Vitamin C

Tujuan Praktikum :  a.   Mengukur kadar suatu vitamin
b. Mempelajari pengaruh faktor lingkungan terhadap kadar vitamin C

DASAR TEORI

Vitamin merupakan suatu molekul organik yang sangat diperlukan tubuh untuk proses metabolisme dan pertumbuhan yang normal. Vitamin bukan karbohidrat, protein maupun lipid. Tubuh tidak dapat mensintesis vitamin-vitamin. Vitamin berdasarkan kelarutannya di dalam air, ada dua yaitu vitamin yang larut di dalam air (vitamin B dan vitamin C) dan vitamin yang tidak larut di dalam air (vitamin A, D, E, dan K). Karena larut dalam air, vitamin C mudah diserap dalam usus halus, dari mana ia langsung masuk ke dalam darah vena porta ke hati dan dari sana ke seluruh tubuh. Vitamin ini disimpan dalam banyak jaringan, tetapi terutama banyak sekali dalam organ yang berhubungan dengan aktivitas metabolisme (Tarrant, 1989).

Struktur kimia vitamin C terdiri dari rantai 6 atom C dan kedudukannya tidak stabil (C6H8O6), karena mudah bereaksi dengan O2 di udara menjadi asam dehidroaskorbat.

(Lehninger, 1982)

Asam askorbat atau lebih dikenal dengan nama vitamin C adalah vitamin untuk jenis primat tetapi tidak merupakan vitamin bagi hewan-hewan lain. Asam askorbat adalah suatu reduktor kuat. Bentuk teroksidasinya, asam dehidroaskorbat, mudah direduksi lagi dengan berbagai reduktor seperti glutation (GSH). Peranan asam askorbat sebagai koenzim belum dapat dipastikan karena asam ini tidak dapat berikatan dengan protein yang manapun (Sulaiman, 1995).

Sumber vitamin C secara umum terdapat dalam buah jeruk, sayur-sayur hijau dan buah tomat. Pada buah-buahan ini merupakan sumber vitamin C yang baik. Tubuh makhluk hidup setiap harinya membutuhkan vitamin C dari 25 sampai 30 mg per harinya. Vitamin C dapat juga beracun jika diambil atau dikonsumsi dalam dosis yang besar atau berlebihan, seperti vitamin C, pricipat hasil akhir dari katabolisme yang disebut sebagai asam oxalit (Lal, 2000).

Contoh buah yang banyak mengandung vitamin C adalah nanas dan jambu biji. Buah nanas (Ananas comosus) mengandung vitamin (A dan C), kalsium, fosfor, magnesium, besi, natrium, kalium, dekstrosa, sukrosa (gula tebu), dan enzim bromelain. Bromelain berkhasiat antiradang, membantu melunakkan makanan di lambung, mengganggu pertumbuhan set kanker, menghambat agregasi platelet, dan mempunyai aktivitas fibrinolitik. Kandungan seratnya dapat mempermudah buang air besar pada penderita sembelit (konstipasi). Daun mengandung calsium oksalat dan pectic substances. Hampir sama dengan pisang, nanas juga mengandung serat yang berguna untuk membantu proses pencernaan, menurunkan kolesterol dalam darah dan mengurangi resiko diabetes dan penyakit jantung. Serat dari 150 gram nanas setara dengan separuh dari jeruk. Selain itu kandungan vitamin dan mineral menjadikan nanas sumber yang bagus untuk vitamin C dan berbagai macam vitamin lainnya (Muhammad, 2008).

Buah jambu biji (Psidium guajava) sangat kaya vitamin C dan beberapa jenis mineral yang mampu menangkis berbagai jenis penyakit dan menjaga kebugaran tubuh. Daun dan kulit batangnya mengandung zat anti bakteri yang dapat menyembuhkan beberapa jenis penyakit . Selain vitamin C, jambu biji juga mengandung potasium dan besi. Sebagian besar vitamin C jambu biji terkonsentrasi pada bagian kulit serta daging bagian luarnya yang lunak dan tebal. Sehinga, jambu biji lebih baik dikonsumsi beserta kulitnya. Kandungan vitamin C buah jambu biji sekitar 87 mg, dua kali lipat dari jeruk manis (49 mg/100 g), lima kali lipat dari orange, serta delapan kali lipat dari lemon (10,5 mg/100 g). Dibandingkan jambu air dan jambu bol, kadar vitamin C pada jambu biji jauh lebih besar, yaitu 17 kali lipat dari jambu air (5 mg/100 g) dan empat kali lipat dari jambu bol (22 mg/100 g). Jambu biji dapat dijadikan sebagai sumber utama bagi kebutuhan vitamin C tubuh. Konsumsi jambu biji seberat 90 gram setiap hari sudah mampu memenuhi kebutuhan vitamin harian orang dewasa, sehingga mampu menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh (Plantus, 2008).

