Cara Pemberian Agent per Oral

Salah satu tahap penelitian obat atau alat baru adalah bahwa zat atau alat tersebut sebelum diujikan pada manusia harus diujikan terlebih dahulu pada hewan percobaan. Hewan percobaan yang banyak digunakan adalah mencit dan tikus putih karena kedua hewan ini mudah diperoleh dalam jumlah banyak, mempunyai respon yang cepat, memberikan gambaran secara ilmiah yang mungkin terjadi pada manusia, dan harganya relative lebih murah (Sihombing, 2010).

Dalam melakukan suatu penelitian, dibutuhkan suatu hewan percobaan. Salah satu hewan percobaan yang sering digunakan  adalah mencit (Mus musculus). Mencit banyak digunakan dalam berbagai bidang penelitian ilmiah. Morfologi mencit yang kecil tampak praktis sehingga dalam ruangan yang relative kecil dapat dipelihara atau digunakan untuk penelitian dalam jumlah banyak. (Sihombing, 2010).

Absorpsi merupakan proses penyerapan obat dari tempat pemberian, menyangkut jumlah obat dalam prosentase dari dosis yang ditransfer dari tempat pemberian ke sirkulasi sistemik, dalam bentuk utuh atau metabolitnya. Unuk dapat menimbulkan efek famakologis yang diinginkan, obat harus dapat diabsorpsi dengan baik. Tergantung dari tujuan, sifat obat dan kondisi penderita, pemberian obat dapat dilakukann melalui berbagai cara, diantara nya adalah per oral dan parenteral. Salah satu perbedaan keefektifan obat yang mungkin muncul disebabkan oleh karena adanya perbedaan cara pemberian atau rute pemberian yang berkaitan dengan kecepatan absorpsinya.

Menurut, Howard (1989), mekanisme absorpsi obat dalam berbagai rute pemberian, yaitu:

  • Rute Enteral
  1. Oral

Obat yang cara penggunaannya masuk melalui mulut. Keuntungannya relatif aman, praktis, ekonomis. Kerugiannya timbul efek lambat; tidak bermanfaat untuk pasien yang sering muntah, diare, tidak sadar, tidak kooperatif; untuk obat iritatif dan rasa tidak enak penggunaannya terbatas; obat yang inaktif/terurai oleh cairan lambung/ usus tidak bermanfaat (penisilin G, insulin); obat absorpsi tidak teratur. Untuk tujuan terapi serta efek sistematik yang dikehendaki, penggunaan oral adalah yang paling menyenangkan dan murah, serta umumnya paling aman. Hanya beberapa obat yang mengalami perusakan oleh cairan lambung atau usus. Pada keadaan pasien muntah-muntah, koma, atau dikehendaki onset yang cepat, penggunaan obat melalui oral tidak dapat dipakai.

  1. Sublingual

Cara penggunaannya, obat ditaruh dibawah lidah. Tujuannya supaya efeknya lebih cepat karena pembuluh darah bawah lidah merupakan pusat sakit. Misal pada kasus pasien jantung. Keuntungan cara ini efek obat cepat serta kerusakan obat di saluran cerna dan metabolisme di dinding usus dan hati dapat dihindari (tidak lewat vena porta)

  1. Rektal

Cara penggunaannya melalui dubur atau anus. Tujuannya mempercepat kerja obat serta sifatnya lokal dan sistemik. Obat oral sulit/tidak dapat dilakukan karena iritasi lambung, terurai di lambung, terjadi efek lintas pertama. Contoh, asetosal, parasetamol, indometasin, teofilin, barbiturat.

  1. Pervaginam

Bentuknya hampir sama dengan obat rektal, dimasukkan ke vagina, langsung ke pusat sasar. Misal untuk keputihan atau jamur.

  • Parentral

Digunakan tanpa melalui mulut, atau dapat dikatakan obat dimasukkan de dalam tubuh selain saluran cerna. Tujuannya tanpa melalui saluran pencernaan dan langsung ke pembuluh darah. Misal suntikan atau insulin. Efeknya biar langsung sampai sasaran. Keuntungannya yaitu dapat untuk pasien yang tidak sadar, sering muntah, diare, yang sulit menelan/pasien yang tidak kooperatif; dapat untuk obat yang mengiritasi lambung; dapat menghindari kerusakan obat di saluran cerna dan hati; bekerja cepat dan dosis ekonomis. Kelemahannya yaitu kurang aman, tidak disukai pasien, berbahaya (suntikan – infeksi).

