Enzim

Tujuan Praktikum :  a.   Mempelajari proses hidrolisa oleh enzim
b.  Mempelajari faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim

    c.  Menentukan nilai Km dan Vmax suatu enzim

 

DASAR TEORI

Enzim adalah molekul biopolimer yang tersusun dari serangkaian asam amino dalam komposisi dan susunan rantai yang teratur dan tetap. Enzim memegang peranan penting dalam berbagai reaksi di dalam sel. Sebagai protein, enzim diproduksi dan digunakan oleh sel hidup untuk mengkatalisis reaksi, antara lain konversi energi dan metabolisme pertahanan sel. Amilase mempunyai kemampuan untuk memecah molekul-molekul pati dan glikogen Molekul pati yang merupakan polimer dari alfa-D-glikopiranosa akan dipecah oleh enzim pada ikatan alfa-1,4- dan alfa-l,6-glikosida. Enzim digolongkan menurut reaksi yang diikutinya, sedangkan masing-masing enzim diberi nama menurut nama substratnya, misalnya urease, arginase dan lain-lain. Di samping itu ada pula beberapa enzim yang dikenal dengan nama lama misalnya pepsin, tripsin dan lain-lain (Aldi, 2010).

Enzim dibagi dalam enam golongan besar oleh Commision on Enzymes of the International Union of Biochemistry. Penggolongan ini didasarkan atas reaksi kimia di mana enzim memegang peranan Dalam mempelajari mengenai enzim, dikenal beberapa istilah diantaranya holoenzim, apoenzim, kofaktor, gugus prostetik, koenzim, dan substrat. Apoenzim adalah suatu enzim yang seluruhnya terdiri dari protein, sedangkan holoenzim adalah enzim yang mengandung gugus protein dan gugus non protein. Gugus yang bukan protein tadi dikenal dengan istilah kofaktor. Pada kofaktor ada yang terikat kuat pada protein dan sukar terurai dalam larutan yang disebut gugus prostetik dan adapula yang tidak terikat kuat pada protein sehingga mudah terurai yang disebut koenzim. Baik gugus prostetik maupun koenzim, keduanya merupakan bagian yang memungkinkan enzim bekerja pada substrat. Substrat merupakan zat-zat yang diubah atau direaksikan oleh enzim (Poedjiadi, 2006).

Klasifikasi enzim menurut International Enzyme Commission :

a. Oksireduktase : beredar antara bentuk-bentuk oksidasi dan reduksinya jika molekul – molekul substrat secara berturut – turut dioksidasi. Dehidrogenasa adalah enzim redoks yang tidak mengguankan oksigen sebagai suatu akseptor electron. Oksidasa adalah enzim redoks yang beroksigen )2 berlaku sebagai aksptor electron. Oksigenasa : menyatukan diri dengan oksigen secara langsung ke dalam molekul substrat. Peroksida : menggunakan H2O2 sebagai suatu akseptor electron.

 

H2O2       +       H2O2        katalase       O2            +       2H2O

Substrat            akseptor                        substrat              akseptor

                              Electron                      teroksidasi    electron tereduksi

b.      Transferasa : enzim transaminasa(aminotransferasa) mengkatalisasi pemindahan reversible dari suatu asam amino ke suatu asam keto. Transaminasa tertentu juga berguna dalam diagnose penyakit – penyakit istimewa. Misalnya jaringan jantung kaya akan transminasa oksato asam glutamate(GOT) yang mengkatalisa reaksi. Jaringan hati kaya akan suatu transaminasa yang sama. Tetapi asam piruvat tersangkut dan bukannya asam oksaloasetat. Dalam penyakit tertentu, seperti hepatitis berinfeksi, jaringan mengalami degenerasi akibat infeksi. Kimia enzim menjadi alat penting yang meningkat dalam diagnose medic. Kinasa merupakan enzim transferasa yang memainkan peran penting dalam pemindahan energy dari satu system  ke system lain dalam bentuk “ikatan fosfat berenergi tinggi”.                 