Salah satu fungsi utama dari vitamin C adalah mencegah sariawan dan gusi berdarah, dengan cara pembentukan kolagen. Kolagen adalah protein yang fungsinya seperti lem, merekatkan sel-sel kulit tulang dan otot, sehingga luka dan patah tulang atau memar biru cepat sembuh. Pada pria dampak lanjut kekurangan vitamin c adalah menurunnya kesuburan dan meningkatnya resiko kerusakan gen pada sperma yang dapat menyebabkan cacat pada bayi. Fungsi utama dari vitamin C sebagai antioksidan yaitu menetralkan racun dan radikal bebas dalam darah maupun cairan sel tubuh. Dengan cara ini peran vitamin C mencegah terjadinya oksidasi kolesterol LDL dan mencegah tersumbatnya pembuluh darah sehingga tidak menyebabkan hypertensi dan penyakit jantung, juga menjaga kesehatan paru-paru karena menetralkan radikal bebas yang masuk melalui pernafasan.

Vitamin C juga meningkatkan sel-sel darah putih yang dapat melawan infeksi sehingga flu sembuh lebih cepat,membantu mengaktifkan asam folat,meningkatkan penyerapan zat besi sehingga mencegah anemia,meregenerasi vitamin E sehingga bisa dipakai lagi sebagai anti-oksidan.Vitamin c ada yang alami juga ada yang sintetik.asal keduanya berbentuk L-ascorbic acid dan tidak memiliki perbedaan kinerja pada keduanya (Siregar, 2009).

Vitamin C sangat mudah dirusak oleh pemanasan, karena ia mudah dioksidasi. Dapat juga hilang dalam jumlah yang banyak pada waktu mencincang sayur-sayuran seperti kol atau pada menumbuk kentang (Harper, 1979).

Vitamin C dapat hilang karena hal-hal seperti:

1. Pemanasan, yang menyebabkan rusak/berbahayanya struktur

2. Pencucian sayuran setelah dipotong-potong terlebih dahulu

3. Adanya alkali atau suasana basa selama pengolahan

4. Membuka tempat berisi vitamin C, sebab oleh udara akan terjadi oksidasi yang tidak  reversible. Penambahan tomat atau jeruk nipis dapat mengurangi kadar vitamin C (Poedjiadi, 1994).

Di samping sangat larut dalam air, vitamin C mudah teroksidasi dan proses tersebut dipercepat oleh panas, sinar atau enzim oksidasi, serta oleh katalis lembaga dan besi. Oksidasi akan terhambat bila vitamin C dibiarkan dalam keadaan asam atau suhu rendah. Buah yang masih muda (mentah) lebih banyak mengadung vitamin C. Semakin tua buah, semakin berkurang vitamin C-nya (Prawirokusumo, 1994).

Pada proses penyimpanan yang lama, penambahan, peradangan dan pengerutan akan menurunkan kandungan vitamin C pada bahan makanan, terutama sayuran dan buah-buahan. Kebutuhan vitamin C pada tubuh setiap hari kurang lebih 60 mg. Sumber vitamin C terdapat pada jeruk, tomat,  nanas, papaya, bunga kol, bayam, daun papaya dan daun singkong (Auliana, 1994).

Iodin dan iodium pada vitamin C digunakan sebagai indicator vitamin C, berperan penting dalam hidroksilisin prolin dan lisin menjadi hidroksiprolin dan hidroksilisin yang merupakan bahan pembentuk kolagen. Vitamin C merupakan reduktor kuat dan penentuannya dapat ditentukan dengan menggunakan titrasi yang digunakan adalah iodine berdasarkan sifat yang menentukannya. Indikator yang digunakan adalah amilum dengan standarisasi iodine yaitu 1 ml 0.01 N dan iodine ekivalen 0.8 asam askorbat (Poedjiadi, 1994).

