Protein

DASAR TEORI

Protein berasal dari bahasa Yunani, yaitu proteios yang berarti pertama. Protein adalah makromolekul yang paling banyak dalam sel hidup dan ditemukan dalam semua bagian sel. Fungsinya adalah sebagai enzim untuk katalisator reaksi kimia, pembentuk struktur dinding sel, contohnya pada pembungkus virus (kapsid), hormon seperti insulin, pembawa O2 (hemoglobin), protein yang terikat gen, antibodi dan lain-lain. Ciri utama molekul protein :

  • Berat molekulnya besar
  • Umumnya terdiri dari 20 asam amino yang berbeda, yang membentuk rantai polipeptida dan ikatan peptida
  • Terdapatnya ikatan kimia lain seperti ikatan hidrogen, ikatan hidrofob, ikatan ion dan van der walls yang membentuk struktur 3D
  • Strukturnya tidak stabil terhadap pH, radiasi, suhu, medium pelarut organik dan detergen yang mengakibatkan denaturasi protein
  • Reaktif dan sangat spesifik  (Wirahadikusumah, 1989).

Asam amino merupakan bagian struktur protein yang menentukan banyak sifat yang

penting. Ada 20 macam asam amino, yang masing-masing ditentukan oleh jenis gugus R atau rantai samping dari asam amino. Jika gugus R berbeda maka jenis asam amino berbeda. Gugus R dari asam amino bervariasi dalam hal ukuran, bentuk, muatan, kapasitas pengikatan hidrogen serta reaktivitas kimia. Keduapuluh macam asam amino ini tidak pernah berubah. Asam amino yang paling sederhana adalah glisin dengan atom H sebagai rantai samping. Glisin merupakan asam amino pertama yang diisolasi dari hidrolisat protein (Riawan, 1990).

Asam Amino memiliki sekitar 20 jenis yang terklasifikasi pada jenis asam amino esensial, asam amino, non esensial.

1. Asam Amino Esensial

Asam amino esensial adalah asam amino yang harus di datangkan dari luar tubuh manusia karena sel-sel tubuh tidak dapat mensintesisnya. Asam-asam amino tersebut sebagian besar hanya dapat disintesis di dalam sel-sel tumbuhan, sebab untuk sintesisnya diperlukan senyawa nitrat organik. Kekurangan satu saja asam amino akan mengganggu sintesis protein. Asam amino esensial terdiri atas isoleusin, leusin, lisin, metionin, fenilalanin, treonin, valin, triptofan. Arginin dan histidin esensial pada anak-anak.

2. Asam Amino Non esensial

Asam amino non esensial adalah asam amino yang dapat disintesis di dalam tubuh manusia dengan bahan baku lainnya. Asam amino non esensial terdiri atas alanin, asparagin, asam aspartat, asam glutamat, glutamin, prolin. Namun, selain itu, beberapa ahli juga membagi asam aminoini menjadi 3 golongan yaitu ditambah dengan asam amino semi esensial dengan pengertian asam amino yang dapat menghemat pemakaian beberapa asam amino esensial. Beberapa diantaranya yaitu sistin, glisin, serin, tirosin (Putri, 2009).

Menurut Lehninger (1990), klasifikasi asam amino berdasarkan sifat polaritas gugus R :

  • Gugus R non polar (hidrofobik)   : alanin, leusin, tryptofan
  • Gugus R polar tak bermuatan       : asparagin, sistein, glisin
  • Gugus R bermuatan negatif          : asam aspartat, glutamat
  • Gugus R bermuatan positif           : arginin, histidin, lisin

Menurut Poedjiadi (1994), klasifikasi protein berdasarkan strukturnya :