Istilah injeksi termasuk semua bentuk obat yang digunakan secara parentral, termasuk infus. Injeksi dapat berupa larutan, suspensi, atau emulsi. Apabila obatnya tidak stabil dalam cairan, maka dibuat dalam bentuk kering. Bila mau dipakai baru ditambah aqua steril untuk memperoleh larutan atau suspensi injeksi. Yang termasuk rute parenteral, yaitu :

  1. Intravena, masuk melalui pembuluh darah balik (vena), memberikan efek sistematik
  2. Intrakardia, menembus jantung, memberi efek sistemik
  3. Intrakutan, menembus kulit, memberi efek sistemik
  4. Subkutan,dibawah kulit, memberi efek sistemik
  5. Intramuskular, menembus otot daging, memberi efek sistemik
  • Lain – lain
  1. Inhalasi

Penggunaannya dengan cara disemprot (ke mulut). Misal obat asma. Keuntungannya yaitu absorpsi terjadi cepat dan homogen, kadar obat dapat dikontrol, terhindar dari efek lintas pertama, dapat diberikan langsung pada bronkus. Kerugiannya yaitu, diperlukan alat dan metoda khusus, sukar mengatur dosis, sering mengiritasi epitel paru – sekresi saluran nafas, toksisitas pada jantung.

Dalam inhalasi, obat dalam keadaan gas atau uap yang akan diabsorpsi sangat cepat melalui alveoli paru-paru dan membran mukosa pada perjalanan pernafasan.

  1. Topikal/lokal

Obat yang sifatnya lokal. Misal tetes mata, tetes telinga, salep.

  1. Suntikan

Diberikan bila obat tidak diabsorpsi di saluran cerna serta dibutuhkan kerja cepat.

Tabel Penggunaan Bentuk Sediaan

Cara Pemberian Bentuk Sediaan Utama
Oral Tablet, kapsul, larutan (sulotio), sirup, eliksir, suspensi, magma, jel, bubuk
Sublingual Tablet, trokhisi dan tablet hisap
Parentral Larutan, suspensi
Epikutan/transdermal Salep, krim, pasta, plester, bubuk, erosol, latio, tempelan transdermal, cakram, larutan, dan solutio
Konjungtival Salep
Introakular/intraaural Larutan, suspensi
Intranasal Larutan, semprot, inhalan, salep
Intrarespiratori Erosol
Rektal Larutan, salep, supositoria
Vaginal Larutan, salep, busa-busa emulsi, tablet, sisipan, supositoria, spon
Uretral Larutan, supositoria

Alkohol jika dikonsumsi mempunyai efek toksik terhadap tubuh baik secara langsung maupun tidak langsung Salah satu akibat konsumsi alkohol (etanol) berlebihan adalah meningkatnya resiko gagal ginjal dan gagal fungsi hati. Mengkonsumsi etanol sangat berbahaya karena reaksi kimia senyawa ini membentuk nefrotoksin kuat hingga menyebabkan gangguan fungsi dan kematian sel (nekrosis) pada sel tubulus proksimal. Hasil penelitian yang dilakukan pada hewan percobaan tikus putih galur wistar, yang diberi alcohol 20%, 30%, 40% dan 50% sebanyak 2 ml/hari selama 15 hari, ditemukan nekrosis sel tubulus proksimal ginjal.

Cara kerja CTM adalah menghambat kerja histamin. Histamin merupakan zat yang diproduksi tubuh yang dapat mencetuskan gejala alergi seperti bersin, mata berair, hidung mampet, dan gatal-gatal di badan. Oleh karena itu manfaat utama dari klorfeniramin adalah mengurangi atau menghilangkan gejala-gejala alergi yang ditimbulkan oleh histamin. Dibalik manfaatnya sebagai antialergi, klorfeniramin dapat menyebabkan berbagai macam efek samping, antara lain mengantuk, mulut kering, pusing, gangguan mengingat, kencing tertahan, dan pandangan kabur. (Katzung, 2001)

Hewan coba atau sering disebut hewan laboratorium adalah hewan yang khusus diternakkan untuk keperluan penelitian biologik. Hewan laboratorium tersebut digunakan sebagai model untuk peneltian pengaruh bahan kimia atau obat pada manusia. Beberapa jenis hewan dari yang ukurannya terkecil dan sederhana ke ukuran yang besar dan lebih komplek digunakan untuk keperluan penelitian ini, yaitu: mencit, tikus, dan kelinci.