Angka kecukupan gizi vitamin C berkisar 60-90 mg/hari. AKG ini tergantung kebutuhan tubuh seseorang juga dipengaruhi jenis kelamin, berat badan, tinggi badan, aktivitas fisik dan stres, tetapi tidak terlalu jauh dari 100 mg/hari untuk vitamin C. Kekurangan vitamin C akan menyebabkan penyakit sariawan atau skorbut. Penyakit skorbut biasanya jarang terjadi pada bayi; bila terjadi pada anak-anak, biasanya pada usia setelah 6 bulan dan dibawah 12 bulan. Gejala-gejala penyakit skorbut ialah terjadinya pelembekan tenunan kolagen, infeksi, dan demam. Juga timbul sakit, pelunakan, dan pembengkakan kaki bagian paha. Pada anak yang giginya telah keluar, gusi membengkak, empuk, dan terjadi pendarahan. Pada orang dewasa skorbut terjadi setelah beberapa bulan menderita kekurangan vitamin C dalam makanannya. Gejala-gejalanya ialah pembengkakan dan pendarahan pada gusi, gingivalis, kaki menjadi empuk, anemia, dan deformasi tulang. Penyakit sariawan yang akut dapat disembuhkan dalam beberapa waktu dengan pemberian 100 sampai 200 mg vitamin C per hari. Bila penyakit sudah kronik perlu diperlukan waktu lebih lama untuk penyembuhannya dan suplai vitamin C yang lebih ditingkatkan.

Penetuan kadar vitamin C dapat ditentukan melalui titrasi. Jenis titrasi yang digunakan adalah titrasi iodimetri yang termasuk dalam titrasi redoks yang menggunakan amilum sebagai indikator. Sebenarnya titrasi ini dapat dilakukan tanpa indikator karena warna iodin yang di titrasi akan lenyap bila titik akhir tercapai. Warna yang terjadi ialah coklat tua menjadi lebih muda, lalu kuning, kuning muda, sampai warna benar-benar lenyap. Namun untuk lebih mudahnya ditambahkan amilum sebagai indikator. Amilum dapat membentuk kompleks berwarna biru bila bereaksi dengan iodin (Harjadi, 1986).

Memasak menggunakan microwave merupakan cara paling efektif untuk mempertahankan vitamin larut air seperti vitamin C karena paparan panas berkurang dan sedikit air digunakan. Tapi hal ini dapat merusak antioksidan larut lemak. Vitamin B dan C akan berkurang jika makanan dibiarkan hangat terlalu lama atau terlalu panas, selalu menggunakan pisau tajam, menggunakan pisau tumpul saat memotong sayuran segar dapat menyebabkan kerusakan sel yang akhirnya menimbulkan kehilangan vitamin C (Dechacare, 2009).

Penyimpan buah, sayuran, dan salad dalam kondisi dingin dan gelap seperti dalam lemari es atau pantry sangat disarankan, cahaya dan panas akan merusak vitamin B dan C, menyimpan buah dalam mangkuk besar di atas meja sangat tidak disarankan. buah dan sayuran beku kerap mengandung lebih banyak zat gizi dari pada yang segar. Hal ini karena pangan tersebut dibekukan segera setelah dipanen. Penyimpanan di lemari es sebaiknya :

  1. Lemari pendingin dipasang pada suhu 4°C atau kurang. Suhu ini cukup membantu memperlambat

proses enzimatik dan pertumbuhan bakteri, tetapi tidak terlalu dingin untuk mempengaruhi kualitas makanan dengan adanya kristal es yang terbentuk. Ada baiknya memasang termometer kulkas guna memastikan suhu yang cukup rendah bagi keamanan pangan.

  1. Selalu tutup makanan dalam lemari es. Udara di dalam kulkas sangat kering, sehingga makanan akan mudah kering, kehilangan kualitas, dan menjadi tidak menarik dalam waktu singkat.
  2. Suhu dingin kulkas memperlambat proses enzim dalam makanan dan juga reproduksi bakteri. Hal ini memperpanjang kualitas, rasa, dan tekstur makanan, serta menjaga makanan aman lebih lama. Patut diperhatikan bahwa kulkas tidak membunuh bakteri dan tak dapat memperbaiki kualitas makanan.
  3. Jangan mengisi kulkas terlalu penuh. Pastikan selalu ada ruang yang cukup antara makanan yang bisa membuat udara bebas bersirkulasi di antaranya. Dengan begitu, suhu akan lebih merata.
    1. Gunakan termometer kulkas untuk mengecek suhu kesegaran dan rak-rak. Bagian paling dingin

dalam kulkas bukan tempat untuk menyimpan makanan yang rentan seperti daun selada dan buah lembut misalnya pepaya.