  • Struktur primer      : ditentukan oleh ikatan kovalen antara residu asam amino yang berurutan membentuk ikatan peptida
  • Struktur sekunder             : terjadi karena ikatan hidrogen antara atom O dari gugus karbonil (C=O) dengan atom H dari gugus amino (N-H) dalam 1 rantai polipeptida, memungkinkan terbentuknya konformasi spiral yang disebut struktur helix
  • Struktur tersier      : terbentuk karena terjadinya pelipatan rantai ” helix, konformasi $ maupun gulungan polipeptida membentuk protein globular yang struktur 3Dnya lebih rumit, terdapat ikatan kovalen seperti ikatan peptida dan disulfida, juga ikatan non kovalen yang menyebabkan terjadinya pelipatan.
  • Struktur Kuartener : sebagian besar berbentuk globular Yang mempunyai berat molekul lebih dari 50.000, merupakan oligomer yang terjadi dari beberapa rantai polipeptida yang terpisah.

Albumin berasal dari bahasa Latin, yaitu albus yang berarti umum pada protein dengan daya larut air dan dapat larut dalam garam dan denaturasi protein. Albumin merupakan sumber makanan yang kaya protein dan baik untuk diet dialisis, dapat larut dalam air serta dapat terkoagulasi oleh panas. Albumin terdapat dalam serum darah dan putih telur. Pospat yang terkandung di dalamnya kira-kira 5mg per albumin. Albumin merupakan protein plasma yang paling banyak dalam tubuh manusia, terdiri dari rantai polipeptida tunggal dengan berat molekul 66,4 kDa dan terdiri dari 585 asam amino, 17 ikatan disulfida yang menghubungkan asam amino yang mengandung sulfur. Fungsi albumin, untuk mempertahankan tekanan osmotik plasma agar tidak terjadi asites, membantu metabolisme, transportasi obat-obatan, anti inflamasi dan antioksidan. Albumin adalah protein yang dapat larut dalam air serta dapat terkoagulasi oleh panas. Albumin terdapat dalam serum darah dan putih telur (Poedjiadi, 1994)

Triptofan merupakan salah satu asam amino penyusun protein. Triptofan adalah prekursor melatonin, serotonin dan niasin. Nama sistematiknya adalah Asam S-2-amino-3-(IH-indol-3-il)-propanat (Anonim’a, 2009).

Analisis protein dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu secara kualitatif dan kuantitatif. Secara kualitatif seperti tes ninhidrin, uji biuret, tes xantoprotein, pengendapan garam logam, koagulasi, denaturasi dan pengendapan protein dengan alkohol. Secara kuantitatif seperti pada metode Lowry, metode spektrofotometri visible dan metode spektrofotometri UV.

Ninhidrin adalah suatu reagen yang berguna untuk mendeteksi asam amino dan menetapkan konsentrasinya dalam larutan. Senyawa ini merupakan hidrat dari triketon siklik, dan bila bereaksi dengan asam amino menghasilkan zat berwarna ungu (Hart, 2003).

Buiret adalah senyawa dengan dua ikatan peptida yang terbentuk pada pemanasan dua mulekul urea. Ion Cu2+ dari preaksi Biuret dalam suasana basa akan berekasi dengan polipeptida atau ikatan-ikatan peptida yang menyusun protein membentuk senyawa kompleks berwarna ungu atau violet. Reaksi ini positif terhadap dua buah ikatan peptida atau lebih, tetapi negatif untuk asam amino bebas atau dipeptida. Biuret merupakan pereaksi kimia yang terbuat dari natrium hidroksida dan tembaga sulfat. The blue reagent turns violet in the presence of proteins, and changes to pink when combined with short-chain polypeptides. Reagen ini berwarna biru dan akan berubah menjadi ungu dalam kehadiran protein, dan perubahan menjadi merah muda ketika dikombinasikan dengan rantai polipeptida pendek (Anonim’b, 2009).

Reaksi xantoprotein adalah reaksi kimia untuk mendeteksi protein. Reaktionen viser sig ved, at proteiner ved opvarmning med koncentreret salpetersyre danner gule forbindelser, der ved opløsning i baser giver en orangerød farve. Reaksi positif yang ditunjukkan oleh protein dengan pemanasan dan konsentrasi asam nitrat dalam bentuk senyawa kuning dalam basa memberikan warna orange (Anonim’c, 2009).

