Urine

DASAR TEORI

Sistem urinaria terdiri atas ginjal, ureter, kandung kemih, dan uretra. `Sistem ini membantu mempertahankan homeostasis dengan menghasilkan urin yang merupakan hasil sisa metabolisme. Urin atau air seni atau air kencing adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Pengeluaran urin diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan tubuh (Candra, 2009).

Urin terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolisme (seperti urea), garam terlarut, dan materi organik. Cairan dan materi pembentuk urin berasal dari darah atau cairan interstisial. Komposisi urin berubah sepanjang proses reabsorpsi ketika molekul yang penting bagi tubuh, misal glukosa, diserap kembali ke dalam tubuh melalui molekul pembawa. Cairan yang tersisa mengandung urea dalam kadar yang tinggi dan berbagai senyawa yang berlebih atau berpotensi racun yang akan dibuang keluar tubuh. Materi yang terkandung di dalam urin dapat diketahui melalui urinalisis. Urea yang dikandung oleh urin dapat menjadi sumber nitrogen yang baik untuk tumbuhan dan dapat digunakan untuk mempercepat pembentukan kompos. Diabetes adalah suatu penyakit yang dapat dideteksi melalui urin. Urin seorang penderita diabetes akan mengandung gula yang tidak akan ditemukan dalam urin orang yang sehat (Popy, 2008).

Sifat-sifat urine normal:

  1. Volume: 800-2500 ml/hari
  2. Berat jenis: 1.003-1.030
  3. Ph: asam dengan Ph rata-rata 6 (4,7-8)

Urine dibiarkan dalam ruangan maka akan menjadi basis karena perubahan urea menjadi ammonia

  1. Warna: kuning pucat s/d kuning. Zat warna yang terkandung di dalamnya adalah urokrom, urobilin, dan hematoporfirin (Trisnaningsih, 2009).

Zat normal yang terkandung dalam urine, yaitu:

  1. Urea: hasil akhir utama dari katabolisme protein. Sehari diekskresikan 25 gr, tergantung intake proteinnya. Ekskresi naik pada saat demam, penyakit kencing manis, aktivitas hormon adrenokortikoid yang berlebihan. Di hepar, urea dibentuk dari siklus urea (ornitin dari CO2 dan NH3. Pembentukan urea menurun pada penyakit hepar dan asidosis.
  2. Ammonia: dikeluarkan dari sel tubulus ginjal, pada asidosis pembentukan amonia akan naik.
  3. Kreatinin: hasil katabolisme kreatin. Koefisien kreatinin adalah jumlah mg kreatinin yang diekskresikan dalam 24 jam/kg BB. Nilai normal pada laki-laki adalah 20-26 mg/kg BB. Sedang pada wanita adalah 14-22 mg/kg BB. Ekskresi kreatinin meningkat pada penyakit otot.
  4. Asam urat: hasil oksidasi purin di dalam tubuh. Kelarutannya dalam air kecil tetapi larut dalam garam alkali. Ekskresinya meningkat pada leukimia, penyakit hepar dan gout. Dengan arsenofosfotungstat dan natrium sianida, memberi warna biru. Ini merupakan dasar penetapan asam urat secara kolometri oleh Folin. Dengan enzim urikase akan menjadi allantoin.
  5. Asam amino: pada dewasa kira-kira diekskresikan 150-200 mg N per hari
  6. Allantoin: hasil oksidasi asam urat
  7. Klorida : dikeluarkan dlm bentuk NaCl, tergantung intakenya. Ekskresi 9-16 g/hari
  8. Sulfat: hasil metabolisme protein yang mengandung AA dg atom S, contohnya: sistein, sistin, metionin. Sulfat da 3 bentuk: seulfat anorganik, sulfat ester (konjugasi) dan sulfat netral
  9. Fosfat: di urin berikatan dg Na, K, Mg, Ca. Garam Mg dan Ca fosfat mengendap pada urin alkalis. Ekskresinya dipengaruhi pemasukan protein, kerusakan sel, kerusakan tulang pada osteomalasia dan hiperparatiroidisme →ekskresinya naik dan menurun pada penyakit infeksi dan hipoparatiroidisme.
  10. Oksalat: pada metab herediter, ekskresinya naik.
  11. Mineral: Kationnya (Na, K, Ca, Mg). Ekskresi K naik pada kerusakan sel, pemasukan yang berlebih dan alkalosis. Ekskresi ion K dan Na dikontrol korteks adrenal.
  12. Vitamin, hormon dan enzim: pada pankreatitis→ amilase dan disakaridase meningkat. Hormon Choriogonadotropin (HCG) terdapat pada urine wanita hamil (Trisnaningsih, 2009).