  1. Makanan yang perlu didinginkan sebaiknya dimasukkan ke kulkas setidaknya dalam waktu 2 jam setelah dimakan untuk mencegah pertumbuhan bakteri.
  2. Bersihkan kulkas setiap tiga minggu sekali. Buang sayur, buah, dan makanan yang sudah tidak dapat dikonsumsi (Dechacare, 2009).

Walaupun disimpan dalam freezer, buha yang diberi perlakuan penyimpanan ini masih terdapat kemungkinan berkurangnya kadar vitamin C akibat vitamin C di dalamnya rusak. Hal ini disebabkan karena sifat dari vitamin C yang mudah teroksidasi baik oleh perlakuan panas maupun perlakuan lainnya. Kerusakan vitamin C dalam kasus ini dapat terjadi karena vitamin C ini teroksidasi oleh cahaya atau sesaat sebelum pulp ini dimasukkan ke dalam freezer, pulp tersebut sempat disimpan pada suhu kamar atu bahkan suhu tunggi. Vitamin C teroksidasi dalam larutan oleh oksigen, dengan memberikan 2 elektron pada senyawa oksidator. Vitamin C sangat sensitif terhadap pemanasan, bahkan pemanasan yang tergolong ringan (sedikit diatas suhu kamar). Vitamin C mudah teroksidasi, lebih-lebih apabila terdapt katalisator Fe, Cu, enzim askorbat oksidase, sinar, temperatur yang tinggi. Fe ini bisa masuk ke dalam pulp jambu pada saat proses pembuatan pulp dengan menggunakan mesin yang sudah lama atau tidak steril (Akbay, 2009).

Kadar dari vitamin C, dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :

  1. Keadaan buah : semakin layu/kusut atau tidak segarnya vitamin menyebabkan kadar vitamin C yang terkandung dalam buah tersebut berkurang.
  2. Waktu pengekstraksian : semakin lama waktu mengekstrasi kandungan vitamin C akan semakin berkurang.
  3. Masa penyimpanan : semakin lama suatu bahan disimpan, kadarnya akan semakin rendah.
  4. Suhu : semakin tinggi suhu, kadarnya akan semakin rendah  (Imma, 2009).

METODE

3.1 Alat dan Bahan

3.1.1. Alat :

  1. pipet tetes
  2. pipet ukur
  3. pro pipet
  4. gelas beker
  5. corong
  6. erlenmeyer
  7. statif
  8. buret
  9. gelas ukur
  10. termometer
  11. botol plastik
  12. kulkas
  13. oven

3.1.2. Bahan :

  1. sari buah jambu biji
  2. sari buah nanas
  3. larutan iod 0,01 N
  4. larutan amilum 1%

3.2.Cara Kerja

3.2.1. Pembuatan Sari Buah

  1. Sampel berupa buah jambu biji dan buah nanas dipotong dan dihancurkan dengan menggunakan juicer.
  2. Sari buah jambu biji dan nanas ditimbang sebanyak 400 gram.
  3. Sari buah jambu biji dan nanas diencerkan dengan aquadest sampai 1000 ml.

3.2.2. Pengaruh Faktor Temperatur

  1. Sampel berupa sari buah jambu biji dan sari buah nanas dimasukkan ke dalam botol sebanyak 200 ml dengan menggunakan gelas ukur.
  2. Setiap sampel diberi perlakuan pada suhu kamar terbuka, suhu kamar tertutup, lemari es dengan suhu 4°C dan pada inkubator dengan suhu 50°C.
  3. Kadar dan suhu vitamin C dari setiap sampel dihitung selama 6 hari (hari ke-0, ke-1, ke-2, ke-3, ke-4, dan ke-5.
  4. Grafik kadar vitamin C dibuat.