c.       Hidrolisa : biasanya digolongkan atas dasar ikatan yang dihidrolisa. Beberapa peptidase seperti tripsin dan kimotripsin, hubungannya dengan penentuan struktur protein primer.

d.      Liasa (Adisi dari gugus pada suatu ikatan rangkap atau kebalikan dari reaksi tersebut) contohnya : hidrasi dari ikatan asam fumarat oleh enzim furmarasa

e.       Isomerasa (keseimbangan antara dua isomer) contohnya : reaksi yang dikatalisasikan oleh alanin  rasemasa, enzim yang ditemukan dalam bakteri

f.       Ligasa (pembentukan dari ikatan dengan pembelahan ATP) : enzim ini mengkatalisakan reaksi yang membentuk iktan kimia, yang sering disebut enzim sintetasa(Page,1989)

 

Enzim dikatakan sebagai suatu kelompok protein yang berperan dalam aktivitas biologis. Enzim ini berfungsi sebagai katalisator dalam sel dan sifatnya sangat khas. Dalam jumlah yang sangat kecil, enzim dapat mengatur reaksi tertentu sehingga dalam keadaan normal tidak terjadi penyimpangan hasil reaksinya. Enzim akan kehilangan aktivitasnya karena panas, asam dan basa kuat, pelarut organik atau apa saja yang bisa menyebabkan denaturasi protein. Enzim dinyatakan mempunyai sifat yang sangat khas karena hanya bekerja pada substrat tertentu (Girinda, 1986).

Enzim merupakan unit fungsional dari metabolisme zat, bekerja dengan urutan yang teratur. Enzim mengkatalis ratusan reaksi tahap yang menguraikan molekul nukleat. Reaksi yang menyimpan dan mengubah energi kimia dan membuat makromolekul sel dan prekusor sederhana. Diantara sekelompok yang berpartisipasi dalam metabolisme terdapat sekelompok khusus yang dikenal sebagai enzim pengatur yang dapat mengenali berbagai isyarat metabolik dan mengubah kecepatan kataliknya sesuai dengan isyarat yang diterima. Melalui aktivitasnya, sistem enzim terkoordinasi dengan baik menghasilkan suatu hubungan yang harmonis antara sejumlah aktivitas metabolik yang berbeda yang diperlukan untuk menunjang kehidupan (Lehnninger, 1995).

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kerja enzim diantaranya adalah sebagai berikut.

1. Suhu

Enzim tidak dapat bekerja secara optimal apabila suhu lingkungan terlalu rendah atau terlalu tinggi. Jika suhu lingkungan mencapai 0° C atau lebih rendah lagi, enzim tidak aktif. Jika suhu lingkungan mencapai 40° C atau lebih, enzim akan mengalami denaturasi (rusak). Suhu optimal enzim bagi masing-masing organisme berbeda-beda. Untuk hewan berdarah dingin, suhu optimal enzim adalah 25° C, sementara suhu optimal hewan berdarah panas, termasuk manusia, adalah 37° C.

2. pH (Tingkat Keasaman)

Setiap enzim mempunyai pH optimal masing-masing, sesuai dengan “tempat kerja”-nya. Misalnya enzim pepsin, karena bekerja di lambung yang bersuasana asam, memiliki pH optimal 2. Contoh lain, enzim ptialin, karena bekerja di mulut yang bersuasana basa, memiliki pH optimal 7,5-8.

3. Aktivator dan Inhibitor

Aktivator adalah zat yang dapat mengaktifkan dan menggiatkan kerja enzim. Contohnya ion klorida, yang dapat mengaktifkan enzim amilase. Inhibitor adalah zat yang dapat menghambat kerja enzim. Berdasarkan cara kerjanya, inhibitor terbagi dua, inhibitor kompetitif dan inhibitor nonkompetitif. Inhibitor kompetitif adalah inhibitor yang bersaing aktif dengan substrat untuk mendapatkan situs aktif enzim, contohnya sianida bersaing dengan oksigen dalam pengikatan Hb. Sementara itu, inhibitor nonkompetitif adalah inhibitor yang melekat pada sisi lain selain situs aktif pada enzim, yang lama kelamaan dapat mengubah sisi aktif enzim.