Zat abnormal yang ada dalam urin:

  1. Protein: tidak boleh lebih dari 200 mg/hari. Ekskresinya naik berarti terjadi proteinuria misal terjadi glomeluronefritis sehingga ginjalnya bocor.
  2. Glukosa: bila dengan Benedict positif berarti glikosuria, indikasi DM
  3. Lain-lain: fruktosuria, galaktosuria, laktosuria, pentosuria.
  4. Benda-benda keton (as. Asetoasetat, β-hodroksi butirat, aseton): normal ekskresinya hanya 3-15 mg/hari. Ekskresi naik pada kelaparan, gangguan metabolisme karbohidrat (DM), kehamilan, pemberian anestesi dengan eter, asidosis.
  5. Bilirubin dan garam-garam kolat: ada di dalam urine berarti terjadi sumbatan pada saluran empedu, empedu banyak masuk ke darah → diekskresi di urin →warna urin seperti air teh. Jika tertimbun di jaringan subkutan menyebabkan ikterus.
  6. Darah: di dalam urine → hematuria, misal pada penyakit radang ginjal atau saluran kencing di bawahnya. Eritrosit pecah, Hb keluar dan da di urin → hemoglobinuria. Pigmen darah (Hb) dapat dibuktikan dengan percobaan benzidin
  7. Porfirin; Koproporfitin diekskresi 60-200 μg/hari. Ekskresi naik →porfiria.
  8. Indikan adalah k-indoksil sulfat, di urin orang obstipasi/abses sehingga triptofan → indol → indikan  (Trisnaningsih, 2009).

Interpretasi warna urin dapat menggambarkan kondisi kesehatan organ dalam seseorang.

  1. Keruh.Kekeruhan pada urin disebabkan adanya partikel padat pada urin seperti bakteri, sel epithel, lemak, atau Kristal-kristal mineral.
  2. Pink, merah muda dan merah. Warna urin seperti ini biasanya disebabkan oleh efek samping obat-obatan dan makanan tertentu seperti bluberi dan gula-gula, warna ini juga bisa digunakan sebagai tanda adanya perdarahan di system urinaria, seperti kanker ginjal, batu ginjal, infeksi ginjal, atau pembengkakkan kelenjar prostat.
  3. Coklat muda seperti warna air teh, warna ini merupakan indikator adanya kerusakan atau gangguan hati seperti hepatitis atau serosis.
  4. Kuning gelap, Warna ini disebabkan banyak mengkonsumsi vitamin B kompleks yang banyak terdapat dalam minuman berenergi  (Candra, 2009).

Fungsi utama urin adalah untuk membuang zat sisa seperti racun atau obat-obatan dari dalam tubuh. Anggapan umum menganggap urin sebagai zat yang “kotor”. Hal ini berkaitan dengan kemungkinan urin tersebut berasal dari ginjal atau saluran kencing yang terinfeksi, sehingga urinnyapun akan mengandung bakteri. Namun jika urin berasal dari ginjal dan saluran kencing yang sehat, secara medis urin sebenarnya cukup steril dan hampir tidak berbau ketika keluar dari tubuh. Hanya saja, beberapa saat setelah meninggalkan tubuh, bakteri akan mengkontaminasi urin dan mengubah zat-zat di dalam urin dan menghasilkan bau yang khas, terutama bau amonia yang dihasilkan dari urea (Ali, 2008).

