekanan darahnya tinggi.

Tekanan darah di suatu tempat pada peredaran darah ditentukan oleh 3 faktor, yaitu :

  1. Jumlah darah yang ada diperedaran yang dapat membesarkan pembuluh darah.
  2. Aktifitas memompa jantung, yaitu mendorong darah sepanjang pembuluh darah.
  3. Tahanan terhadap aliran darah (Aida, 2005).

Sphygmomanometer adalah suatu alat yang digunakan untuk menilai desakan/ tekanan darah seseorang. Alat ini berupa manometer air raksa yang dilengkapi dengan semacam bebat yang dapat diisi udara melalui penghembusan dari karet. Seseorang yang akan ditentukan desakan darahnya salah satu lengannya dibebat dan ke dalamnya dipompakan udara untuk menghentikan aliran darah yang melalui lengan itu. Dalam hal ini sasarannya adalah arteri brachialis. Jika kemudian udara dikeluarkan kembali maka suatu saat terjadi permulaan darah mulai mengalir kembali. Pada saat inilah dapat diperoleh nilai besarnya desakan sistolis dan jika pengosongan itu diteruskan pada suatu saat diperoleh nilai besarnya desakan diastolis. Saat-saat itu dapat diketahui dengan menggunakan stetoskop. Bunyi yang pertama kali terdengar pada waktu pengosongan udara merupakan saat untuk menentukan desakan sistolis (cara auskultasi). Bersamaan itu dilakukan pengukuran secara palpasi yaitu dengan menentukan saat pertama kali teraba denyut pada pangkal nadi. Bila pengosongan udara diteruskan maka pada suatu saat bunyi akan menghilang. Pada saat itulah dapat ditentukan besarnya nilai desakan diastolis (secara auskultasi). Cara palpasi hanya dapat menentukan besarnya nilai desakan sistolis.

Menurut Lany Gunawan, dalam pengukuran tekanan darah ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:

  1. Pengukuran tekanan darah boleh dilaksanakan pada posisi duduk ataupun berbaring. Namun yang penting, lengan tangan harus dapat diletakkan dengan santai.
  2. Pengukuran tekanan darah dalam posisi duduk, akan memberikan angka yang agak lebih tinggi dibandingkan dengan posisi berbaring meskipun selisihnya relatif kecil.
  3. Tekanan darah juga dipengaruhi kondisi saat pengukuran. Pada orang yang bangun tidur, akan didapatkan tekanan darah paling rendah. Tekanan darah yang diukur setelah berjalan kaki atau aktifitas fisik lain akan memberi angka yang lebih tinggi. Di samping itu, juga tidak boleh merokok atau minum kopi karena merokok atau minum kopi akan menyebabkan tekanan darah sedikit naik.
  4. Pada pemeriksaan kesehatan, sebaiknya tekanan darah diukur 2 atau 3 kali berturut-turut, dan pada detakan yang terdengar tegas pertama kali mulai dihitung. Jika hasilnya berbeda maka nilai yang dipakai adalah nilai yang terendah.
  5. Ukuran manset harus sesuai dengan lingkar lengan, bagian yang mengembang harus melingkari 80 % lengan dan mencakup dua pertiga dari panjang lengan atas (Lany, 2005).

Tekanan darah pada orang dewasa normal berkisar antara 120/70 mm Hg sampai 140/80 mm Hg. Tekanan darah seseorang dapat berubah setiap saat. Jika tekanan darah di atas normal maka akan terjadi tekanan darah tinggi atau hipertensi. Darah yang mengalir ke seluruh tubuh dipompa jantung dengan kekuatan tertentu. Kekuatan ini berupa tekanan yang mendorong darah ke luar menuju arteri (pembuluh nadi), kemudian mengalir ke seluruh tubuh. Pada saat otot bilik kiri jantung berkontraksi, maka tekanan yang terjadi diteruskan ke arteri (pembuluh nadi).

Metode yang biasa digunakan dalam mengukur tekanan darah, yaitu:

  1. Metode Palpasi

Metode palpasi merupakan metode yang mengunakan manset lengan dan kemudian membiarkan tekanan turun dan tentukan tekanan pada saat denyut radialis pertama kali teraba. Cara memperoleh nilai minimum dari sistole dapat dihitung secara kasar tanpa

perlatan dengan cara palpasi.