Untuk memegang mencit yang akan diperlakukan (baik pemberian obat maupun pengambilan darah) maka diperlukan cara-cara yang khusus sehingga mempermudah cara perlakuannya. Secara alamiah mencit cenderung menggigit bila mendapat sedikit perlakuan kasar. Pengambilan mencit dari kandang dilakukan dengan mengambil ekornya kemudian mencit ditaruh pada kawat kasa dan ekornya sedikit ditarik. Cubit kulit bagian belakang kepala dan jepit ekornya.

Gambar 1. Cara menghandel mencit untuk pemberian obat baik injeksi maupun peroral

Pertama ekor dipegang sampai pangkal ekor. Kemudian telapak tangan menggenggam melalui bagian belakang tubuh dengan jari telunjuk dan jempol secara perlahan diletakkan disamping kiri dan kanan leher. Tangan yang lainnya membantu dengan menyangga dibawahnya, atau tangan lainnya dapat digunakan untuk menyuntik.

Gambar 2. Cara memegang tikus untuk dilakukan injeksi ip.

(Katzung, 2001)

Cara pemberian obat yang paling umum dilakukan adalah pemberian obat per oral, karena mudah, aman, dan murah. Pada pemberian secara oral, sebelum oba masuk ke peredaran darah dan didistribusikan ke seluruh tubuh, terlebih dahulu harus mengalami absorbsi pada saluran cerna.

Kerugian pemberian per oral adalah banyak faktor dapat mempengaruhi bioavaibilitas obat. Karena ada obat-obat yang tidak semua yang diabsorpsi dari tempat pemberian akan mencapai sirkulasi sistemik. Sebagian akan dimetabolisme oleh enzim di dinding usus dan atau di hati pada lintasan pertamanya melalui organ-organ tersebut (metabolisme atau eliminasi lintas pertama). Eliminasi lintas pertama obat dapat dihindari atau dikurangi dengan cara pemberian parenteral, sublingual, rektal, atau memberikannya bersama makanan.

Selain itu, kerugian pemberian melalui oral yang lain adalah ada obat yang dapat mengiritasi saluran cerna, dan perlu kerja sama dengan penderita, dan tidak bisa dilakukan saat pasien koma. Pemberian obat secara parenteral memiliki beberapa keuntungan, yaitu:

  1. efeknya timbul lebih cepat dan teratur dibandingkan dengan pemberian per oral;
  2. dapat diberikan pada penderita yang tidak kooperatif, tidak sadar, atau muntah-muntah; dan
  3. sangat berguna dalam keadaan darurat. Kerugiannya antara lain dibutuhkan cara asepsis, menyebabkan rasa nyeri, sulit dilakukan oleh pasien sendiri, dan kurang ekonomis.

Mekanisme obat yang diberikan per oral yaitu sebagian besar obat diberikan melalui mulut dan ditelan. Beberapa obat (misal, alkohol dan aspirin) dapat diserap secara cepat dari lambung, tetapi kebanyakan obat diabsorpsi sebagian besar pada usus halus. Pengukuran-pengukuran yang dilakukan terhadap absorpsi obat, baik secara in vivo maupun secara in vitro, menunjukkan bahwa mekanisme dasar absorpsi obat melalui usus halus adalah difusi pasif, kecepatan transfer obat ini ditentukan oleh derajat ionisasi dan kelarutan obat dalam lipid.

Tabel Hasil Pemberian Agent per Oral pada Mencit

Waktu (Menit ke- / jam)  Aquades Alcohol CTM Minyak jagung
0 Lincah, aktif Lemas, diam, nafas cepat aktif Lincah, kejang
15 Lincah, aktif, cari makan Jalannya miring, lemas Agak gemetaran, aktif Telinga berdiri, agak lemas, gatal
30 Lincah, aktif, cari makan Jalannya ngesot, tidak bisa berdiri, nafas cepat, telinga turun Lincah, aktif Gatal, agak ngantuk
45 Lincah, aktif Tidak bisa jalan, terlentang lemas Aktif, gatal Aktif, mata agak sayu
60 Diam, nafas tersendat Diam, nafas tersendat, sayu Aktif, agak gemetaran Aktif, gatal,  mata sayu
75 Lincah, aktif Diam, nafas tersendat Aktif, agak gemetaran Aktif, gatal,  mata sayu
90 aktif Diam, nafas tersendat Aktif, agak gemetaran Aktif, gatal,  mata sayu
Pkl 08.00 Lincah, aktif, peka rangsangan (PR), nafsu makan baik, righting reflex (RR) baik Mati lemas, terlentang Lincah, aktif, nafsu makan, PR dan RR baik
Pkl 10.00 PR & RR baik, nafsu makan, lincah