4. Konsentrasi enzim dan substrat

– Semakin tinggi konsentrasi enzim akan semakin mempercepat terjadinya reaksi. Dan konsentrasi enzim berbanding lurus dengan kecepatan reaksi.

– Jika sudah mencapai titik jenuhnya, maka konsentrasi substrat berbanding terbalik dengan kecepatan reaksi (Mulia, 2007).

 

Sebagai katalis dalam reaksi-reaksi di dalam tubuh organisme, enzim memiliki beberapa sifat, yaitu:

1. Enzim adalah protein, karenanya enzim bersifat thermolabil, membutuhkan pH dan suhu yang tepat.

2. Enzim bekerja secara spesifik, dimana satu enzim hanya bekerja pada satu substrat.

3. Enzim berfungsi sebagai katalis, yaitu mempercepat terjadinya reaksi kimia tanpa mengubah kesetimbangan reaksi.

4. Enzim hanya diperlukan dalam jumlah sedikit.

5. Enzim dapat bekerja secara bolak-balik.

6. Kerja enzim dipengaruhi oleh lingkungan, seperti oleh suhu, pH, konsentrasi, dan lain-lain (Mulia, 2007).

Fungsi penting dari enzim adalah sebagai biokatalisator, reaksi kimia secara kolektif membentuk metabolisme perantara sel, suatu bagian yang sangat kecil dari suatu molekul besar protein enzim sangat berperan untuk katalis reaksi. Bagian yang kecil ini dinamakan bagian aktif enzim. Aktivitas katalik enzim dapat ditentukan juga melalui struktur tiga dimensi molekul enzim tersebut. Enzim disini mempunyai peranan katalis dalam menurunkan aktivitas dari reaksi energi. Aktivasi dapat diartikan sebagai sejumlah energi atau kalori yang diturunkan oleh suatu mol zat pada temperatur tertentu untuk membawa molekul kedalam aktifnya atau keadaan aktifnya, menurunkan energi aktivasi, mempercepat reaksi pada suhu dan tekanan tetap tanpa mengubah besarnya tetapan seimbangnya, dan mengendalikan reaksi (Aldi, 2010). Enzim terdiri atas dua bagian, yaitu koenzim dan apoenzim. Koenzim dan apoenzim membentuk haloenzim yang merupakan enzim aktif. Tanpa adanya koenzim, enzim menjadi tidak aktif (Aldi, 2010).

Berdasarkan jenis reaksi yang dikatalisis, enzim dapat dibagi menjadi enam golongan uatama, yaitu:

  1. Oksidoreduktase: kelompok enzim yang mengerjakan reaksi oksidasi dan reduksi
  2. Transferase: kelompok enzim yang berperan dalam reaksi pemindahan suatu gugus dari suatu senyawa kepada senyawa lain.
  3. Hidrolase: Kelompok emzim yang berperan dalam reaksi hidrolisis
  4. Liase: Kelompok enzim yang mengkatalisis reaksi adisi atau pemecahan ikatan rangkap
  5. Isomerase: kelompok enzim yang mengkatalisis perubahan konformasi molekul (isomerisasi)
  6. Ligase(Sintetase): kelompok enzim yang mengkatalisis pembentukkan ikatan kovalen (Salila, 2010).

Enzim memegang peranan penting dalam berbagai reaksi dalam sel. Sebagai protein, enzim diproduksi dan digunakan oleh sel hidup untuk mengkatalisis reaksi seperti konversi energi dan metabolisme pertahanan sel. Enzim amilase memiliki kemampuan untuk memecah molekul-molekul pati dan glikogen. Molekul pati yang merupakan polimer dari alfa-D-glikopiranosa akan dipecah oleh enzim pada ikatan alfa-1,4- dan alfa-1,6-glikosida (Aldi, 2010).