  1. Metode Auskultasi

Auskultasi adalah metode yang menggunakan stetoskop dan sphygmomanometer. Dalam menentukan tekanan darah dengan cara auskultasi, tekanan dalam manset mula-mula dinaikkan sampai tekanan diatas arteri sistolik. Selama tekanan ini lebih tinggi daripada tekanan sistolik ,arteri brakialis tetap kolaps dan tidak ada darah yang mengalir kedalam arteri yang lebih distal sepanjang bagian siklus tekanan yang manapun. Oleh karena itulah, tidak akan terdenga bunyi korotkoff dibagian arteri yang lebih distal. Namun kemudian tekanan dalam manset secara bertahap dikurangi. Begitu tekanan dalam manset menurun dibawah tekanan sistolik akan ada darah yang mengalir melalui arteri yang terletak dibawah manset elama puncak tekanan sistolik dan kita mulai mendegar bunyi berdetak dalam arteri antecubiti yang sinkron dengan denyut jantung. Saat bunyi terdengar , nilai tekanan yang ditunjukkan oleh manometer yang dihubungkan dengan manset kira-kira sama dengan tekanan sistolik. Bila tekanan dalam manset diturunkan lebih lanjut, terjadi perubahan kualitas bunyi berdetaknya menjadi berkurang namun lebih berirama dan bunyinya lebih kasar. Kemudian, akhirnya sewaktu tekanan dalam manset turun sampai sama dengan tekanan diastolik ,arteri tersebut tidak tersumbat lagi , yang berarti bahwa faktor dasar yang menimbulkan terjadinya bunyi dalah pancaran darah melewati arteri yang tertekan tidak ada lagi. Oleh karena itu bunyi tersebut mendadak berubah menjad meredam dan biasanya menghilang seluruhnya setelah tekanan dalam manset turun lagi sebanyak 10 sampai 10 milimeter. Kita catat tekanan pada manometer ketika bunyi korotkoff berubah menjadi meredam, dan tekanan ini kurang lebih sama dengan tekanan diastolik (Guyton, 2007).

Pada percobaan yang dilakukan, diketahui bahwa tekanan darah probandus pria pada saat berbaring 5 menit adalah 110/80 mmHg sama dengan tekanan darah wanita yaitu 110/80 mmHg,  ini merupakan tekanan darah yang normal. Setelah berlari  selama 5 menit, tekanan darah probandus pria dan wanita pun masih sama yaitu 120/80 mmHg, ini merupakan tekanan darah normal. Tapi pada kasus ini bisa dikatakan tidak normal, seharusnya setelah berlari, tekanan darah probandus berada di atas normal, karena terjadi pelebaran pembuluh darah dan kerja jantung lebih cepat sehingga darah mengalir lebih cepat. Setelah berdiri 5 menit, tekanan darah probandus pria adalah 120/80 mmHg, ini merupakan tekanan darah yang normal karena pada saat berdiri, darah dapat mengalir dengan kecepatan yang normal. Tekanan darah probandus wanita adalah 120/90 mmHg, tekanan darah ini tentu saja tidak normal karena kesalahan praktikan dalam menggunakan alat atau kondisi probandus yang kurang stabil. Pada saat duduk, tekanan darah probandus pria adalah 100/80 mmHg, tekanan darah ini dapat dikatakan normal. Begitupun tekanan darah pada probandus wanita yaitu 110/80 mmHg, tekanan ini juga normal. Setelah direndam air es selama 5 menit, tekanan darah probandus pria maupun wanita adalah sama yaitu 120/80 mmHg, ini juga merupakan tekanan darah normal, tapi pada kondisi ini tekanan darah probandus seharusnya dibawah normal karena terjadi penyempitan pembuluh darah yang mengakibatkan darah lebuh sukar mengalir. Hal ini dapat terjadi karena ketidaktelitian pada saat pengukuran tekanan darah atau memang kondisi probandus tidak stabil. Tujuan probandus berlari dan tangannya direndam dalam air es adalah untuk mengetahui pengaruh aktivitas terhadap tekanan darah. Semakin tinggi aktivitas seseorang, tekanan darahnya akan semakin tinggi pula.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil percobaan di atas, diperoleh kesimpulan sebagai berikut.

  1. Tekanan darah normal pada manusia adalah 120/80 mmHg atau 110/70 mmHg.
  2. Saat berbaring tekanan darah probandus pria dan wanita sama yaitu 110/80 mmHg (normal)
  3. Saat berlari tekanan darah probandus pria maupun wanita sama yaitu 120/80 mmHg (tidak normal), seharusnya tekanan darah berada di atas normal karena terjadi pelebaran pembuluh darah.
  4. Saat berdiri tekanan darah probandus pria adalah 120/80 (normal) dan probandus wanita 120/90 (tidak normal).
  5. Saat duduk tekanan darah probandus pria dan wanita adalah sama yaitu 110/80 mmHg (normal).
  6. Setelah direndam air es selama 10 menit, tekanan darah probandus 120/80 mmHg, merupakan tekanan darah yang tidak normal. Seharusnya tekanan darah berada di bawah normal, karena terjadi penyempitan pembuluh darah.
  7. Faktor-faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya tekanan darah adalah usia, jenis kelamin, aktivitas, emosi, konsumsi garam.

DAFTAR PUSTAKA

Aida, Yuniarti, 2005, Fisiologi Hewan, Fakultas Biologi UAJY, Yogyakarta.
Guyton and Hall. 2007. Fisiologi kedokteran. EGC : Jakarta.
Health, V. 2004. Hipertensi. Jakarta: Penerbit PT.Gramedia Pustaka Utama.
Hull, A.1986.Fisiologi Kedokteran.Jakarta:EGC
Lany, G. 2005.  Hipertensi. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Pearce, E. 1982. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. PT Gramedia. Jakarta.
Tambayong, J.1999. Anatomi dan Fisiologi untuk Keperawatan. Jakarta: Penerbit Kedokteran. EGC.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s