3.2.3. Pengukuran Kadar Vitamin C

  1. Sampel berupa sari buah jambu biji dan sari buah nanas diambil sebanyak 10 ml dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer.
  2. Sari buah ditambahkan dengan 2 ml amilum 1%.
  3. Larutan dititrasi dengan menggunakan iodium 0,01 N sampai berwarna biru.
  4. Volume titran dicatat dan kadar vitamin C dihitung dengan menggunakan rumus volume titran x N titran x 88 (mg asam askorbat).

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil

Tabel 1. Hasil pengamatan kadar vitamin C pada sari buah Nanas

Perlakuan

Pengamatan

Sari buah Nanas

Hari ke-

0

1

2

3

4

5

Lemari es 4°C

Suhu (°C)

25

10

8

10

15,5

7

V.Iod (ml)

0,2

0,3

0,5

0,3

0,3

0,5

Kadar vit C (mg)

0,176

0,264

0,44

0,264

0,264

0,44

Inkubator 50°C

Suhu (°C)

25

34

32

35

24

28

V.Iod (ml)

0,2

0,4

0,5

0,2

0,5

0,5

Kadar vit C (mg)

0,176

0,352

0,44

0,176

0,44

0,44

Suhu kamar terbuka

Suhu (°C)

25

29

26

24

25

24

V.Iod (ml)

0,2

1

0,5

0,3

0,5

0,5

Kadar vit C (mg)

0,176

0,88

0,44

0,264

0,44

0,44

Suhu kamar tertutup

Suhu (°C)

25

29

26

26

23

24

V.Iod (ml)

0,2

1,5

0,3

0,3

0,4

0,5

Kadar vit C (mg)

0,176

1,32

1,32

0,264

0,352

0,44

Tabel 2. Hasil pengamatan kadar vitamin C pada sari buah jambu biji

Perlakuan

Pengamatan

Sari buah Jambu Biji

Hari ke-

0

1

2

3

4

5

Lemari es 4°C

Suhu (°C)

2,4

1,4

10

10

35

10

V.Iod (ml)

1,6

1

1

0,5

1

0,4

Kadar vit C (mg)

1,408

0,88

0,88

0,44

0,88

0,352

Inkubator 50°C

Suhu (°C)

2,4

34

34

31

8

31

V.Iod (ml)

1,6

1

1

0,7

0,8

0,9

Kadar vit C (mg)

1,408

0,88

0,88

0,616

0,704

0,792

Suhu kamar terbuka

Suhu (°C)

2,4

29

26

26

26

25

V.Iod (ml)

1,6

0,8

1

0,9

0,6

0,8

Kadar vit C (mg)

1,408

0,704

0,88

0,792

0,528

0,704

Suhu kamar tertutup

Suhu (°C)

2,4

29

26

26

26

26

V.Iod (ml)

1,6

1

0,5

0,4

0,8

0,9

Kadar vit C (mg)

1,408

0,88

0,44

0,352

0,704

0,742

4.2. Pembahasan

Vitamin adalah senyawa organik kompleks esensial untuk pertumbuhan dan fungsi biologis yang lain bagi mahluk hidup. Salah satunya adalah vitamin C. Asam askorbat (Vitamin C) adalah suatu heksosa dan diklasifikasikan sebagai karbohidrat yang erat kaitannya dengan monosakarida.Vitamin C mudah diabsorbsi secara aktif dan mungkin pula secara difusi pada bagian atas usus halus lalu masuk keperedaran darah melalui vena porta. Rata-rata absorpsi adalah 90% untuk konsumsi diantara 20 dan 120 mg sehari. Tubuh dapat menyimpan hingga 1500 mg vitamin C, bila konsumsi mencapai 100 mg sehari. Cara menganalisa vitamin C dapat dilakukan secara kimiawi, biologis maupun mikrobiologi. Kandungan vitamin C sangat beragam antarvarietas, tetapi berkisar antara 27-49 mg/100 g daging buah. Sari buah jeruk mengandung 40-70 mg vitamin C per 100 ml. Vitamin C memiliki rumus molekul C6H8O6 dengan berat molekul 176,13, memiliki struktur sebagai berikut

Vitamin C berperan serta di dalam banyak proses metabolisme yang berlangsung di dalam jaringan tubuh.fungsi fisiologis yang telah diketahui memerlukan Vitamin ialah:

a. Kesehatan substansi matrik jaringan ikat.

b. Integritas epitel melalui kesehatan zat perekat antar sel.

c. Mekanisme immuitas dalam rangka daya tahan tubuh terhadap berbagai serangan penyakit dan toksin.

d. Kesehatan epitel pembluh darah.

e. Penurunan kadar kolesterol.

f. Diperlukan untuk pertumbuhan tulang dan gigi-geligi.