Protein dengan pH diatas 7 biasanya memiliki muatan negatif, dengan penambahan ion logam akan bermuatan positif yang akan menyebabkan larutan saling menetralkan sehingga protein tidak larut atau mengendap. Pada logam berlebih akan menyebabkan protein bermuatan positif.

Adanya gugus amino dan karboksil bebas pada ujung-ujung rantai molekul protein, menyebabkan protein mempunyai banyak muatan (polielektrolit) dan bersifat amfoter (dapat bereaksi dengan asam maupun basa). Daya reaksi berbagai jenis protein terhadap asam dan basa tidak sama, tergantung dari jumlah dan letak gugus amino dan karboksil dalam molekul. Dalam larutan asam (pH rendah), gugus amino bereaksi dengan H+, sehingga protein bermuatan positif. Sebaliknya, dalam larutan basa (pH tinggi) molekul protein akan bereaksi sebagai asam atau bermuatan negatif. Pada pH isolistrik muatan gugus amino dan karboksil bebas akan saling menetralkan sehingga molekul bermuatan nol (Winarno, 2002).

Denaturasi protein adalah suatu keadaan telah terjadinya perubahan struktur protein yang mencakup perubahan bentuk dan lipatan molekul, tanpa menyebabkan pemutusan atau kerusakan lipatan antar asam amino dan struktur primer protein. Karena itu, denaturasi dapat diartikan suatu proses terpecahnya ikatan hidrogen, interaksi hidrofobik, ikatan garam dan terbukanya lipatan atau wiru molekul protein Koagulasi adalah denaturasi protein akibat panas dan alkohol (Winarno, 1992). Protein akan mengalami koagulasi apabila dipanaskan pada suhu 50oC atau lebih. Koagulasi ini hanya terjadi bila larutan protein berada titik isoelektrisnya (Poedjiadi, 1994).

Panas dapat digunakan untuk mengacaukan ikatan hidrogen dan interaksi hidrofobik non polar. Hal ini terjadi karena suhu tinggi dapat meningkatkan energi kinetik dan menyebabkan molekul penyusun protein bergerak atau bergetar sangat cepat sehingga mengacaukan ikatan molekul tersebut. Protein telur mengalami denaturasi dan terkoagulasi selama pemasakan. Beberapa makanan dimasak untuk mendenaturasi protein yang dikandung supaya memudahkan enzim pencernaan dalam mencerna protein tersebut (Ophart, 2003).

Pemanasan akan membuat protein bahan terdenaturasi sehingga kemampuan mengikat airnya menurun. Hal ini terjadi karena energi panas akan mengakibatkan terputusnya interaksi non-kovalen yang ada pada struktur alami protein tapi tidak memutuskan ikatan kovalennya yang berupa ikatan peptida. Proses ini biasanya berlangsung pada kisaran suhu yang sempit (Ophart, 2003).

Protein dapat diendapkan dengan penambahan alkohol. Pelarut organik akan mengubah (mengurangi) konstanta dielektrika dari air, sehingga kelarutan protein berkurang, dan juga karena alkohol akan berkompetisi dengan protein terhadap air (Simanjuntak, 2009).

Analisa Lowry merupakan pengembangan dari metode Biuret. Dalam metode ini terlibat 2 reaksi. Awalnya, kompleks Cu(II)-protein akan terbentuk sebagaimana metode biuret, yang dalam suasana alkalis Cu(II) akan tereduksi menjadi Cu(I). Keuntungan analisa Lowry adalah lebih sensitif (100 kali) daripada metode Biuret sehingga memerlukan sampel protein yang lebih sedikit. Batas deteksinya berkisar pada konsentrasi 0.01 mg/mL. Namun metode Lowry lebih banyak interferensinya akibat kesensitifannya (Arie, 2008).