Enzim amilase dapat diperoleh dari sekresi air liur atau saliva. Saliva adalah suatu cairan oral yang kompleks dan tidak berwarna yang terdiri atas campuran sekresi dari kelenjar ludah besar dan kecil yang ada pada mukosa oral. Saliva dapat disebut juga kelenjar ludah atau kelenjar air liur. Semua kelenjar ludah mempunyai fungsi untuk membantu mencerna makanan dengan mengeluarkan suatu sekret yang disebut “saliva” (ludah atau air liur). Pembentukan kelenjar ludah dimulai pada awal kehidupan fetus (4 – 12 minggu) sebagai invaginasi epitel mulut yang akan berdiferensiasi ke dalam duktus dan jaringan asinar (Aldi, 2010).

Saliva merupakan cairan mulut yang kompleks terdiri dari campuran sekresi kelenjar saliva mayor dan minor yang ada dalam rongga mulut. Saliva sebagian besar yaitu sekitar 90 persennya dihasilkan saat makan yang merupakan reaksi atas rangsangan yang berupa pengecapan dan pengunyahan makanan (Kidd, 1992).

Saliva terdapat sebagai lapisan setebal 0,1-0,01 mm yang melapisi seluruh jaringan rongga mulut. Pengeluaran air ludah pada orang dewasa berkisar antara 0,3-0,4 ml/menit sedangkan apabila distimulasi, banyaknya air ludah normal adalah 1-2 ml/menit. Menurunnya pH air ludah (kapasitas dapar / asam) dan jumlah air ludah yang kurang menunjukkan adanya resiko terjadinya karies yang tinggi. Meningkatnya pH air ludah (basa) akan mengakibatkan pembentukan karang gigi (Aldi, 2010).

Saliva memiliki beberapa fungsi, yaitu melicinkan dan membasahi rongga mulut sehingga membantu proses mengunyah dan menelan makanan, membasahi dan melembutkan makanan menjadi bahan setengah cair ataupun cair sehingga mudah ditelan dan dirasakan, membersihkan rongga mulut dari sisa-sisa makanan dan kuman, mempunyai aktivitas antibacterial dan sistem buffer, membantu proses pencernaan makanan melalui aktivitas enzim ptyalin (amilase ludah) dan lipase ludah, perpartisipasi dalam proses pembekuan dan penyembuhan luka karena terdapat faktor pembekuan darah dan epidermal growth factor pada saliva, jumlah sekresi air ludah dapat dipakai sebagai ukuran tentang keseimbangan air dalam tubuh dan  membantu dalam berbicara (pelumasan pada pipi dan lidah) (Aldi, 2010).

Tumbuhan kepel (Stelechocarpus burahol) adalah pohon penghasil buah hidangan meja yang menjadi flora identitasDaerah Istimewa Yogyakarta. Buah kepel digemari puteri kraton-kraton di Jawa karena dipercaya menyebabkan keringat beraroma wangi dan membuat air seni tidak berbau tajam. Pohon tegak, tidak merontokkan daun secara serentak, tingginya mencapai 25 m. Tajuknya teratur berbentuk kubah meruncing ke atas (seperti cemara) dengan percabangan mendatar atau agak mendatar. Diameter batang utamanya mencapai 40cm, berwarna coklat-kelabu tua sampai hitam, yang secara khas tertutup oleh banyak benjolan yang besar-besar. Daunnya berbentuk lonjong-jorong sampai bundar-telur/bentuk lanset, berukuran (12-27)cm × (5-9)cm, berwarna hijau gelap, tidak berbulu, merontal tipis; tangkai daunnya mencapai 1,5 cm panjangnya. Daunnya muncul secara serentak berubah dari merah muda pucat menjadi merah keunguan sebelum berubah lagi menjadi hijau cemerlang (Anonim, 2009).