Vitamin C sangat mudah larut dalam air (1 gram dapat larut sempurna dalam 3 ml air), sedikit larut dalam alkohol (1 gram larut dalam 50 ml alkohol absolute atau 100 ml gliserin) dan tidak larut dalam benzene, eter, chloroform, minyak dan sejenisnya. Sifat yang paling utama dari Vitamin C adalah kemampuan mereduksinya yang kuat dan mudah teroksidasi yang dikatalis oleh beberapa logam, terutam Cu dan Ag.

Sumber Vitamin C di dalam bahan makanan terutama buah-buahan segar dan dengan kadar yang lebih rendah juga di dalam sayuran segar. Di dalam buah, Vitamin C terdapat dengan konsentrasi tinggi di bagian kulit buah, agak lebih rendah terdapat di dalam daging buah dan lebih rendah lagi di dalam bijinya.

Penentuan kadar vitamin C dapat dikerjakan dengan titrasi iodometri. Indikator yang dipakai adalah amilum. Akhir titrasi ditandai dengan terjadinya warna biru dari iod-amilum. Reaksinya : C6H8O6 + I2         2HI + C6H8O6

Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui kadar vitamin C pada buah  nanas dan jambu biji. Selain itu juga untuk mengetahui pengaruh faktor lingkungan terhadap kadar vitamin C. Sehingga percobaan dilakukan selama 6 hari dan dengan 4 perlakuan (lemari es 4°C, inkubator 50°C, suhu kamar terbuka dan suhu kamar tertutup).

Kadar vitamin C pada sari buah nanas adalah 0,176. Pada perlakuan lemari es 4oC hari ke-1, 3, dan 4 kadar vitaminnya 0,264, sedangkan pada hari ke-2 dan 5 kadar vitaminnya 0,44. Pada perlakuan inkubator 50 oC, kadar vitamin C pada hari ke-1 sebesar 0,352, pada hari ke-3 yaitu 0,176 sedangkan pada hari ke-2, 4, dan 5 kadarnya sama yaitu 0,44. Pada perlakuan suhu kamar terbuka, kadar vitamin C hari ke-1 sebesar 0,88, pada hari ke-2, 4, dan 5 kadarnya sebesar 0,44, sedangkan pada hari ke-3 sebesar 0,264. Pada perlakuan suhu kamar tertutup, kadar vitamin C hari ke-1 sebesar 1,32, pada hari ke-2 dan 3 sebesar 0,264, pada hari ke-4 sebesar 0,352, sedangkan pada hari ke-5 sebesar 0,44.

Kadar vitamin C pada sari buah jambu biji adalah 1,408. Pada perlakuan lemari es hari ke-1, 2, dan 4 kadar vitaminnya sebesar 0,88, pada hari ke-3 sebesar 0,44, sedangkan pada hari ke-5 sebesar 0,352. Pada perlakuan inkubator 50 oC, kadar vitamin c hari ke-1 dan 2 sebesar 0,88, pada hari ke-3 sebesar 0,616, pada hari ke-4 sebesar 0,704, sedangkan pada hari ke-5 sebesar 0,792. Pada perlakuan suhu kamar terbuka, kadar vitamin hari ke-1 dan 5 sebesar 0,704, pada hari ke-2 sebesar 0,88, pada hari ke-3 sebesar 0,792, sedangkan pada hari ke-4 sebesar 0,528. Pada perlakuan suhu kamar tertutup, kadar vitamin hari ke-1 sebesar 0,88, hari ke-2 sebesar 0,44, hari ke-3 sebesar 0,352, hari ke-4 sebesar 0,704, sedangkan pada hari ke-5 sebesar 0,742.

Dari hasil percobaan dapat dilihat perubahan kadar vitamin C sangat beragam. Secara umum, kadar vitamin C jambu biji lebih tinggi dari pada  nanas. Setelah penyimpanan selama 6 hari, kadar vitamin C dari setiap perlakuan secara umum menurun. Beberapa terjadi penaikan dan penurunan, hali ini dapat disebabkan karena kesalahan praktikan saat titrasi, mungkin kebanyakan memberi larutan iodin atau tidak teliti dalam membaca volume iod yang digunakan.