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil

Tabel 1 Hasil Uji Protein

No

Tes

Sampel

Warna akhir

Endapan

Kogulasi

Hasil akhir

1

Ninhidrin

Albumin

Ungu

+

Triptophan

Biru tua

+

2

Biuret

Albumin

Biru ungu

+

Triptophan

Biru bening

3

Xanthoprotein

Albumin

Kuning muda

+

+ (asam)

Triptophan

Jingga

+ (basa)

4

Pengendapan olehgaram logam

Albumin

Putih keruh

+

+

+

Triptophan

Bening

5

Koagulasi

Albumin

Putih keruh

+

+

+

Triptophan

Bening

6

Denaturasi + koagulasi

I: buffer asetat

II: HCl 0,1 M

III: NaOH 0,1 M

Albumin I

Bening

+

+

+

Albumin II

Putih keruh

+

+

+

Albumin III

Putih susu

+

+

+

Triptophan I

Bening

Triptophan II

Bening

Triptophan III

Bening

7

Pengendapan protein oleh alkohol

I: NaOH 0,1 M

II: HCl 0,1 M

III: buffer asetat

Albumin I

Bening

+

+

Albumin II

Bening

+

+

Albumin III

Putih keruh

+

+

Triptophan I

Bening

+

+

Triptophan II

Bening

Triptophan III

Bening

+

+

Tabel 2 Kurva Standar Analisa Lowry

Konsentrasi (x)

Absorbansi (y)

x2

y2

xy

0,02

0,088

0,0004

0,007744

0,00176

0,04

0,095

0,0016

0,009025

0,0038

0,06

0,213

0,0036

0,045369

0,01278

0,08

0,315

0,0064

0,099225

0,0252

0,1

0,380

0,01

0,1444

0,038

∑x = 0,3

∑y = 1,091

∑x2 = 0,022

∑y2 = 0,305763

∑xy = 0,08154

Tabel 3 Hasil Analisa Lowry

Sampel

OD

X hitung

X grafik

Albumin

0,096

0,0296

4.2 Pembahasan

Protein adalah makromolekul yang paling banyak dalam sel hidup dan ditemukan dalam semua bagian sel. Fungsinya adalah sebagai enzim untuk katalisator reaksi kimia, pembentuk struktur dinding sel, contohnya pada pembungkus virus (kapsid), hormon seperti insulin, pembawa O2 (hemoglobin), protein yang terikat gen, antibodi dan lain-lain. Asam amino merupakan bagian struktur protein yang menentukan banyak sifat yang penting.

Pada percobaan ini digunakan sampel berupa albumin dan triptofan. Kemudian dilakukan berbagai macam uji pada sampel ini. Ada uji kualitatif dan kuantitatif. Uji kualitatif tersebut meliputi :

  1. Tes ninhidrin

Tes ninhidrin adalah tes yang dilakukan untuk mendeteksi asam amino yang mempunyai gugus ” amino bebas dalam larutan. Bila senyawa ini bereaksi dengan asam amino menghasilkan zat berwarna ungu. Pada kedua sampel yang diuji diperoleh albumin menghasilkan larutan berwarna ungu dan triptofan menghasilkan warna biru tua setelah dipanaskan dan tidak terbentuk endapan, sehingga reaksi ini dikatakan positif. Warna ungu yang dihasilkan adalah asam amino yang menyumbangkan atom nitrogennya. Pemanasan dilakukan untuk mempercepat terjadinya reaksi. Fungsi larutan ninhidrin adalah berperan sebagai pengoksidasi yang kuat dan dapat bereaksi dengan asam amino pada pH 4 – 8.