METODE

3.1 Alat dan Bahan

      3.1.1. Alat :

a.    tabung reaksi

b.    gelas beker

c.    rak tabung reaksi

d.   penjepit

e.    pipet tetes

f.     pipet ukur

g.    pro pipet

h.    spektrofotometer

i.      waterbath

j.      plat tetes

k.    kuvet

l.      tissue

m.  bunsen

n.    gelas pengaduk

o.    timbangan

p.    tabung film

q.    pisau

r.     cawan porselin

s.     aluminium foil

 

      3.1.2. Bahan :

a.    Larutan iod

b.    larutan NaNO3 0,1 M

c.    larutan NaNO3 0,5 M

d.   larutan NaNO3 1 M

e.    larutan NaNO3 3 M

f.     larutan NaNO3 5 M

g.    larutan NaNO2 5 M

h.    larutan amilum 1 %

i.      daun kepel

j.      larutan SA 1 %

k.    larutan NAD 0,2%

l.      Larutan buffer pH 5

m.  Larutan buffer pH 6

n.    Larutan buffer pH 7

o.    Larutan buffer pH 8

p.    Larutan buffer pH 9

q.    Aquadest

r.     saliva

3.2.Cara Kerja

      3.2.1. Hidrolisa amilum

a.       Tabung reaksi disediakan 4 buah, masing-masing diisi dengan 10 ml amilum dan 3 ml saliva.

b.      Tabung reaksi 1 dan 3 diinkubasi pada suhu ruang, tabung reaksi 2 dan 4 dimasukkan ke dalam waterbath

c.       setiap 1 menit, 1 tetes saliva diambil dan diuji dengan iod 0,01 N sampai berwarna kuning (-)

d.      saliva diuji benedict ( 2ml benedict ditambahkan 5 tetes saliva) dan dipanasi menggunakan bunsen.

e.       perubahan yang terjadi diamati dan di catat.

3.2.2. Reduksi Nitrat

a.       Tabung reaksi disediakan sebanyak 4 buah dan diisi dengan 300 mg daun kepel, 0,1 ml NaNO3 5 M.

b.      tabung reaksi 1 dan 2 ditambah dengan buffer posfat pH 6 sebanyak 5 ml, tabung reaksi 3 dan 4 ditambah aquadest sebanyak 5ml.

c.       tabung reaksi 1 dan 3 diinkubasi di waterbath, tabung reaksi 2 dan 4 diinkubasi disuhu ruang

d.      setiap 3 menit, 3 tetes saliva diambil dan ditambahkan dengan 1 tetes SA dan 1 tetes NAD samapi warnanya berubah menjadi pink.

e.       waktu yang dibutuhkan untuk berubah menjadi pink dicatat.

3.2.3. Pengaruh pH

a.       Tabung film disediakan sebanyak 5 buah, masing-masing diisi dengan 300 mg daun kepel dan 5 ml buffer posfat pH 5, 6, 7, 8 dan 9.

b.      Larutan diinkubasi selama 15 menit kemudian buffer posfatnya diganti sesuai dengan masing-masing pH-nya

c.       Masing-masing tabung ditambahkan 0,1 ml NaNO3 5M dan digojok lalu didiamkan selama 30 menit.

d.      setiap filtratnya diambil 0,4 ml dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi  lalu ditambahkan 0,3 ml SA, 0,3 ml NED dan aquadest sehingga terbentuk warna merah.

e.       Absorbansinya (OD) diukur dengan panjang gelombang 540 nm

f.       grafiknya dibuat.