Tahun 200 SM pertama kali ada nama Diabetes yang berarti “mengalir terus” dan Mellitus yang berarti “Manis”. Disebut Diabetes karena selalu minum dalam jumlah banyak (Polidipsia) yang kemudian mengalir terus berupa urine.di sebut Mellitus karena  urine pada penderita itu mengandung glukosa (glukosa/gula). Diabetes Mellitus disebabkan oleh hormon insulin penderita yang tidak mencukupi atau tidak efektif sehingga tidak dapat bekerja secara normal. Padahal, insulin mempunyai peran utama mengatur kadar glukosa dalam darah, yaitu sekitar 6- = 120 mg/dl waktu puasa, dan di bawah 140 mg/dl pada dua jam sesudah makan. Pada pankreas terjadi kerusakan atau kerja dari pankreas tidak sempurna, sehingga pankreas tidak menghasilkan hormon insulin yang cukup untuk menetralisir gula darah (Syukhri, 2005).

DMG yaitu diabetes melitus yang terjadi pada masa kehamilan. DM ini muncul karena peningkatan kebutuhan energi, kadar estrogen, dan hormone pertumbuhan yang terus menerus tinggi selama masa kehamilan. Hormon estrogen dan pertumbuhan merangsang pengeluaran insulin dan dapat menyebabkan gambaran sekresi insulin yang berlebihan (Unik, 2007). Ibu hamil rawan mengalami perubahan kenaikan kadar gula darah yang tidak pernah dialami saat sebelum hamil. Pada ibu hamil terjadi perubahan metabolisme penghancuran karbohidrat. Bertambah tingginya kadar hormon progesteron dan hormon estrogen dibanding saat tidak hamil berpengaruh pada menurunnya kemampuan daya tangkap insulin (Anonim, 2009).

Uji benedict merupakan metode yang efektif untuk memastikan kehadiran atau jumlah glukosa dalam air seni. Uji benedict merupakan uji umum untuk karbohidrat (gula) pereduksi (yang memiliki gugus aldehid atau keton bebas), seperti yang terdapat pada glukosa dan maltosa. Urine yang mengandung glukosa dapat menjadi tanda adanya penyakit diabetes. Sekali urine diketahui mengandung gula pereduksi, test lebih jauh mesti dilakukan untuk memastikan jenis gula pereduksi apa yang terdapat dalam urine. Hanya glukosa yang mengindikasikan penyakit diabetes. Uji positif ditandai dengan perubahan warna dalam urin: biru-gula absen; hijau 0,5% gula; kuning-1% gula; oranye-1.5% gula; bata merah-2% atau lebih gula (Riyadi, 2009).

Semua karbohidrat yang mempunyai gugus aldehid atau keton bebas akan membentuk osazon bila dipanaskan bersama fenilhidrazina berlebih. Osazon yang terjadi mempunyai bentuk kristal dan titik lebur yang khas bagi masing-masing karbohidrat. Hal ini sangat penting karena dapat digunakan untuk mengidentifikasi karbohidrat dan merupakan salah satu cara untuk membedakan beberapa monosakarida, misalnya antara glukosa dan galaktosa yang terdapat dalam urine wanita dalam masa menyusui (Yuki, 2009).