Reaksi yang terjadi :

  1. Tes biuret

Tes biuret berfungsi untuk mengetahui ada tidaknya gugus amida pada suatu senyawa. Tes ini juga akan memberikan hasil positif pada biuret atau senyawa malonamida, dengan warna merah ungu atau biru ungu. Biuret bereaksi dengan membentuk senyawa kompleks Cu dengan gugus -CO dan -NH pada asam amino dalam protein. Fenol tidak bereaksi dengan biuret karena tidak mempunyai gugus -CO dan -NH pada molekulnya. Pada percobaan ini sampel yang digunakan adalah albumin dan  triptophan. Penambahan larutan NaOH 0,1 N berfungsi untuk mendenaturasi protein sehingga terjadi perubahan struktur tanpa memutus ikatan amidanya. Sedangkan penambahan reagen biuret (CuSO4) berfungsi untuk menghidrolisis ikatan peptida pada protein dengan asam/basa kuat sehingga menghasilkan komponen asam amino dalam bentuk bebas dan membentuk komplek berwarna violet.

Hasil yang diperoleh adalah pada albumin menunjukkan reaksi positif karena terbentuk warna ungu, sedangkan pada  triptofan terjadi reaksi positif karena terbentuk warna biru. Pada kedua sampel tidak terbentuk endapan dan tidak terjadi koagulasi. Ini berarti albumin mengandung gugus amida asam, hal ini dikarenakan albumin merupakan protein yang tersusun dari banyak asam amino yang saling dihubungkan oleh ikatan peptida.

Reaksi yang terjadi adalah:

Larutan protein + NaOH + CuSO4            ungu muda

  1. Uji xantoprotein

Uji xantoprotein berfungsi untuk mengetahui ada tidaknya gugus benzen. Reaksi dikatakan positif bila larutan membentuk turunan nitro yang berwarna kuning pada pemanasan. Pemanasan dilakukan untuk mengikat gugus H+ dari HNO3 pekat dengan air dari protein yang dipanaskan sehingga menghasilkan endapan kuning. Fungsi HNO3 pekat untuk menitrasi cincin benzena sehingga terbentuk warna kuning setelah dipanaskan. Setelah itu larutan dipanaskan secara hatu-hati untuk mempercepat reaksi. Setelah itu, sampel ditambahi larutan NaOH pekat setetes demi setetes. Pada kedua sampel yang diuji diperoleh albumin menghasilkan larutan berwarna kuning muda dan ada endapan, pada triptofan menghasilkan warna jingga tidak terbentuk endapan, sehingga reaksi ini dikatakan positif.

Reaksi kimia yang terjadi :

  1. Pengendapan garam logam

Reaksi ini digunakan untuk mengetahui proses koagulasi garam atau penggumpalan protein. Pengendapan garam logam ini dilakukan dengan penambahan merkuri klorida dan pemanasan. Penambahan larutan HgCl2 0,2 M berfungsi untuk mengendapkan garam anorganik dalam garam protein karena berbentuk koloid. Sedangkan pemanasan berfungsi untuk mempercepat reaksi.

Pada kedua sampel yang diuji diperoleh albumin menghasilkan larutan berwarna putih keruh dan ada endapan beserta koagulasi, pada triptofan tidak mengubah warna dan tidak terbentuk endapan, sehingga reaksi ini dikatakan positif pada albumin sedangkan pada triptofan, reaksi dikatakan negatif.

Reaksi yang terjadi :

  1. Koagulasi

Protein dapat mengalami koagulasi apabila dipanaskan pada suhu 50oC atau lebih atau ditambahkan etanol absolut. Koagulasi ini hanya terjadi bila larutan protein berada titik isoelektrisnya. Pemanasan bertujuan untuk membuktikan sampel bisa mengalami koagulasi atau tidak. Tes ini berfungsi untuk mengidentifikasi terjadinya koagulasi pada suatu sampel protein. Penambahan larutan CH3COOH adalah untuk membantu sampel mencapai titik isoelektriknya dan mengubah struktur protein agar dapat terkoagulasi.

Pada kedua sampel yang diuji diperoleh warna albumin  menghasilkan larutan berwarna putih keruh dan ada endapan beserta koagulasi, pada triptofan tidak mengubah warna dan tidak terbentuk endapan, sehingga reaksi ini dikatakan positif pada albumin sedangkan pada triptofan, reaksi dikatakan negatif karena triptofan adalah asam amino.