3.2.4. Pengaruh substrat

a.       Tabung film disediakan sebanyak 15 buah dan diisi dengan 300 mg daun kepel dan 5 ml buffer posfat pH 7 kemudian diinkubasi pada suhu ruang selama 15 menit.

b.      Tabung diberi nama I1, I2, I3, I4, I5, A1, A2, A3, A4, A5, T1, T2, T3, T4, dan T5.

c.       Tabung I1, I2, I3, I4, I5 di ganti buffer posfatnya dan ditambahkan 0,1 ml HgCl2 0,01%, tabung A1, A2, A3, A4, A5 diganti buffer posfatnya dan tabung T1, T2, T3, T4,T5 dibiarkan saja.

d.      Tabung yang memiliki angka 1 ditambah dengan 0,1 ml NaNO3 0,1 M. Tabung yang memiliki angka 2 ditambah dengan 0,1 ml NaNO3 0,5 M Tabung yang memiliki angka 3 ditambah dengan 0,1 ml NaNO3 1 M Tabung yang memiliki angka 4 ditambah dengan 0,1 ml NaNO3 3 M Tabung yang memiliki angka 5 ditambah dengan 0,1 ml NaNO3 5 M

e.       Tabung digojok dan didiamkan selama 30 menit.

f.       setiap filtratnya diambil 0,4 ml dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi  lalu ditambahkan 0,3 ml SA, 0,3 ml NED dan aquadest sehingga terbentuk warna merah.

g.      Absorbansinya (OD) diukur dengan panjang gelombang 540 nm

h.      grafiknya dibuat.

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil

  Tabel 1. Hidrolisa Amilum

Tabung

Perlakuan

Waktu

Warna akhir

1

Suhu ruang

3 menit

Kuning

2

Waterbath

1 menit

Kuning

3

Suhu ruang

1 menit

Kuning

4

Waterbath

3 menit

Kuning kecoklatan

    Tabel 2.Hasil Uji Benedict

Tabung

Perlakuan

Warna akhir

1

Suhu ruang

Biru

2

Waterbath

Biru

3

Suhu ruang

Biru

4

Waterbath

Biru

  Tabel 3. Hasil Reduksi Nitrat oleh Nitrat Reduktase

Tabung

Perlakuan

Waktu

Warna akhir

1

Waterbath

Menit ke-2 (6’)

Pink pekat

2

Suhu ruang

Menit ke-2 (6’)

Pink pekat

3

Waterbath

Menit ke-4 (12’)

Pink

4

Suhu ruang

Menit ke-2 (6’)

Pink

     Tabel 4. Hasil Uji Pengaruh pH

Tabung

Od(optical density)

pH

1

0,098 A

5

2

0,098 A

6

3

0,062 A

7

4

0,088 A

8

5

0,091 A

9

 

Tabel 5. Hasil Uji Pengaruh Substrat

Tabung

Od

I1

0,017 A

I2

0,019 A

I3

0,017 A

I4

0,020 A

I5

0,010 A

A1

0,080 A

A2

0,063 A

A3

0,047 A

A4

0,067 A

A5

0,049 A

T1

0,112 A

T2

0,101 A

T3

0,097 A

T4

0,115 A

T5

0,051 A

 

4.2 Pembahasan

Enzim adalah substansi kimia organik yang dapat mempercepat reaksi kimia tanpa ikut serta dalam proses atau menjadi bagian dari produk yang terbentuk. Enzim merupakan biokatalisator. Apabila tanpa enzim, reaksi akan berlangsung lambat. Enzim bersifat spesifik yaitu enzim tertentu hanya dapat mengkatalisis reaksi tertentu.

Pada percobaan hidrolisis amilum diberikan 2 perlakuan pada saliva (kelenjar ludah), yaitu pada suhu ruang dan waterbath. Di dalam saliva terdapat amilum yang dapat dipecah oleh enzim amilase. Uji iod yang dilakukan untuk mengetahui bahwa amilum telah terhidrolisis seluruhnya, yaitu dengan menunjukkan hasil negatif yaitu berwarna kuning. Inkubasi dalam waterbath akan membuat hidrolisis amilum akan berlangsung lebih cepat, karena semakin tinggi suhu, aktivitas enzim pada suatu reaksi akan berlangsung lebih cepat. Namunpada saliva yang diinkubasi dengan suhu ruang dan yang diinkubasi pada waterbath mempunyai kisaran waktu yang sama yaitu 1 – 3 menit, seharusnya berdasarkan teori di atas, saliva yang diinkubasi pada waterbath memiliki waktu yang lebih cepat untuk beraksi. Hal ini mungkin terjadi kesalahan praktikan pada saat menghitung waktu. Reaksi yang terjadi pada saat uji iod dan amilum adalah terbentuknya warna biru. Untuk mengetahui apakah amilum telah terhidrolisa menjadi bentuk yang lebih sederhana, monosakarida atau oligosakarida, maka uji dilakukan hingga negatif.