Kreatin disintesis di dalam hati dari metionin, glisin, dan arginin. Dalam otot rangka kreatinin difosforilasi untuk membentuk fosforilkreatin yang merupakan simpanan tenaga penting bagi sintesis ATP. ATP yang terbentuk oleh glikolisis dan fosforilasi oksidatif bereaksi dengan kreatin untuk membentuk ADP dan banyak fosforilkreatin. Reaksi ini berdasarkan pembentukan tautometer kreatinin pikrat yang berwarna merah bila kreatinin direaksikan dengan larutan pikrat alkalis. Warna ini akan berubah menjadi kuning apabila larutan diasamkan. berwarna merah bila kreatinin direaksikan dengan larutan pikrat alkalis. Kreatinin meninggi pada insufisiensi ginjal yang akut atau kronis, obstruksi traktus urinarius dan gangguan faal ginjal yang ditimbulkan oleh beberapa jenis obat. Bahan-bahan yang bukan kreatinin dapat bereaksi sehingga memberi hasil positif dengan metode alkalis pikrat. Bahan-bahan tersebut adalah asetoasetat, aseton, β-Hidroksibutirat, α-ketoglutarat, piruvat, glukosa bilirubin, hemoglobin, urea dan asam urat (Filzahazny, 2009).

Para penderita diabetes melitus memiliki terlalu banyak glukosa dalam darah dan di urinenya, tetapi tidak cukup banyak di dalam sel – selnya. Penderita diabetes memiliki banyak insulin, tetapi insulin itu terhalang dan tidak dapat melakukan fungsinya. Insulin merupakan sejenis hormon yang dihasilkan oleh pankreas, yang bertindak sebagai juru kabar kimiawi yang memungkinkan glukosa yang terdapat dalam darah dapat masuk ke dalam sel.

Pada orang hamil test urine menjadi sangat penting. Urine pada pagi hari berwarna pekat karena urine pekat banyak mengandung lebih banyak Co persatuan volume. Slama kehamilan fleksibilitas produksi aldosteron menurun. Ekskresi natrium dalam urine meningkat bila kadar natrium tinggi, tetapi juga terjadi pengurangan kadar natrium serum, di dapat ekskresi natrium yang tidak seimbang. Sebelum ada penyeuaian kembali retensi natrium. Peningkatan aktivitas aldosteron tidak menyebabkan pengurangan kadar kalium.

Uji  asam pikrat merupakan uji untuk mengetahui zat kreatin pada urine. Tes ini akan memberikan nilai positif jika larutan berubah menjadi warna kuning. Uji benedict merupakan metode yang efektif untuk memastikan kehadiran atau jumlah glukosa dalam air seni. Uji benedict merupakan uji umum untuk karbohidrat (gula) pereduksi (yang memiliki gugus aldehid atau keton bebas), seperti yang terdapat pada glukosa dan maltosa. Uji positif ditandai dengan perubahan warna dalam urin: biru-gula absen; hijau 0,5% gula; kuning-1% gula; oranye-1.5% gula; bata merah-2% atau lebih gula.

Uji ozazon merupakan uji untuk mengetahui gula berupa glukosa, galaktosa, atau laktosa didalam urine.  Tes ini akan memberikan nilai posiif jika terbentuk lapisan tengah yang memisahkan dua lapisan. Uji ini biasanya dilakukan dengan mengamati di bawah mikroskop.

Uji koagulasi merupakan uji untuk mengetahui adanya kandungan protein di dalam urine. Uji ini biasanya dilakukan pada orang hamil. Tes positif dari uji ini adalah jika terbentuk endapan pada larutan. Koagulasi adalah denaturasi protein akibat panas dan alkohol.