Reaksi yang terjadi :

  1. Denaturasi dan koagulasi

Tes ini bertujuan untuk mengubah struktur protein tanpa merusak ikatan peptidanya dan melihat kelarutan protein. Reaksi positifnya adalah dengan terjadinya koagulasi. Koagulasi protein akan terjadi apabila telah mencapai titik isoelektriknya dan akan mengalami denaturasi bila terjadi peubahan bentuk konformasinya tetapi tidak disertai dengan pemutusan ikatan peptidanya. Protein yang terdenaturasi akan kehilangan fungsi biologisnya dan menjadi tidak larut. Denaturasi tidak selalu diikuti oleh koagulasi, denaturasi dapat disebabkan oleh panas, pelarut organik, enzim, sinar UV, pengadukan, perubahan pH yang drastis dan penambahan asam. . Buffer asetat  berfungsi untuk mempertahankan pH pada suasana asam, lalu larutan HCl 0,1 M berfungsi untuk memberikan suasana asam, dan larutan NaOH 0,1 M berfungsi untuk memberikan suasana basa. Sedangkan pemanasan berfungsi untuk mempercepat reaksi.

Denaturasi protein adalah suatu keadaan telah terjadinya perubahan struktur protein yang mencakup perubahan bentuk dan lipatan molekul, tanpa menyebabkan pemutusan atau kerusakan lipatan antar asam amino dan struktur primer protein. Koagulasi merupakan denaturasi protein yang terjadi akibat pemanasan dan alkohol. Pada kedua sampel yang diuji diperoleh warna albumin menghasilkan larutan berwarna bening pada penambahan buffer asetat, putih keruh pada penambahan HCl 0,1 M dan berwarna putih susu pada penambahan NaOH, ketiganya ada endapan beserta koagulasi. Pada triptofan, penambahan buffer asetat, HCl 0,1 M dan NaOH 0,1 M menghasilkan warna bening keruh, tidak ada endapan dan tidak terbentuk koagulasi. Pada albumin, reaksi dikatakan positif karena terbentuk koagulasi, sedangkan pada triptofan reaksi dikatakan negatif karena tidak menghasilkan endapan dan koagulasi.

  1. Pengendapan protein oleh alkohol

Tes ini bertujuan untuk mengendapkan protein dengan alkohol. Reaksi positifnya ditunjukkan dengan terbentuknya endapan pada larutan. Selain dapat mengendap pada titik isoelektriknya, protein juga dapat mengendap dengan larutan asam. Dalam kegiatan ini yang berperan sebagai asam adalah alkohol pekat yang berfungsi untuk mengendapkan protein. Larutan NaOH berfungsi untuk memberikan ion negatif, lalu larutan HCl berfungsi memberikan ion positif, sedangkan buffer asetat berfungsi untuk mempertahankan pH pada suasana asam.

Protein dapat diendapkan dengan penambahan alkohol dalam keadaan asam. Pelarut organik akan mengubah (mengurangi) konstanta dielektrika dari air, sehingga kelarutan protein berkurang, dan juga karena alkohol akan berkompetisi dengan protein terhadap air. Pada kedua sampel yang diuji diperoleh warna albumin menghasilkan larutan berwarna bening pada penambahan NaOH dan HCl 0,1 M dan berwarna putih keruh pada penambahan buffer asetat, dan ketiganya tidak menghasilkan endapan, hanya terbentuk koagulasi. Pada triptofan, tidak menghasilkan perubahan warna, tetap bening. Pada penambahan NaOH buffer asetat tidak menghasilkan endapan, hanya terjadi koagulsai, sedangkan pada penambahan HCl tidak terjadi endapan maupun koagulasi. Reaksi pada triptofan dikatakan negatif, begitu juga pada albumin dengan penambahan NaOH karena NaOH bersifat basa sehingga tidak menghasilkan endapan, selain itu triptofan adalah asam amino bukanlah protein.