Mata segar, aktif, PR dan RR baik

Mata agak sayu, aktif, PR dan RR baik

Pkl 12.00 PR & RR baik, aktif, mata berdarah (berkelahi)

PR & RR baik, aktif, bulu segar PR & RR baik, aktif, bulu segar
Pkl 14.00 PR & RR baik, aktif, mata berdarah

PR & RR baik, aktif, bulu segar PR & RR baik, aktif, bulu segar

Pada pecobaan ini dilakukan beberapa perlakuan terhadap mencit yaitu aquades sebagai control, CTM, minyak jagung dan alcohol. yang digunakan pada mencit untuk melihat efek yang ditimbulkan terhadap penggunaan agent-agent tersebut. Pada perlakuan aquades dari menit ke-0 sampai pengamatan hari kedua pukul 10.00, mencit terlihat aktif mencari makan, lincah, peka terhadap rangsangan, righting reflexnya bagus. Pada pukul 12.00 – 14.00 keadaan mencitnya masih tetap lincah dan aktif hanya saja pada matanya berdarah karena berkelahi dengan sesama mencit lainnya.

Pada perlakuan alcohol, sejak menit ke-0 mencit langsung lemas, diam, dan nafasnya cepat, pada menit ke-15 jalannya miring, menit ke-30 jalannya semakin miring, tidak bisa berdiri, dan telinganya lemas, menit ke-45 tidak bias berjalan, terlentang lemas, menit ke-60 terdiam, nafasnya tersendat, mata sayu begitupun sampai menit ke-75. Pada pengamatan hari kedua pukul 08.00, mencit terlihat mati lemas dan terlentang lemas, dan pada pukul 10.00 mencit mati. Pada menit ke-0 mencit langsung terlihat lemas karena pada saat menginjeksikan alcohol ke dalamnya praktikan salah menempatkan posisi jarum di dalam tubuhnya sehingga menyebabkan mencit muntah darah. Berdasarkan teori, mengkonsumsi alkohol sangat berbahaya karena reaksi kimia senyawa ini membentuk nefrotoksin kuat hingga menyebabkan gangguan fungsi dan kematian sel (nekrosis) pada sel tubulus proksimal dan inilah yang terjadi pada mencit sehingga menyebabkan kematian.

Pada perlakuan dengan CTM, di menit ke-0 mencit masih terlihat aktif. Pada menit ke-15 tubuhnya terlihat gemetaran tapi tetap aktif, menit ke-30 mencitnya terlihat lincah dan aktif kembali, menit ke-45 tubuhnya gatal-gatal dan aktif, menit ke-60 – 90 aktif dan gemetaran. Pada pengamatan hari kedua tubuh mencit tetap lincah dan aktif, nafsu makan baik, peka terhadap rangsangan dan righting reflexnya baik. Berdasarkan teori CTM merupakan obat antialergi yang dapat mengurangi gatal-gatal pada mencit, dan dari hasil percobaan tersebut terbukti bahwa CTM memberikan efek gatal-gatal pada tubuh mencit.

Pada perlakuan minyak jagung, menit ke-0 mencit terlihat lincah dan kejang-kejang, menit ke-15 telinganya berdiri, agak lemas dan tubuhnya gatal, menit ke-30 agak mengantuk, menit ke-45 sampai menit ke-90 tubuhnya tetap aktif dan matanya agak sayu. Pada pengamatan hari kedua, matanya tetap sayu, aktif bergerak, peka terhadap rangsangan, dan righting reflexnya baik.

Berdasarkan hasil percobaan di atas, mencit dengan perlakuan alcohol menunjukkan perubahan yang sangat spesifik dibandingkan perlakuan dengan CTM dan minyak jagung yang masih dapat bertahan hidup dan tetap aktif seperti mencit yang digunakan sebagai kontrol.

DAFTAR PUSTAKA

Howard, A.C., 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. UI Press. Jakarta.
Katzung, B.G., 2001. Farmakologi Dasar dan Klinik. Salemba Medika. Jakarta.
Sihombing, M., 2010. Media Litbang Kesehatan volume XX nomor 1 tahun 2010. Status Gizi dan Fungsi Hati Mencit di Laboratorium Hewan Percobaan Puslitbang Biomedis dan Farmasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s