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil

Tabel 1 Hail uji asam pikrat

Sampel

Warna akhir

Endapan

Hasil

Urine normal Oranye (pekat)

(+)

Urine DM Oranye (lebih pekat

(+)

Urine ibu hamil Oranye (pekat)

Ada endapan + koagulasi

(+)

Aquadest Kuning (tetap)

(-)

Tabel 2 Hasil uji benedict

Sampel

Warna akhir

Endapan

Hasil

Urine normal Biru

(-)

Urine DM Biru kehijauan

(+)

Urine ibu hamil Biru

+

(-)

Tabel 3 Hasil uji koagulasi

Sampel

Warna akir

Endapan

Hasil

Urine normal Kuning bening

(-)

Urine DM Kuning bening

(-)

Urine ibu hamil Kuning

+

(+)

Tabel 4 Hasil uji ozazon

Sampel

Warna akhir

Endapan

Hasil

Urine normal 2 lapisanAtas : kuningBawah : merah

+

(+)

Urine DM 2 lapisanAtas : KuningBawah : terbentuk endapan

+

(+)

Urine ibu hamil 2 endapanAtas : KuningBawah : merah

+

(-)

4.2 Pembahasan

Urin atau air seni atau air kencing adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Eksreksi urin diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan tubuh. Namun, ada juga beberapa spesies yang menggunakan urin sebagai sarana komunikasi olfaktori. Urin disaring di dalam ginjal, dibawa melalui ureter menuju kandung kemih, akhirnya dibuang keluar tubuh melalui uretra.

Urin terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolisme (seperti urea), garam terlarut, dan materi organik. Cairan dan materi pembentuk urin berasal dari darah atau cairan interstisial. Komposisi urin berubah sepanjang proses reabsorpsi ketika molekul yang penting bagi tubuh, misal glukosa, diserap kembali ke dalam tubuh melalui molekul pembawa. Cairan yang tersisa mengandung urea dalam kadar yang tinggi dan berbagai senyawa yang berlebih atau berpotensi racun yang akan dibuang keluar tubuh. Materi yang terkandung di dalam urin dapat diketahui melalui urinalisis. Urea yang dikandung oleh urin dapat menjadi sumber nitrogen yang baik untuk tumbuhan dan dapat digunakan untuk mempercepat pembentukan kompos. Diabetes adalah suatu penyakit yang dapat dideteksi melalui urin. Urin seorang penderita diabetes akan mengandung gula yang tidak akan ditemukan dalam urin orang yang sehat.

Urine adalah produk limbah cair dari tubuh yang dikeluarkan oleh ginjal melalui proses filtrasi dari darah yang disebut buang air kecil dan dikeluarkan melalui uretra. Fungsi utama urin adalah untuk membuang zat sisa seperti racun atau obat-obatan dari dalam tubuh. Urine yang normal tidak terdapat albumin, darah, urea yang berlebih dan glukosa darah.

Pada percobaan yang dilakukan, dilakukan 4 uji, yaitu :

  1. Uji Asam Pikrat : uji ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya kandungan keratin dalam urine. Asam pikrat adalah sebuah reagen yang akan bereaksi dengan kreatin pada urin sedangkan NaOH berfungsi sebagai medium alkali sehingga kreatin dapat bereaksi membentuk warna merah.

Hasil positif ditandai dengan perubahan warna menjadi orange. Dari 4 sampel yang digunakan, sampel urine normal, urine penderita diabetes melitus dan urine ibu hamil menghasilkan warna orange saat urine ditambahkan asam pikrat dan NaOH. Sedangkan pada aquadest warna akhirnya adalah tetap yaitu kuning. Sehingga dapat diketahui pada sampel urine mengandung keratin.

Reaksi yang terjadi :

Kreatin (zat normal pada urine) + Asam pikrat à warna merah + endapan

  1. Uji Benedict : uji ini bertujuan untuk mengidentifikasi ada tidaknya gula dalam urine.

Reagen benedict berisi campuran dari natrium sitrat, natrium karbonat, tembaga, sulfat dan air. Dimana yang bersifat oksidator adalah cupri yang akan membentuk Cu(OH)2 dalam suasana alkalis. Endapan dan perubahan warna dikarenakan adanya kandungan gula reduksi yang bereaksi sehingga terjadi reaksi reduksi-oksidasi oleh reagen benedict yang terdiri oleh kompleks Cu 2+ akan membentuk ikatan dengan gugus karbonil bebas yang ada dan dihasilkan endapan dari kupri oksida (CuO2).