Analisa Lowry merupakan analisa kuantitatif yang bertujuan untuk menentukan kadar protein pada suatu sampel. Uji ini dilakukan dengan menghitung kadar protein yang terkandung dalam sampel dengan mencari nilai absorbansi (y)/nilai OD (optical density) dengan metode spektrofotometri dan kurva standart. Panjang gelombang maksimal yang digunakan  adalah 600 nm.

Pada kegiatan ini sampel yang digunakan adalah albumin dan aquadest sebagai larutan blanko. Kedua sampel akan direaksikan dengan reagen D dan reagen E kemudian dipanaskan. Reagen D terdiri atas larutan Nelson A dan Nelson B ( 25 : 1 ) yang mengandung Na-karbonat 2%, NaOH 0,1 N, cupri sulfat dan Na-K tartrat 2%. Reagen D berfungsi untuk menghilangkan senyawa–senyawa lain yang terukur. Reagen E ( Folinciocalteu 1:10 aquadest ) berfungsi untuk menangkap protein yang ada dalam larutan sampel dan sebagai pemberi komplek warna. Kemudian pemanasan berfungsi untuk mempercepat reaksi. Pada saat pemanasan di waterbath tabung reaksi ditutup dengan kertas aluminium foil agar tidak terjadi penguapan. Warna akhir larutan adalah kuning kebiruan dan ada endapan coklat. Warna ini ketika dibandingkan secara visual didapatkan warna larutan diantara larutan standar dengan konsentrasi 0,2-0,4 mg/ml.

Pada percobaan yang dilakukan, setiap larutan yang konsentrasinya berbeda menghasilkan absorbansi yang berbeda. Larutan dengan konsentrasi 0,02 mg/m menghasilkan absorbansi 0,088 A.  Larutan dengan konsentrasi 0,04 mg/m menghasilkan absorbansi 0,095 A. Larutan dengan konsentrasi 0,06 mg/m menghasilkan absorbansi 0,213 A. Larutan dengan konsentrasi 0,08 mg/m menghasilkan absorbansi 0,315 A. Larutan dengan konsentrasi 0,1 mg/m menghasilkan absorbansi 0,380 A. Kemudian dapat dicari a, b dan y. Persamaan y = a +bx agar dapat diketahui kadar proteinnya. Sehingga diperoleh x = 0,0296. Berdasarkan kurva standar, x diperoleh 0,, mungkin saja terjadi kesalahan perhitungan atau ktidakakuratan alat.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim’a. 2009. Triptofan. http://id.wikipedia.org. 23 Oktober 2010.

Anonim’b. 2009. Protein. http://arifqbio.multiply.multiplycontent.com. 23 Oktober 2010.

Anonim’c. 2009. Xantoprotein Reaction. http://da.wikipedia.org. 23 Oktober 2010.

Arie, S. 2008. Penetapan Kadar Protein dengan Metode Lowry. http://ariebs.staff.ugm.ac.id.

23 Oktober 2010.

Hart, H. 2003. Kimia Organik : Suatu Kuliah Singkat. Edisi Kesebelas. Erlangga. Jakarta.

Ophart, C. E. 2003. Virtual Chembook. Elmhurst College.

Poedjiadi, A. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. UI Press. Jakarta.

Lehninger. 1990. Dasar-Dasar Biokimia. Jilid 1. Erlangga, Jakarta.

Putri, N. W. 2009. Protein. http://noviawirnaputri.blogspot.com. 23 Oktober 2010.

Riawan, S. 1990. Kimia Organik. Penerbit Binarupa Aksara. Jakarta.

Simanjuntak, M. T. 2009. Penuntun Praktikum Biokimia. Fakultas MIPA. USU. Medan.

Winarno, F. G. 2002. Kimia Pangan dan Gizi. Gramedia. Jakarta.

Wirahadikusumah, M. 1989. Biokimia Protein, Enzim dan Asam Nukleat. ITB. Bandung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s