Pada uji benedict hasil positif adalah terbentuknya warna hijau, kuning, jingga, dan merah. Uji benedict dilakukan untuk mengetahui adanya gula reduksi. Saliva pada tabung 1, 2, 3, dan 4 warnanya tetap biru yang berarti keempat tabung saliva tersebut tidak mengandung gula reduksi.

Pada percobaan reduksi nitrat dilihat berapa lama waktu yang diperlukan oleh enzim nitrat reduktase untuk mereduksi nitrat. Tabung 1 dan 3 diberi perlakuan pada waterbath dan pada tabung 2 dan 4 pada suhu ruang. Waktu yang dibutuhkan tabung 1,2, dan 4 adalah 6 menit, sedangkan tabung 3 adalah 12 menit. Seharusnya pada waterbath lebih cepat dari pada suhu ruang. Hal ini dapat disebabkan karena pengaruh suhu udara yang semakin meningkat. Buffer fosfat pada uji ini digunakan untuk memaksimalkan kerja enzim. NaNO3 sebagai substrat dalam uji ini. SA dan NED digunakan untuk mengetahui terjadinya proses reduksi nitrat dan membentuk warna pink.

Pada uji pengaruh pH terhadap aktivitas enzim digunakan sampel daun kepel yang dimasukkan ke dalam tabung film dengan penambahan buffer posfat dengan pH yang berbeda. Tabung film 1 buffer fosfatnya pH 5, tabung 2 pHnya 6, tabung 3 pHnya 7, tabung 4 pHnya 8 dan tabung 5 pHnya 9. Kemudian sampel diinkubasi, kemudian diambil flitratnya dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Kemudian filtrat ditambah 0,3 ml SA dan 0,3 ml NED kemudian ditambah 6 ml aquadest dan kemudian warna merah akan terbentuk. OD diukur dengan spektrofotometer dengan panjang gelombang 540nm. Hasil pengukuran absorbansi pada pH 5 sebesar 0,098 A dan ANRnya 2299,977. Pada pH 6 OD= 0,098 dan ANRnya 2299,977. Pada pH 7 OD = 0,062 dan ANRnya 1473,31. Pada pH 8 OD = 0,088 dan ANRnya 2089,97. Pada pH 9 OD = 0,091 dan ANRnya 2163,31. Penambahan SA dan NED untuk memberikan warna pink. NaNO3 digunakan sebagai substrat. Untuk mengukur absorbansi digunakan instrumen spektrofotometer. Berdasarkan grafik, pH optimumnya adalah