Selain itu juga, adanya perubahan yang tidak stabil ini dapat disebabkan karena perubahan suhu yang tidak tetap sehingga mempengaruhi kadar vitaminnya. Semakin rendah suhu maka kadar vitamin C semakin rendah. Begitu juga lama waktu penyimpanan, semakin lama waktu yang dipakai, kadar vitaminnya semakin rendah pula.

Jika dibuat dalam bentuk grafik, dapat dilihat bahwa penurunan kadar vitamin C (nanas dan jambu biji) yang paling drastis adalah pada perlakuan inkubator 50 oC, kemudian suhu kamar tertutup, suhu kamar terbuka, dan lemari es 4°C. Perubahan yang tidak terlalu menonjol terlihat pada vitamin C yang disimpan pada lemari es dengan suhu 4°C. Jika disimpan pada inkubator 50°C, kadar vitamin C akan mengalami penurunan yang drastis, tapi stabil. Kadar vitamin C pada suhu kamar terbuka lebih rendah dari pada kadar vitamin C pada suhu kamar tertutup dan tentu saja lebih rendah dari pada vitamin C yang disimpan pada lemari es dengan suhu 4°C. Tapi diantara kedua perlakuan ini tidak jauh berbeda. Ketika dilakukan percobaan pun, sari buah mengalami pemisahan atau terbentuk 2 lapisan, sedangkan sari buah yang disimpan dalam lemari es tidak terpisah menjadi 2 lapisan. Sehingga dapat diketahui, tempat penyimpanan buah yang paling efektif adalah lemari es atau pada suhu yang rendah. Secara lebih jelas dapat dilihat pada grafik yang telah dibuat.

KESIMPULAN

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :

  1. Kadar vitamin C dalam sari buah nanas dengan metode titrasi iodium adalah 0,176.
  2. Kadar vitamin C dalam sari buah jambu biji dengan metode titrasi iodium adalah 1,408.
  3. Kadar vitamin C jambu biji lebih tinggi dari pada nanas.
  4. Kadar vitamin C akan menurun bila disimpan berhari-hari dan dalam perlakuan yang tidak benar.
  5. Penyimpanan buah yang paling cocok adalah dalam lemari es 4 °C.
  6. Faktor-faktor yang mempengaruhi kadar vitamin C adalah keadaan buah, waktu pengekstraksian, masa penyimpanan, dan suhu.

DAFTAR PUSTAKA

Akbay. 2009. Analisa Pulp Jambu Biji. http://vedbay.blog.com. 3 November 2010.

Auliana, R. 1994. Gizi dan Pengolahan Lahan. Adicita Karya Nusa, Yogyakarta.

Dechacare. 2009. Agar Bahan Makanan Tidak Kehilangan Gizi. http://jawaban.com. 3 November 2010.

Harjadi, W. 1986. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta. PT Gramedia.

Harper, H.A. 1979. Biokimia. Diterjemahkan oleh Martin M. EGC, Jakarta.

Imma, N. 2009. Penentuan Kadar Vitamin C. http://nomist07.blogspot.com. 3 November 2010.

Lal, H. 2000. Biochemistry for Dental Students. CBS Publishers and Distributor, New Delhi.

Lehninger. 1982. Dasar – Dasar Biokimia. Jakarta. Erlangga.

Muhammad. 2008. Buah Nanas. http://artiirhamna.multiply.com. 3 November 2010.

Plantus, 2008. Vitamin C Terbaik dari Jambu Biji. http://anekaplanta.wordpress.com. 3 November 2010.

Prawirokusumo, S. 1994. Ilmu Gizi Komparatif. BPFE, Yogyakarta.

Poedjiadi, A. 1994. Dasar-dasar Biokimia. UI-Press, Jakarta.

Siregar, H.A. 2009. Vitamin C. http://cookfamily-warfusion11.blogspot.com. 3 November 2010.

Sulaiman, A.H. 1995. Biokimia untuk Pertanian. USU-Press, Medan.

Tarrant, 1989. Basic Collage Chemistry. Harper and Row Publisher, London.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s