Hasil positif ditandai dengan perubahan warna dalam urin menjadi biru kehijauan jika terdapat 0,5% gula, kuning bila terdapat 1% gula, oranye bila terdapat 1,5% gula dan merah bata bila terdapat 2% atau lebih gula. Dari 3 sampel yang digunakan, urine normal dan urine ibu hamil tidak terjadi perubahan warna, tetap biru, hanya saja pada urine ibu hamil, terdapat endapan. Urine penderita diabetes melitus menghasilkan warna biru kehijauan. Hal ini menunjukkan pada urine normal dan urine ibu hamil sebenarnya tidak terdapat gula. Sedangkan pada urine penderita diabetes melitus dapat dikatakan tidak normal.

Reaksi yang terjadi :

atau:

O                                          O

║                                          ║

R—C—H  + Cu2+ 2OH →  R—C—OH + Cu2O

Gula Pereduksi                              Endapan Merah Bata

  1. Uji Koagulasi : uji koagulasi bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya kandungan protein dalam urine. Fungsi larutan CH3COOH 3 M adalah sebagai reagen untuk mendapatkan protein dalam larutan sehingga terjadi perubahan dari bening dan kemudian muncul endapan. Selain itu CH3COOH berfungsi untuk mengubah bentuk 3 dimensi dari protein sehinga terjadi koagulasi. Proses pemanasan dalam waterbath berfungsi untuk mempercepat reaksi dan membantu proses pembentukan gumpalan pada urine yang mengandung protein. Hasil positif ditandai dengan adanya endapan dalam urine. Dari 3 sampel yang digunakan, ketiganya memiliki warna akhir kuning bening dan pada sampel urine normal dan urine penderita diabetes melitus tidak terdapat endapan, sedangkan pada urine ibu hamil terdapat endapan pada dasar tabung. Dapat diketahui, urine ibu hamil mengandung protein dan merupakan urine yang tidak normal.

Reaksi yang terjadi pada urine yang mengandung protein :

  1. Uji Ozazon : uji ini bertujuan untuk melihat kandungan kristal dalam urine dan mengetahui bentuk keristal tersebut. Dari 3 sampel yang digunakan, terjadi 2 lapisan pada urine. Pada urine normal dan ibu hamil, warna lapisan atas adalah kuning dan lapisan bawah berwarna merah serta keduanya ada endapan. Pada urine penderita diabetes melitus, warna lapisan atas kuning dan lapisan bawah orange serta ada endapan juga. Pada ketiga sampel tersebut, urine normal dan erine ibu hamil menunjukkan hasil negatif karena tidak terdapat kristal, sedangkan pada urine diabetes melitus  menujukkan reaksi positif karena ketika dilihat pada mikroskop terdapat kristal.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, I. 2008. Urinalisis (Analisis Kemih). http://iqbalali.com. 30 Oktober 2010.

Anonim. 2009. Masalah Saat Hamil. http://enformasi.com. 30 Oktober 2010.

Candra, W. 2009. Uji Urin. http://bagiilmunohara.blogspot.com. 30 Oktober 2010.

Filzahazny. 2009. Urin. http://filzahazny.wordpress.com. 30 Oktober 2010.

Popy, A. 2008. Sekilas Tentang Urin. http://aseppopy.net. 30 Oktober 2010.

Riyadi, W. 2009. Uji Kualitatif Karbohidrat. http://wahyuriyadi.blogspot.com. 30 Oktober 2010.

Syukhri. 2005. Diabetes, Apa itu?. http://annisaalaboratories.com. 30 Oktober 2010.

Trisnaningsih. 2009. Biokimia Urine. http://treesnasmart.blogspot.com. 30 Oktober 2010.

Yuki. 2009. Laporan Biokimia. http://yukiicettea.blogspot.com. 30 Oktober 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s