Pada uji pengaruh substrat menggunakan 15 tabung film yang masing – masing diisi daun kepel dan ditambah buffer fosfat  kemudian diinkubasi pada suhu ruang. Kemudian tabung I1, A1 dan T1 ditambah 0,1ml NaNO3 0,1M, tabung film I2, A2 dan T2 ditambah NaNO3 0,5M sebanyak 0,1ml. Tabung I3, A3 dan T3 ditambah NaNO3 1M sebanyak 0,1 ml. Tabung I4, A4 dan T4 ditambah NaNO3 1M sebanyak 0,1ml. Tabung I5, A5 dan T5 ditambah NaNO3 5M sebanyak 0,1ml. Pada tabung I1 – I5 diberi perlakuan buffer fosfatnya diganti dan ditambah HgCl2 0,01 % sebanyak 0,1 ml. Pada tabung A1 – A5 diberi perlakuan diganti buffer fosfatnya saja. Pada tabung T1  – T5 dibiarkan saja. Kemudian dilakukan seperti pada uji pengaruh pH. Pada uji ini dilakukan pengukuran absorbansi dengan  spektrofotometer. Hasil pembacaan spektro pada tabung film I1 sampai I5 berturut – turut OD dan ANRnya berturut – turut adalah 0,017 A; 0,019 A; 0,017 A; 0,020 A; 0,010 A. ANRnya 403,32 ; 449,99 ; 403,32 ; 473,32 ; 236,66.  Pada tabung A1 sampai A5 ODnya berturut – turut 0,080 A; 0,063 A; 0,047 A; 0,067 A; 0,049 A dan ANRnya berturut – turut 1899,98 ; 1496,65 ; 1116,65 ; 1589,98 ; 1163,32. Pada tabung T1 sampai T5 ODnya berturut – turut 0,112 A; 0,102 A; 0,097 A; 0,115 A; 0,051 A dan ANRnyaberturut – turut adalah 2659,97; 2399,97; 2303,31; 2733,30; 1209,98. Tujuan penggunaan tabung film ini agar tidak ada pengaruh cahaya dalam kerja enzim mengkatalisis substratnya. NaNO3 digunakan sebagai sustrat. Hasil perhitungan Vmax untuk I, A, T berturut-turut 61,72; 18,45 dan 11,35.Kmnya berturut – turut adalah 0,0079; 0,0474 dan 0,029.

KESIMPULAN

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :

1.      Enzim adalah substansi kimia organik yang dapat mempercepat reaksi kimia tanpa ikut serta dalam proses atau menjadi bagian dari produk yang terbentuk.

2.      Tes hidrolisis amilum ada 2 uji, uji iod yang dilakukan untuk mengetahui bahwa amilum telah terhidrolisis seluruhnya, menunjukkan hasil negatif yaitu berwarna kuning dan uji benedict menunjukkan hasil positif berwarna hijau, kuning, merah.

3.      Faktor yang mempengaruhi kerja enzim adalah suhu, pH, inhibitor dan konsentrasi substrat enzim.

4.      Nilai Vmax untuk I, A, T yang diperoleh berturut-turut adalah 61,72; 18,45 dan 11,35.

5.      Nilai Kmuntuk I, A, T yang diperoleh berturut – turut adalah 0,0079; 0,0474 dan 0,029.

6.      Enzim nitrat reduktase mereduksi nitrat menjadi nitrit hingga menjadi amonia.

7.      Pengaruh pH terhadap enzim mempengaruhi kecepatan reaksi katalitik dan pH optimal yang dimiliki enzim nitrat reduktase.

8.      Pengaruh substrat terhadap enzim adalah mempengaruhi kecepatan enzim, semakin banyak substrat, enzim bekerja dengan optimal sampai pada titik jenuh.

DAFTAR PUSTAKA

Aldi, 2010. Enzim II. http://agitoaldi.blogspot.com. 11 November 2010.

Anonim. 2009. Kepel. http://id.wikipedia.org. 11 November 2010.

Girindra. A. 1986. Enzim dalam Biokimia 1. Jakarta: Gramedia.

Kidd, B. 1992. Dasar-dasar karies penyakit dan Penanggulangannya. Jakarta: EGC.

Lehninger. 1990.  Dasar – dasar biokimia, jilid 1. Penerbit Erlangga. Jakarta.

Mulia, I. 2007. Enzim. http://metabolismelink.freehostia.com. 11 November 2010.

Page,D.S. 1989. Prinsip – prinsip biokimia. Edisi ke – 2. Erlangga. Jakarta.

Poedjiadi, A. 2006. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta: UI Press.

Salila, M. 2010. Laporan Biokimia Enzim. http://sukseskimia-sukseskimia.blogspot.com. 11 November 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s